NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #3

LIBURAN ATAU BENCANA? PART 2

Perjalanan dari Kota Metraya, Provinsi Navantara, menuju Kota Seranusa, Provinsi Nusaraya, membutuhkan waktu sekitar delapan jam dengan kereta cepat. Jika menggunakan kereta biasa, perjalanan bisa memakan waktu hingga sepuluh jam. 

Menurut instruksi Catur, setelah tiba di stasiun pusat KOta Seranusa, Enzi perlu naik bus kota menuju Terminal Lembah Rumaela, sebuah terminal di pinggiran kota. Perjalanan dengan bus sekitar tiga puluh menit. Dari sana, perjalanan terakhir menuju Desa Nyimah harus ditempuh menggunakan mobil angkutan selama sekitar empat puluh menit. 

Sejujurnya, perjalanan itu terdengar cukup melelahkan bagi Enzi. 

Kereta cepat seharusnya nyaman. Bus kota juga sepertinya tidak akan menjadi masalah. Tapi mobil angkutan? Enzi bahkan belum pernah menaikinya. 

Sejak kecil, ia hanya terbiasa naik kereta metro, bus kota, atau mobil jemputan keluarga. Ia memang pernah bersepeda, tetapi hanya di sekitar kompleks perumahan. Becak, bentor, bajaj, ataupun mobil angkutan umum? Tidak pernah. Jadi, naik mobil angkutan akan menjadi pengalaman pertamanya. 

Untungnya, perjalanan delapan jam dengan kereta cepat terasa lebih singkat daripada yang ia bayangkan. 

Enzi menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk santai, memandangi pemandangan sepanjang perjalanan, mengambil beberapa foto dengan ponselnya, lalu mengirimkannya kepada ibunya. Beberapa foto juga ia unggah ke media sosial. Sesekali, ia makan makanan yang memang sudah disediakan sebagai fasilitas kereta cepat. 

Tanpa terasa, waktu berlalu. Pukul 14.00 WIB, Enzi akhirnya tiba di Kota Seranusa. 

Begitu kakinya menginjak peron, ia langsung merasakan perbedaan udara. Angin terasa lebih dingin daripada di Kota Metraya. Matahari juga tidak terasa seterik biasanya. Seranusa tetap merupakan kota yang cukup ramai, tetapi keramaiannya tidak sepadat Kota Metraya. Kota ini bukan kawasan industri besar dan jumlah penduduknya juga tidak sebanyak kota tempat tinggal Enzi tinggal. 

Begitu keluar dari stasiun, Enzi langsung mencari bus yang menuju Terminal Lembah Rumaela. Ia hanya perlu menunggu sekitar sepuluh menit sebelum bus yang dimaksud tiba. 

“Terminal Lembah Rumaela?” tanya Enzi kepada kernet. 

“Iya, Mas.” 

Enzi naik dan memilih tempat duduk dekat jendela. 

Sesuai perkataan Catur, perjalanan menuju terminal memakan sekitar tiga puluh menit. Dan setelah itu, tibalah bagian yang paling membuat Enzi ragu. 

Mobil angkutan. 

Di luar terminal, beberapa mobil angkutan berjajar menunggu penumpang. Para kernet berdiri di samping kendaraan sambil berteriak menawarkan tujuan. 

“Desa Nyimah! Desa Pale Gandong!” 

“Desa Basudara!” 

Mendengar kata Desa Nyimah, Enzi langsung menyeret koper berukuran sedang miliknya dan menghampiri sebuah mobil jenis Carry. 

Ia berhenti. 

Mobil itu tampak seperti sudah melewati usia pensiun beberapa tahun. Cat merahnya sudah memudar dimakan usia. Beberapa bagian badannya juga terlihat kusam dan penuh goresan. 

Enzi menatap mobil itu. Lalu menatap mobil di sebelahnya. Kemudian mobil yang lain. Ternyata semuanya memiliki penampilan yang kurang lebih sama. 

Oke. Ini pasti memang standar mobil angkutan di sini. 

“Pak. Ke Desa Nyimah?” tanya Enzi sopan. 

“Iya, Mas.” 

Setelah menimbang cukup lama, Enzi akhirnya menyerah pada keadaan. 

“Naik saja, Mas,” ujar kernet muda yang usianya mungkin tidak jauh darinya. “Tunggu penuh dulu. Habis itu kita berangkat.” 

Enzi naik. Kernet itu membantu mengangkat kopernya ke dalam mobil. Karena mobil masih kosong, Enzi diminta duduk di bagian paling dalam. Dan di situlah sumber kesialan pertama Enzi dimulai. 

Tidak lama kemudian, sekelompok ibu-ibu berusia sekitar lima puluhan datang. Mereka membawa keranjang sayur berukuran besar di punggung masing-masing. Isinya bermacam-macam—sayuran, buah-buahan seperti pisang dan mangga, bahkan beberapa di antaranya membawa daging. 

Satu persatu mereka masuk ke dalam mobil. Enzi mulai merasa tidak nyaman. Tujuh orang. Tujuh ibu-ibu. Dan semuanya membawa keranjang. Dalam hitungan menit, Enzi sudah terjepit di bagian paling dalam. 

Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Bau keringat, sayuran, daging, dan berbagai aroma pasar bercampur menjadi satu. Perut Enzi langsung bergejolak. 

Oh … 

Ia buru-buru membuka jendela di sampingnya sedikit. Udara segar masuk. Sedikit membantu. Tapi tidak cukup. Perut Enzi memang tidak pernah terlalu bersahabat dengan bau-bauan tajam. 

Sebenarnya, ia ingin turun dan menunggu mobil berikutnya. Masalahnya, ia duduk di bagian paling dalam. Kalau ingin keluar, ia harus meminta semua orang bergeser. 

Saat mulutnya baru saja hendak terbuka meminta tolong, mobil sudah mulai bergerak. 

Ya sudah … 

Mau tidak mau, Enzi berusaha menahan rasa mual yang terus mengaduk perutnya. 

Lima menit berlalu. Lima menit yang terasa seperti lima menit. Mobil berhenti di beberapa tempat. Beberapa penumpang turun, tetapi penumpang lain segera naik menggantikannya. Dan anehnya, bau yang dibawa para penumpang baru tidak jauh berbeda. Seolah-olah bagi mereka, semua itu adalah hal biasa. 

Lihat selengkapnya