"PERBANDINGAN SENILAI. Perbandingan senilai adalah jika suatu besaran naik atau bertambah, maka yang lain juga ikut naik atau bertambah. Jika diketahui perbandingan a : b = x : y. Atau a/b = x/y, maka diperoleh persamaan: ay = bx." Ani mengeja dalam hati tulisan tangan Pak Santo di whiteboard sambil menulis di buku catatannya.
Pak Santo merupakan guru favoritnya dan favorit semua murid. Pak Santo adalah guru matematika yang lembut dan tak pernah sekali pun marah-marah. Ani selalu mencatat semua yang ditulis Pak Santo di papan tulis, baik itu teori maupun contoh-contoh penyelesaian soal. Tulisan Ani untuk catatan matematika ini sangat lah rapi. Gadis itu selalu membuat catatan matematikanya berwarna-warni. Semua rumus yang ia tulis dengan tinta hitam, kemudian ia beri kotak dengan tinta warna biru atau merah, selanjutnya ia tambahkan dengan goresan stabilo berwarna hijau. Catatan matematika itu ia buat sedemikian menarik agar lebih mudah untuk ia cerna. Namun, otaknya memang bukan dirancang untuk pelajaran matematika. Ia selalu kesulitan menghadapi pelajaran yang berhubungan dengan rumus perhitungan. Ia menyadari bahwa dirinya butuh les tambahan di luar jam sekolah oleh guru les yang profesional. Ia sering sekali ingin menangis jika berhadapan dengan soal-soal dari materi pelajaran yang menggunakan rumus perhitungan.
Bel istirahat berbunyi, Pak Santo mengakhiri jam pelajaran dengan ucapan salam, kemudian guru baik itu mempersilahkan murid-murid untuk ke luar kelas.
Ani ke luar dari ruangan kelasnya yang terasa sangat panas. Seperti biasa, ia berdiri di balkon depan kelasnya. Merenung sambil mengibas-ngibaskan kemeja bagian depannya guna mengurangi rasa gerah di badannya. Tanpa ia sadari di samping kanannya sudah berdiri Elsa, Ratih, Inah dan Hesti. Keempat perempuan itu juga merupakan teman sekelasnya. Empat gadis itu merupakan satu geng yang duduk di depan geng Ani, dan salah satu geng di kelasnya yang juga akrab dengan Ani.
Elsa, si paling tomboy tiba-tiba bersorak, "Woi ngapain pake sarung, abis sunatan ya?"
Kemudian disusul tawa oleh tiga gadis lainnya. Ani menoleh pada geng Elsa, untuk mengetahui siapa yang sedang mereka ejek. Geng yang terdiri dari perempuan-perempuan kalem itu sedang melihat pada seseorang di bawah mereka. Ani melihat pada objek itu. "Oalah, si kembaran Tresno lagi toh." Gumam Ani.
Lelaki tampan itu sedang berdiri di pojok lapangan tepat di bawah tatapan Ani. Lelaki itu sedang memakai sarung berwarna oranye bermotif kotak-kotak. Sepasang sepatu full hitam sudah melekat rapi di kedua kakinya.
Anggi anak kelas 1-1 yang sedang berdiri di samping kiri Ani juga ikut bersorak, "Gak pake celana ya? Awas burungnya terbang!"