NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #8

DESA PALE GANDONG PART 1

Drama dikejar ayam akhirnya berakhir. Hasilnya, Enzi gagal mengambil telur.

Setelah sarapan dan membersihkan diri, Pak Kades kembali menyeret Enzi keluar rumah. Kali ini pria berkumis lebat itu mengajaknya berkeliling desa. 

“Kenapa kita harus keliling, Pak?” 

“Biar kamu kenal semua orang-orang di sini.”

“Memangnya harus semua?” 

“Kalau kamu tinggal di sini beberapa hari, iya.” 

Enzi menghela napas. Ia mulai curiga bahwa tinggal di desa ini akan jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. 

Begitu keluar dari rumah, Enzi langsung melihat beberapa pria—mulai dari pemuda hingga pria paruh baya—berjalan menuju ke arah jalan utama sambil membawa cangkul, sekop, dan berbagai peralatan lainnya. Dari arah yang mereka tuju, Enzi bisa menebak ke mana mereka hendak pergi. 

“Mereka …” 

“Ya,” potong Pak Kades, seolah sudah tahu apa yang ingin ditanyakan Enzi. “Mau ke longsor.” 

“Buat apa?” 

“Kerja.” 

Kening Enzi mengerut. “Bukannya kemarin Pak Kades bilang longsor itu enggak bisa dibersihkan tanpa alat berat?” 

“Ya. Tanpa alat berat, longsor itu memang ndak akan selesai.” 

Pak Kades terus berjalan menyusuri jalan setapak yang cukup lebar untuk dilewati satu mobil. Di kanan dan kiri, terbentang petak-petak kebun yang dipenuhi berbagai macam sayuran. 

“Tapi diam berpangku tangan,” lanjutnya, “juga bukan cara yang benar.” 

Enzi terdiam. 

Jawaban Pak Kades terdengar sederhana. Tidak ada kata-kata besar atau penjelasan panjang. Mereka hanya akan melakukan apa yang bisa dilakukan sambil menunggu bantuan datang. 

Pak Kades kemudian mulai bercerita tentang Desa Pala Gandong. Desa itu dihuni kurang dari dua ratus orang. Sebagian besar warga adalah orang-orang tua berusia sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sisanya adalah orang-orang usia produktif dan anak-anak. 

Kebanyakan warga bekerja sebagai petani dan peternak. Mereka menanam kentang, wortel, kubis, kubis, brokoli, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Sebagian memiliki peternakan sapi dan bebek yang jumlahnya cukup banyak. 

Enzi mendengarkan sambil terus mengikuti langkah Pak Kades. Matanya sesekali bergerak ke kanan dan kiri, berusaha mengingat setiap bagian dari desa asing yang secara tidak sengaja ia datangi. Sekilas, ia harus mengakui bahwa desa itu indah. Udara pagi terasa sejuk. Kebun-kebun di sepanjang jalan terlihat hijau dan segar. Dari beberapa tempat, Enzi bahkan bisa melihat lereng pegunungan yang tertutup kabut tipis. 

Ia teringat pada keluarganya. 

Kalau yang datang ke sini adalah Ibu atau Zera, mereka mungkin akan senang melihat pemandangan seperti ini. 

Langkah Pak Kades sedikit melambat. 

Setelah berjalan sekitar lima menit, mereka tiba di sebuah rumah yang memiliki warung kecil di bagian samping dan halaman luas di depannya. Halaman itu sedang dipenuhi banyak perempuan. Lebih dari setengahnya adalah nenek-nenek. Mereka berdiri berjajar sambil melakukan gerakan yang sekilas terlihat seperti senam pagi. Gerakannya teratur dan hampir serempak, seolah kegiatan itu sudah menjadi rutinitas. 

“Itu warung satu-satunya di desa,” kata Pak Kades sambil menunjuk bangunan di samping rumah. “Ndak besar, tapi hampir semua kebutuhan ada di sana.” 

Enzi mengangguk. 

Ia tidak terlalu memperhatikan waktu itu. Toh, ia tidak berencana tinggal lama. Begitu jalan sudah dibuka, ia akan segera pulang. 

“Selamat pagi.” 

Sapaan Pak Kades membuat semua orang berhenti bergerak. 

Serentak, para perempuan itu menoleh. Beberapa pasang mata langsung tertuju kepada Enzi. Sebagian lainnya mulai berbisik. 

“Pagi, Pak Kades.” 

“Saya mau mengenalkan Nak Enzi,” kata Pak Kades tanpa basa-basi. “Dia anak yang ndak sengaja terjebak di desa kita karena longsor. Untuk sementara, dia tinggal di rumah saya.” 

“Oh … si anak kota itu.” Seorang nenek bertubuh pendek dan agak gemuk langsung menunjuk Enzi. “Kenapa wajahmu, anak kota?” 

“Anak kota?” Pak Kades menyela. “Kenapa di panggil—” 

Tak ada satupun orang yang menjawab pertanyaan Pak Kades. Semua mata sedang tertuju kepada Enzi yang entah sejak kapan mendapat julukan “anak kota”. 

Enzi refleks menyentuh pipinya. “Kenapa memangnya, Nek?” 

“Merah-merah begitu.” 

“Ah … ini karena digigit nyamuk,” sela Pak Kades cepat. 

“Pak Kades ndak kasih obat nyamuk?” 

Beberapa nenek langsung mendekati Enzi. Tanpa sadar, mereka mengelilinginya. Ada yang memperhatikan pipinya. Ada yang melihat dahinya. Ada pula yang berkomentar bahwa kulitnya terlalu putih untuk seorang laki-laki. 

Enzi mundur satu langkah. Lalu, satu langkah lagi. Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang tampak menyadarinya. 

“Sudah saya kasih,” jawab Pak Kades. 

“Terus kenapa ndak dipakai?” tanya seorang nenek lain yang tubuhnya lebih besar. Rambutnya memang sudah memutih, tetapi dari posturnya, ia masih terlihat sanggup mencangkul seharian. 

“Katanya obat nyamuk ndak bagus buat paru-paru,” jawab Pak Kades. 

Nenek itu menatap Enzi. 

“Kalau obat nyamuk ndak dipakai, apa nyamuknya bagus buat paru-paru?” 

“...” 

Enzi mengerutkan kening. Pertanyaan itu sama persis dengan yang dilontarkan Pak Kades semalam. 

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap nenek tersebut. 

Kenapa jawaban orang-orang di desa ini sama semua?

Ia mulai curiga. Jangan-jangan mereka semua sudah sepakat sebelum dia datang. 

“Nenek-nenek sekalian …” 

Lihat selengkapnya