NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #7

ANAK KOTA PART 2

Enzi tersenyum. Ayam-ayam itu terlihat ramah. 

Ini tugas yang mudah. Cukup ambil telurnya. 

Ia masuk ke dalam kandang dan mulai memeriksa satu persatu sarang. Satu telur. Dua telur. Tiga telur. Enzi mulai percaya diri. Namun, ketika ia hendak mengambil telur berikutnya, suasana kandang mendadak berubah. 

Ayam-ayam yang sebelumnya sibuk makan berhenti bergerak. Satu persatu kepala mereka terangkat. Kemudian … semuanya menatap Enzi. 

Enzi berhenti. “Apa?” 

Tidak ada jawaban. 

“Kenapa kalian lihat aku?” 

Ayam-ayam itu tetap diam. 

Enzi mencoba mengabaikannya dan kembali mengambil telur. Namun, beberapa detik kemudian, ayam-ayam itu mulai bergerak. Satu ekor mendekat. Kemudian dua. Lalu beberapa ekor lainnya. 

“Apa?” 

Enzi mundur selangkah. Tapi ayam-ayam itu terus mendekat. 

“Aaaa!” Enzi langsung berbalik dan berlari. “Pak Kades! Tolong!”

Harusnya yang ia perlukan adalah segera keluar dari kandang. Tapi pikirannya terlalu sibuk dengan rasa takutnya, sampai lupa bagaimana caranya keluar dari situasi itu. 

“Pak Kades!!!” 

Enzi terus berlari. Ayam-ayam itu terus mengejarnya. Ia berbelok. Ayam-ayam itu ikut berbelok. Ia berlari ke kiri. Mereka ikut ke kiri. 

Di luar kandang, Pak Kades masih sibuk memperbaiki tanaman yang tadi dicabut Enzi. 

“Itu cuma ayam!” teriaknya. 

“Mereka mau menyerang saya, Pak!” 

Pak Kades akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Ia berjalan menuju kandang. Namun, bukannya langsung membuka pintu, ia justru berdiri di luar sambil memperhatikan Enzi berlari dari satu sisi ke sisi lain. Kepalanya bergerak mengikuti arah lari Enzi. 

“Ayam itu cuma mau melindungi telurnya,” katanya tenang. 

“Sama saja, Pak!” 

Enzi sudah tidak tahu berapa putaran yang ia lakukan di dalam kandang berukuran sekitar tujuh kali tujuh meter itu. 

“Nak Enzi …” panggil Pak Kades tenang. 

“Apa, Pak?” 

“Ini pintunya.” 

“...” 

Enzi menoleh. Pintu kandang itu hanya berjarak beberapa meter darinya. Ia berhenti berlari. Menatap pintu. Kemudian menatap Pak Kades. 

“Tinggal keluar saja,” lanjut Pak Kades. “Kenapa kamu harus lari-lari di dalam kandang?” 

Pak Kades membuka pintu. 

“Hush … hush …” 

Ajaibnya, ayam-ayam yang tadi mengejar Enzi langsung berhenti. Mereka kembali tenang dan melanjutkan aktivitas seperti tidak pernah terjadi apa-apa. 

Pak Kades masuk ke dalam kandang dan mulai mengambil telur dengan santai. Sementara itu, Enzi langsung melompat keluar. Kakinya gemetar. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. 

Langit masih belum benar-benar terang. Kabut pagi bahkan masih menggantung di sekitar desa. Namun, tubuh Enzi sudah basah oleh keringat seolah-olah ia baru saja berlari mengelilingi desa di bawah matahari terik. 

“Cck, cck …” Pak Kades mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepala. “Gimana kamu bisa masuk kuliah kedokteran, tapi ambil telur ayam saja ndak bisa?” 

Enzi membulatkan mata. 

“Pak, saya ini kuliah dokter untuk manusia, bukan dokter hewan.” 

Pak kades memasukkan telur terakhir ke dalam keranjang. “Bukannya sama saja?” 

Lihat selengkapnya