NAMANYA FANDI SATRIA AJI (inspired by a true story)

Sarjana MIPA
Chapter #5

Chapter 5. SUCH A GENTLEMAN

Hari-hari berlalu. Ani sudah mulai melupakan rasa penasarannya pada doppelganger Tresno itu. Bel sekolah sudah berbunyi, itu artinya menandakan dua hal. Satu, artinya jam pulang bagi anak kelas dua dan tiga. Dua, artinya jam masuk bagi anak kelas satu. Koridor kantin penuh dengan manusia. Suara langkah kaki yang masif dan suara bising obrolan para murid perempuan yang saling bersahutan menghiasi suasana tengah hari yang terik itu.

Ada yang mengobrol baik-baik. Ada yang bernyanyi dengan nada sumbang dan nyaring. Ada yang bercanda sambil berteriak. Semuanya itu mempengaruhi mood Ani. Ani merasa suntuk berada di tengah keramaian ini. Mereka semua berjalan berdesakan menuju lantai dua. Ani terjebak di tengah-tengah. Suhu badannya meningkat, keringat bercucuran membasahi wajahnya yang kusam. Baju seragamnya sudah basah oleh keringat. Kepalanya serasa mau pecah.

Tiba-tiba dari arah berlawanan sepeda BMX masuk bertujuan membelah kerumunan. Para murid perempuan ini semakin saling mendorong menuju tangga. Ani melihat wajah pengendara BMX itu, ternyata dia adalah kembaran Tresno. Ani menghentikan langkahnya, sebab sepeda itu menghalangi jalannya menuju selasar tangga. Tatapan tajam ia arahkan pada sang pengemudi, sambil mulutnya komat-kamit merapalkan omelan, "Ini lagi orang satu, yang lain lagi pada rame desak-desakkan begini, maksa masuk pula dia pake sepedanya, bukannya berhenti. Turun kek, ditenteng gitu sepedanya." Bukannya tanpa alasan Ani merasa kesal, sebab gadis itu melihat di tengah keramaian ini si lelaki terus mengemudikan sepedanya jika ada celah jalan untuknya. "Gimana bisa kami yang rame ini jalan di samping sepedamu, kena setang sama jari-jari ban sepedamu lah kami nanti." Batin Ani.

Sebenarnya lontaran omelan itu tidaklah terlalu kuat terdengar, lagi pula suara Ani juga lumayan kalah dibandingkan dengan suara nyaring perempuan lainnya, dan kedua mata si pengemudi juga sedang memperhatikan murid yang lainnya. Namun karena Ani tepat berada di samping kanan sepeda, si pemilik sepeda sontak menoleh padanya, kemudian berinisiatif menurunkan kedua kakinya yang jenjang, menahan laju kendaraannya. BMX itu jadi diam di tempat.

Ani belum puas mengumpat. Ia sengaja berdiam diri sambil terus menatap tajam kembaran Tresno itu. Si pengemudi melihat kondisi di belakangnya, karena area di belakangnya kosong ia kemudian memundurkan sepedanya guna memberikan celah pada Ani agar gadis itu bisa lewat. Setelah Ani melihat usaha mengalah si pengemudi, ia pun lewat sambil tetap mengarahkan tatapan tajam saat posisi mereka saling berhadapan. Si pengemudi menatap balik wajah yang menghardiknya itu dengan sorot mata yang lemah karena merasa terintimidasi. Ia semakin memundurkan sepedanya agar celah semakin lapang biar sang gadis di depannya semakin mudah melangkah dan tak mengomelinya lagi. Selesai melewati pemuda kecil itu, Ani berbelok menuju selasar tangga, kemudian meniti anak tangga satu-persatu dengan langkah pendek karena masih berdesakan. Ani jadi menyesal telah menghardik lelaki itu. Panas udara siang dan kebisingan membuat emosinya mudah terpancing. Tapi dengan kejadian ini, Ani jadi tahu bahwa kembaran Tresno ini punya sifat mengalah. Diam-diam senyuman tipis terbit di wajahnya.

###

"Udah jam berapa?" Tanya Ani pada seorang teman perempuannya dari kelas lain.

"Jam dua belas kurang tujuh menit. Bentar lagi masuk nih." Jawab Vidya sambil melihat pada jam tangannya.

"Gua duluan ke atas ya. Gua liat temen gua udah pada dateng." Pamit Ani.

"Yoi... yoi." Sahut Vidya. Ia sendiri masih bertahan di kantin sebab ada beberapa teman perempuan sekelasnya yang baru saja tiba dan berkumpul di kantin itu, gadis berwajah Arab itu masih ingin mengobrol dengan teman-temannya.

Ani berjalan dengan kerepotan, tas punggungnya yang besar dan sedang memuat banyak buku itu membuat punggung gadis itu agak terbungkuk. Belum lagi buku paket perpustakaan yang ia peluk erat di sisi kiri tubuhnya.

Lihat selengkapnya