“Masuk, Nak.”
Sepanjang jalan dari gapura pintu masuk desa hingga rumah milik kepala desa, pria tua berkumis lebat itu bercerita bahwa Catur sempat menghubunginya. Karena hujan turun sangat deras, Catur meminta tolong agar Enzi diberi tempat berteduh sementara ia menyusul.
Namun sekarang, Catur jelas tidak akan bisa menjemputnya. Longsor sudah menutup satu-satunya jalan yang bisa dilewati keluar masuk desa.
“I-iya, Pak,” jawab Enzi canggung.
Ia tidak langsung masuk ke dalam rumah karena pakaiannya basah. Beruntung, jaket yang dikenakannya berbahan waterproof sehingga sebagian tubuh dan ponselnya terlindungi dari hujan yang sejak tadi tidak kunjung berhenti.
Rumah kepala desa berada tidak jauh dari gapura. Jaraknya hanya sekitar lima ratus meter. Bangunan dua lantai itu tampak sederhana. Dindingnya berwarna coklat, sekilas menyerupai warna kayu, dengan banyak jendela yang masing-masing memiliki dua lapis penutup—kaca dan kayu. Di bagian depan terdapat terdapat teras yang cukup luas dengan beberapa kursi untuk menerima tamu.
“Masuk saja …” ulang Pak Kades lagi. “Langsung masuk ke kamar mandi di belakang. Kamu harus ganti baju kalo ndak mau masuk angin.”
Enzi mengikuti instruksi dari kepala desa.
Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang basah, lalu berjalan cepat menuju ke kamar mandi di bagian belakang rumah. Untuk tiba di sana, ia harus melewati tiga ruang yang terhubung langsung tanpa sekat: ruang tamu, ruang keluarga, lalu dapur yang sekaligus menjadi ruang makan.
Sekilas, matanya mengamati ruangan-ruangan yang dilewatinya. Sebagian besar perabotan terbuat dari kayu dengan model klasik. Sederhana, tetapi memberikan kesan hangat dan sedikit antik.
“Bu …” panggil Pak Kades agak keras. “Air panasnya ada, kan?”
“Ada, Pak,” jawab sang istri yang sedang menyiapkan minuman hangat. “Ambil di luweng, Pak.”
Pak Kades kemudian mengambil sebuah ember berukuran sedang dan membawanya ke bagian belakang rumah. Di sana terdapat dapur lain yang terpisah dari dapur utama. Sebuah tungku besar yang sudah dilapisi keramik sehingga terlihat lebih rapi. Cerobong asap menjulur ke atas, sementara api di dalam tungku masih berasal dari kayu bakar.
Pak Kades mengambil beberapa gayung air panas yang mengepul, lalu menuangkannya ke dalam ember. Setelah itu, ia membawanya ke salah satu dari dua kamar mandi yang berada tidak jauh dari dapur.
“Mandi pakai air hangat …” katanya. “Biar ndak masuk angin.”
“I-iya, Pak.”
Enzi buru-buru membuka kopernya, mengambil baju ganti dan peralatan mandinya, lalu segera menutupnya kembali.
“Baju basahmu, taruh di ember sana …” ujar Pak Kades sembari menunjuk ember besar di dekat pintu kamar mandi.
Enzi menoleh.
“Apa di sini enggak ada laundry, Pak?” tanyanya polos. “Biar saya laundry saja baju yang kotor.”
Alis kades itu naik sedikit. “Ndak ada.”
“Oh.”
“Semua orang cuci baju sendiri-sendiri.”
Enzi hanya bisa menghela napas.
Rumah tempatnya berteduh memang kelihatan nyaman. Namun, hampir semua hal di dalam rumah ini dilakukan secara manual. Tidak ada shower. Tidak ada water heater. Untuk mandi dengan air hangat, mereka harus mengambil air dari tungku kayu bakar. Tidak ada mesin cuci. Pakaian kotor harus dicuci dengan tangan.
Bagi Enzi, semua itu terdengar seperti cara hidup dari jaman yang jauh berbeda.
Ia masuk ke kamar mandi. Air dingin dari bak besar kemudian dicampurkannya ke dalam ember berisi air panas sampai suhunya terasa cukup. Setelah itu, mulai membersihkan diri.
Sambil mandi, pikirannya kembali melayang.
Kalo jalan belum dibuka … aku harus tinggal di sini berapa lama?
Lima belas menit kemudian, Enzi selesai.
Begitu membuka pintu, ia mendapati Pak Kades sudah menunggunya di dekat tungku yang apinya masih menyala.
“Sudah?” tanyanya datar.
“Sudah,” jawab Enzi cepat.
“Ayo ikut Bapak.” Pak Kades berbalik. “Sekalian bawa kopermu.”
Enzi mengangguk pelan. Ia masih tidak tahu untuk apa koper itu harus dibawa.
Pak Kades berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah. Mereka melewati ruang makan dan ruang keluarga. Di sana, seorang anak kecil yang cukup menggemaskan sedang tertidur pulas bersama seekor kucing putih yang gemuk.