NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #5

KELUARGA PAK KADES PART 2

Sore berlalu dengan cepat dan berganti menjadi malam. 

Setelah selesai membersihkan diri, Enzi diperkenalkan kepada istri Pak Kades. Namanya Utari. Usianya sudah enam puluh tahun. 

Dengan ramah, perempuan itu mengantarkan secangkir teh hangat sebagai bentuk sambutan. Enzi menerimanya dengan kedua tangan, lalu memperkenalkan dirinya. Ia juga tidak lupa meminta maaf karena mungkin akan merepotkan keluarga itu selama beberapa hari ke depan. 

“Ndak papa kok, Nak,” jawab Utari dengan senyum hangat. 

Senyum itu, ditambah cara bicaranya yang lembut, sekilas mengingatkan Enzi pada nenek yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. 

“Kami biasa nerima tamu kalau ada yang datang ke desa ini,” lanjut Utari. “Jadi kamu ndak usah sungkan.” 

Enzi mengangguk. Kemudian ia teringat sesuatu. 

Bekal dari ibunya. 

Sejak meninggalkan rumah pagi tadi, makanan itu belum sempat disentuh sama sekali. Kesialan demi kesialan yang terjadi sepanjang perjalanan membuatnya bahkan tidak sempat memikirkan bekal tersebut. 

Enzi mengambil kotak bekal dari tasnya. 

“Kalau Ibu enggak keberatan,” ucapnya gugup.. “Ini masakan buatan Ibu saya. Bisa buat makan malam. Tinggal dihangatkan saja.” 

Utari menerimanya dengan senyum. 

“Kalau gitu, biar Ibu hangatkan buat tambahan makan malam nanti. Kita makan bersama-sama.” 

Enzi menggaruk kepala. Ada rasa senang sekaligus haru karena pemberiannya diterima begitu saja. 

“Iya, Bu.” 

Setelah percakapan singkat itu, Enzi kembali ke kamarnya. 

Ia duduk di tepi ranjang sambil menikmati teh hangat yang sedikit manis. Dari jendela, hujan masih terlihat hujan dengan deras. 

Beberapa kali Enzi memeriksa ponselnya. Ia melihat pojok kanan atas layar. Satu hal yang sama masih tertulis di sana: Tidak ada layanan. 

Enzi menghela napas. Bagus. Sampai sinyal pun pergi tinggalin aku. 

Karena mulai bosan, pandangannya kemudian berkeliling kamar. Di salah satu sudut ruangan, ia melihat beberapa tumpukan buku yang diikat menggunakan tali. 

Enzi bangkit dan menghampirinya. 

Ia membuka ikatan tali tersebut, lalu memeriksa satu persatu sampul buku. Sebagian besar membahas peternakan, perkebunan, pengelolaan hasil panen, sampai cara menjual hasil kebun dan ternak. 

Enzi membalik beberapa halaman. Lalu menutup salah satunya. Menurutnya, buku-buku itu membosankan. Hampir semuanya membahas pekerjaan yang membutuhkan tenaga, ketelitian, dan kesabaran. Tiga hal yang rasanya tidak terlalu cocok dengannya. 

Mbak Zera, mungkin suka. 

Kakaknya itu memang punya energi yang seolah tidak pernah habis. 

Enzi mengembalikan buku-buku itu ke tempat semula. Tidak menemukan hal lain yang menarik, ia akhirnya kembali ranjang. Ia berbaring di atas seprai berwarna biru dongker. 

Hujan masih terdengar dari luar. Suara itu perlahan membuat matanya berat. Tanpa sadar, Enzi tertidur. 

***


Tok. Tok. 

Mata Enzi yang terpejam perlahan terbuka ketika mendengar ketukan di pintu kamar yang setengah tertutup. 

“Ehm …?” 

Suaranya lirih dan masih terdengar setengah sadar. 

“Ayo makan malam.” 

Enzi mengangkat kepala. Di depan pintu sudah berdiri Pak Kades. Ia mengenakan pakaian serba batik dengan jaket hitam di bagian luar. 

“Oh …” 

Enzi menoleh ke arah jendela. Langit di luar sudah benar-benar gelap. Begitu turun dari ranjang, hawa dingin langsung menyergap tubuhnya. 

“Uwah, dingin sekali …” 

Kedua tangannya segera menggosok lengan. 

“Di sini kalau malam memang dingin,” ujar Pak Kades. “Apalagi habis hujan.” 

Ia kemudian menambahkan dengan nada datar. 

“Nanti kalau mau tidur, jalan lupa pakai jaket sama kaos kaki.” 

Enzi mengangguk. “Iya, Pak.” 

Ia turun dan ranjang dan hendak berjalan tanpa alas kaki.

“Pakai sandal ini selama tinggal di sini.” 

Pak Kades meletakkan sepasang sandal rumah di depan pintu. 

Enzi menatap sandal itu sejenak. Lalu buru-buru memakainya. Sandal itu memang sederhana, tetapi cukup untuk membuat telapak kakinya terasa jauh lebih hangat dibandingkan berjalan tanpa alas kaki. 

“Ma-makasih banyak, Pak.” 

“Ayo makan.” 

Pak Kades berbalik menuju tangga. Enzi mengikutinya dari belakang. Begitu sampai di ruang makan, ia langsung disambut Utari. 

Di meja makan juga sudah duduk seorang anak kecil yang tadi sore ia lihat tertidur di ruang keluarga bersama seekor kucing putih gemuk. Kucing itu sekarang sudah selesai makan dan duduk santai di lantai. 

“Ini cucu Bapak,” ujar Pak Kades sembari menarik kursinya. “Namanya Cintia.” 

Lihat selengkapnya