Jam baru menunjukkan pukul tujuh malam ketika Enzi kembali ke kamarnya. Ia membuka jendela yang menghadap ke bagian depan rumah. Dari sana, ia bisa melihat sebagian Desa Pale Gandong.
Jumlah rumah di desa itu tidak terlalu banyak. Jarak antara satu rumah dan rumah lainnya juga cukup jauh. berbeda dengan kota, tempat rumah-rumah sering berdiri berdempetan, terutama di kawasan yang padat penduduk.
Penerangan di desa itu pun tidak banyak. Lampu-lampu berwarna kuning temaram hanya terpasang di beberapa titik, dengan jarak beberapa ratus meter satu sama lain. Cahayanya tidak cukup untuk menerangi seluruh jalan.
Satu-satunya jalan yang terlihat dari tempat Enzi berdiri membentang di antara rumah-rumah penduduk. Lebarnya kira-kira hanya cukup untuk dilalui satu mobil. Jalan itu menjadi penghubung utama bagi rumah-rumah dan kebun yang tersebar di seluruh desa.
Di kejauhan, Enzi bisa melihat beberapa petak kebun. Bentuknya tampak seperti bidang-bidang gelap yang teratur. Ia tidak bisa memastikan apa yang tumbuh di sana. Mungkin sayuran. Mungkin buah-buahan. Ia bahkan tidak tahu apakah ada perbedaan di antara keduanya dari tempat sejauh itu.
Angin berembus pelan.
Meski gerimis masih turun tipis, Enzi samar-samar mendengar suara beberapa hewan seperti jangkrik dan katak dari kejauhan. Suara seperti itu hampir tidak pernah ia dengar di kota. Di sana, suara kendaraan, mesin, orang-orang berbicara, dan berbagai kesibukan lain seolah tidak pernah benar-benar berhenti.
Enzi bersandar di dekat jendela.
Angin menerpa wajahnya. Udara malam terasa dingin, tetapi juga menyejukkan. Entah kenapa, ia justru merasa nyaman.
“Yah …” gumamnya lirih. “Senggaknya di tengah kesialan ini, aku masih bisa menikmati sedikit liburanku.”
Bersama dengan embusan angin, pikirannya kembali pada makan malam pertamanya bersama keluarga Pak Kades.
Suasananya tidak jauh berbeda dengan makan malam di rumahnya. Ada makanan di atas meja. Ada orang-orang yang berbincang. Ada candaan kecil. Ada kehangatan. Tapi tetap saja, Enzi merasa ada sesuatu yang berbeda.
Ia mencoba mengingat percakapan mereka.
“Nak Enzi umur berapa?” tanya Utari di tengah makan malam. “Apa sebaya dengan Nak Catur?”
Enzi yang sedang mengunyah makanannya segera menelan makanannya sebelum menjawab. “Iya, Bu. Saya sebaya sama Catur. Kami kuliah di kampus yang sama. Catur di jurusan dokter hewan, sementara saya di jurusan kedokteran.”
“Punya saudara?” tanya Utari lagi.
Matanya tampak berbinar setiap kali Enzi menjawab pertanyaannya.
“Punya. Saya tiga bersaudara. Saya anak tengah. Punya kakak perempuan dan kakak laki-laki.”
“Oh … Kakaknya sudah kerja?”
Pertanyaan berikutnya muncul begitu saja. Enzi menjawab. Kemudian Utari bertanya lagi tentang adiknya. Tentang ayahnya. Tentang ibunya.
Percakapan itu terus mengalir.
Pak Kades dan dan Cintia lebih banyak mendengarkan. Sesekali Pak Kades ikut menyahut, sementara Cintia hanya berbicara kalau ada sesuatu yang menurutnya menarik.
Utari memang banyak bertanya. Namun, ia tidak pernah bertanya siapa yang paling pintar. Tidak bertanya siapa yang paling berprestasi. Tidak bertanya nila Enzi berapa. Tidak bertanya apakah kakaknya lebih hebat darinya. Ia hanya ingin tahu tentang keluarganya.
Dan anehnya, Enzi tidak merasa perlu memilih-milih jawaban.
Setelah beberapa lama, gantian Enzi yang bertanya tentang keluarga itu. Ia mengetahui bahwa Utari mengurus rumah dan banyak membantu warga. Pak Kades mengurus berbagai urusan desa. Cintia masih sekolah dasar dan lebih sering menghabiskan waktu bermain bersama kucing putihnya.
Angin kembali berembus.
Enzi mendongakkan kepala.
Gerimis telah berhenti sepenuhnya. Awan gelap yang sejak tadi menutupi langit perlahan bergers, memperlihatkan bagian langit yang sebelumnya tidak terlihat. Kemudian, satu titik cahaya muncul. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.
Bintang.
Enzi terdiam. Matanya perlahan berbinar. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan mengangkatnya ke arah langit. Klik. Satu foto. Ia mengambil satu lagi. Klik.
Kali ini, ia tersenyum kecil. Langit malam di kota tidak pernah terlihat seperti ini.
Enzi kembali menatap ke atas.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di sana tanpa memikirkan apapun. Namun, ketika senyumnya perlahan menghilang, ia menyadari ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dirinya. Ia tidak tahu apa. Mungkin karena tempat asing yang sekarang ada di hadapannya. Mungkin karena keluarga yang baru dikenalnya beberapa jam lalu sudah membuatnya merasa cukup nyaman. Atau mungkin karena liburan yang sejak awal ia bayangkan akan berjalan biasa saja, justru berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Enzi tidak tahu. Ia hanya menghela napas sembari berharap.
Semoga saja jalan itu cepat terbuka.
Keesokan paginya.
Kukuruyuk …
Mata Enzi mengerjap beberapa kali ketika mendengar suara ayam jantan berkokok. Ia bukannya tak biasa bangun pagi. Hanya saja, sejak dini hari suara ayam itu terus mengganggu tidurnya. Ditambah lagi, ranjang yang ukurannya lebih kecil daripada tempat tidurnya di rumah, membuat Enzi sulit bergerak sejak semalam.
Ia menatap langit-langit kamar.
Apa sudah pagi?
Enzi kemudian melirik ke arah jendela yang ditutupi oleh tirai tipis berwarna putih. Dari celahnya, terlihat warna langit yang tidak lagi hitam pekat seperti semalam.
Jalan itu … apa sudah bisa aku lewati?
Sembari bangkit dari ranjang, sebuah harapan kecil muncul di benaknya.
Ia mengembuskan napas. Udara pagi di desa terasa berbeda dari udara kota. Lebih segar, tetapi juga lebih dingin hingga terasa menusuk ke kulit. Bahkan semalam, Enzi sampai harus menggunakan dua jaket agar tubuhnya tetap hangat ketika tidur.