NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #2

LIBURAN ATAU BENCANA? PART 1

Enzi kembali ke kamarnya. 

Benaknya terus memutar berbagai kenangan tentang dirinya yang terasa berbeda dari kedua saudaranya. Tentang bakatnya yang tidak sehebat milik  Zera, dirinya yang tidak pandai berolahraga seperti sang kakak, hingga kecerdasannya yang terasa jauh dibandingkan Leon. 

Semakin sering benaknya membandingkan dirinya dengan kedua saudaranya, semakin sesak pula dadanya. Dan yang paling meresahkan, rumah tempat tinggal tak lagi terasa damai. 

Bangunan dua lantai dengan warna serba putih yang sudah ditinggalinya selama dua puluh tahun itu seharusnya menjadi tempat paling nyaman baginya. Namun, entah sejak kapan, rumah itu tidak lagi terasa hangat. Bukan karena kedua saudaranya selalu memamerkan keberhasilan mereka. Bukan pula karena orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan mereka. 

Justru sebaliknya. 

Ayah dan kakaknya sering membantu Enzi. Ayahnya kerap memberikan nasihat tentang kuliah. Zera dengan senang hati meminjamkan catatan-catatan kuliahnya dulu. Sementara Leon dan ibunya selalu memberikan semangat kepadanya. 

Tidak ada seorang yang bermaksud membuatnya merasa kecil. Tapi justru karena itulah Enzi semakin tidak tahu harus menyalahkan siapa. 

Aku capek hidup di tengah orang-orang hebat. 

Setelah kembali ke kamar, Enzi langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Kedua matanya menatap kosong langit-langit berwarna putih. 

Andai aku juga jadi orang hebat. 

Helaan napas panjang terdengar. 

Ia berguling ke samping, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Dengan beberapa sentuhan jari, Enzi mulai membuka media sosial dan mulai melihat kegiatan beberapa temannya selama libur semester. 

Beberapa sudah pergi ke luar negeri. Ada yang berfoto sambil berbelanja. Ada yang mengunggah perjalanan ke taman hiburan. Ada pula yang memamerkan makanan yang baru mereka coba. 

Beberapa lainnya mengunggah perjalan mereka menuju tempat liburan. Ada yang memperlihatkan pemandangan dari dalam pesawat, ada pula yang merekam perjalanan menggunakan mobil bersama teman-temannya. 

Liburan, ya …

Melihat teman-temannya tampak bahagia dalam berbagai unggahan itu, Enzi kembali teringat dengan usulan ayahnya saat sarapan tadi. 

“Kasih tahu Ayah kalau kamu sudah punya tujuan liburan. Enggak harus ke luar negeri. Yang penting kamu liburan. Semester kemarin kamu juga enggak sempat liburan karena membantu Ayah dan kakakmu.” 

Untuk pertama kalinya pagi itu, Enzi mulai mempertimbangkan keinginan untuk pergi. Masalahnya, ke mana ia harus pergi? 

Sebenarnya ada banyak tempat yang bisa ia datangi. Namun, Enzi tidak ingin bertemu dengan teman-temannya dan kembali mendengar ocehan mereka mengenai keluarganya. Di sisi lain, ia juga tidak ingin pergi sendirian ke tempat yang ramai. 

Benaknya sudah terlalu penuh. 

Ia hanya ingin berada di tempat yang berbeda. Tempat yang mungkin bisa membuat kepalanya sedikit lebih tenang. 

Jemari Enzi yang sejak tadi menggulir layar tiba-tiba berhenti. Matanya membesar ketika melihat sebuah unggahan dari satu-satunya teman yang ia kenal dari jurusan kedokteran hewan. 

Namanya Catur. 

Mereka berada di angkatan yang sama. Enzi mengenal Catur sejak mereka masih menjadi mahasiswa baru. Catur merupakan anak dari luar provinsi yang tinggal di sebuah kos kecil di Metraya. Dua tahun lalu, ketika mereka baru masuk kuliah, Catur mengalami masalah dengan motor tuanya. Motornya mogok dan hampir membuatnya terlambat mengikuti kuliah. 

Enzi yang kebetulan melihat kejadian itu awalnya hanya berniat membantu sebagai sesama mahasiswa baru. Namun, Catur ternyata bukan orang yang mudah melupakan kebaikan orang lain. Meski hanya sekali ditolong, ia menganggap Enzi sebagai orang yang sudah membantunya sekaligus sebagai teman. 

Setiap kali berpapasan, Catur tidak pernah segan menyapa Enzi dengan hangat. 

Dua tahun berlalu, sikapnya tetap sama. Kebetulan, sebelum libur semester dimulai, Enzi kembali berpapasan dengannya. Saat itu, Catur bercerita bahwa ia hendak pulang ke rumah orang tuanya di Provinsi Nusaraya, provinsi yang letaknya bersebelahan dengan Navantara, tempat Enzi tinggal. Ia bahkan sempat menawarkan Enzi untuk datang berlibur ke rumahnya. Sebagai teman. 

Unggahan yang dilihat Enzi sekarang memperlihatkan Catur yang sedang menggembalakan kambing, dengan latar pedesaan yang hijau dan asri. 

Enzi menatap foto itu cukup lama. 

Mungkin suasana desa seperti itu memang yang sedang ia butuhkan. Tempat yang jauh dari keramaian. Jauh dari teman-temannya. Dan jauh dari semua pembicaraan tentang keluarga dan prestasi. 

Tanpa ragu, Enzi membuka percakapan dengan Catur dan mengirim pesan mengenai rencana berliburnya ke kampung halaman temannya itu. 

Tidak sampai beberapa menit, pesan tersebut dibalas. 

Catur mengatakan bahwa ia akan senang jika Enzi mau berkunjung ke rumahnya di sebuah desa kecil di pinggiran Kota Seranusa. Ia juga mengirimkan alamat lengkap beserta petunjuk perjalanan menuju ke sana. 

Setelah memeriksa rute menuju Seranusa dan mempertimbangkan pilihan transportasi yang menurutnya paling nyaman, Enzi akhirnya mengambil keputusan. Ia akan berlibur di rumah Catur. 

Lihat selengkapnya