Pale Gandong, 28 Januari 2026.
Sebenarnya … aku salah apa?
Enzi, mahasiswa kedokteran tahun kedua, tadinya hanya ingin menghabiskan liburan di rumah seorang teman, menikmati suasana pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tapi satu demi satu kesialan datang menghampirinya. Dan sekarang, ia malah terjebak di sebuah desa yang sama sekali tidak dikenalnya.
Padahal aku cuma mau liburan. Jauh dari rumah.
Enzi terus mengeluh dalam hati, sembari menatap tanah longsor di hadapannya. Gundukan tanah dengan tinggi sekitar dua meter, bercampur bebatuan dan pepohonan yang terbawa dari lereng, baru saja saja menutup satu-satunya akses keluar-masuk desa.
Kenapa aku sial sekali?
Satu lagi keluhan muncul dalam benaknya. Lalu satu lagi. seolah otaknya sedang sibuk menghitung seluruh kesialan yang membawanya sampai ke tempat ini.
“Longsor lagi …”
“Lagi??”
Spontan Enzi menoleh.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya. Beberapa menit yang lalu, pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Kepala Desa Pale Gandong.
Namanya Darman. Tapi lebih sering dipanggil Pak Kades.
Menurut penjelasannya tadi, ia mendapat telepon dari Catur—anak dari desa tetangga yang meminta tolong agar Enzi ditampung sementara karena Catur masih dalam perjalanan untuk menjemputnya. Pak Kades sebenarnya baru hendak menghampiri Enzi yang sedang duduk menggigil di halte ketika suara gemuruh dari arah pegunungan terdengar.
Dan sekarang, jalan di depan mereka sudah tertutup longsor.
Pria itu tidak cukup tinggi, sekitar 168 cm, dengan kulit sawo matang dan wajah yang terlihat berwibawa. Cara bicaranya pun terlihat ramah.
Namun, yang paling menarik perhatian Enzi adalah kumisnya. Tebal dan lebat. Sekilas, kumis itu mengingatkannya pada model iklan yang sering muncul di TV.
“Ini bukan pertama kalinya?” tanya Enzi.
Kini kepanikan mulai terasa.
Kalau longsor seperti ini biasa terjadi, berarti jalan di depannya mungkin tidak akan segera dibuka. Ia bahkan tidak lagi peduli tubuhnya sudah basah kuyup oleh hujan. Perhatiannya hanya tertuju pada gundukan tanah yang menghalangi jalan.
“Ya, lagi,” jawab Pak Kades dengan tenang. “Tiap musim hujan, seendaknya sekali tanah itu longsor.”
Dari arah desa, beberapa pria berusia sekitar enam puluhan datang dengan sedikit berlari. Mereka semua mengenakan jas hujan berwarna kuning.
Enzi sekilas merasa seperti sedang melihat sekumpulan anak TK yang baru pulang bermain. Kenapa jas hujannya sama semua?
Di tengah kepanikannya, ia masih sempat merasa geli.
“Longsor langganan ini lagi,” ujar salah seorang pria dengan nada datar.
“Kerjaan kita bakalan nambah lagi,” sahut yang lain.
Nada mereka tetap datar. Seolah tanah longsor yang menutup jalan adalah pekerjaan rumah yang baru saja ditambahkan ke daftar tugas harian.
Salah seorang pria kurus mendekati Pak Kades. Ia berniat berbisik, tetapi suaranya justru cukup keras untuk didengar semua orang. Tubuhnya kurus, sementara perutnya cukup buncit hingga terlihat seperti orang yang sedang mengandung.
“Sudah kubilang untuk bangun terowongan di sini, tapi pemerintah ndak mau dengar.”
“Uang dari mana?” sahut pria lain dari belakang.
“Kan kita bayar pajak,” balasnya cepat.
“Pajakmu cukup buat bangun terowongan?”
Pria buncit itu terdiam sebentar.
“Kalau cuma pajakku …” Ia menatap tanah longsor di hadapan mereka. “Ya, pasti ndak cukup. Tapi kalau pajak satu kota ini, mungkin cukup.”
Enzi mengembuskan napas panjang.
Ia tidak peduli soal pajak. Tidak peduli soal terowongan. Yang ia pedulikan hanya satu. Bagaimana caranya pulang?
“Pak … ini gimana saya pulangnya?” tanya Enzi dengan nada panik.
“Ya tunggu jalannya dibuka,” jawab Pak Kades datar.
“Kapan dibukanya?”
“Sampai bantuan datang.”
Enzi menatapnya.
Pak Kades melanjutkan dengan santai. “Orang-orang di desa ini ndak punya alat berat untuk membersihkan jalan. Satu-satunya alat berat yang kamu punya cuma traktor berukuran sedang.”
Harapan Enzi seketika mati. Traktor. Untuk membersihkan longsor sebesar ini? Ia mulai yakin bahwa dirinya akan terjebak di desa ini entah sampai kapan.
“Aku salah apa sampai sial begini …” gumamnya putus asa.