“Kwek … kwek …”
“Jaka!”
Pak Kades memanggil dari luar kandang.
Seorang pria yang sedang berada di tengah-tengah bebek menoleh. Pria itu sedikit lebih tinggi dari Pak Kades, mungkin sekitar 173 cm. Kulitnya sawo matang, tubuhnya terlihat atletis dengan lengan yang masih tampak berotot meski usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Rambutnya pendek dan sedikit bergelombang. Beberapa helai uban terlihat di antara rambut hitamnya.
“Mas Darman …”
Ia berjalan mendekat sambil mendorong gerobak sorong berisi karung yang kemungkinan besar merupakan pakan bebek. Senyum tipis muncul di wajahnya. Keringat membasahi wajah dan lengannya. Topi jerami bertengger di kepalanya, handuk menggantung di leher, dan sepasang sepatu boot terpasang di kakinya.
“Ini Nak Enzi,” kata Pak Kades tanpa basa-basi. “Anak yang ndak sengaja terjebak di desa kita. Sekarang tinggal di rumahku.”
“Oh … si anak kota itu.”
Enzi menghela napas. Sepertinya sebutan anak kota memang sudah melekat kepadanya tanpa pernah meminta ijin.
“Salam kenal, Pak.” Enzi mencoba tetap sopan. “Nama saya Enzi.”
“Salam kenal, anak kota.”
Enzi tersenyum tipis.
“Kenapa wajahmu merah begitu?” tanya Pak Jaka.
Enzi langsung tahu ke arah mana pembicaraan ini. Kali ini ia tidak mau membiarkan Pak Kades menjawab untuknya.
“Digigit nyamuk, Pak.”
Pak Jaka menoleh kepada Pak Kades. “Mas Darman ndak kasih obat nyamuk?”
Jangan lagi …
“Sudah,” jawab Pak Kades.
“Terus?”
“Katanya obat nyamuk bakar ndak baik buat paru-paru.”
Pak Jaka kembali menatap Enzi. “Lah, memangnya nyamuk bagus buat paru-paru?”
“...”
Enzi terdiam.
Untuk ketiga kalinya. Pertanyaan yang sama. Jawaban yang sama. Dan lagi-lagi, ia tidak punya jawaban yang bisa membuat dirinya terlihat benar. Bukan karena alasannya tidak masuk akal. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia memang tahu bahwa asap obat nyamuk bakar tidak baik jika terhirup terus-menerus. Masalahnya, nyamuk-nyamuk di desa ini rupanya tidak peduli dengan alasan medis.
“Kwek … kwek …”
Enzi memejamkan mata. Jangan-jangan seluruh isi desa memang sudah sepakat mempermalukanku.
“Kwek … kwek …”
Enzi membuka mata lagi. Perhatiannya beralih kepada kandang di hadapannya. Ia baru menyadari sesuatu. Kandang itu cukup besar, tetapi terlihat bersih dan tertata. Yang lebih mengejutkan, tidak ada bau menyengat seperti yang ia bayangkan.
“Pak boleh saya tanya?”
“Boleh,” jawab Pak Jaka.
“Kenapa kandangnya enggak bau?”
Pak Jaka tersenyum tipis. “Kamu sadar?”
Enzi mengangguk. “Setahu saya, kotoran bebek baunya cukup menyengat. Apalagi jumlahnya sebanyak ini.”
“Memang.” Pak Jaka menunjuk ke lantai kandang. “Makanya kandangnya dibuat supaya kotoran ndak menumpuk.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa kandang itu memang sengaja dibuat terbuka. Atapnya menjadi tempat berteduh, sementara bagian samping menggunakan jeruji sehingga udara bisa terus bergerak. Namun bagian yang paling penting justru lantainya. Lantai semen dibuat sedikit miring agar air dan kotoran mengalir ke satu arah. Setiap pagi, lantai disiram, disikat, lalu dibilas kembali. Air kotor tersebut tidak langsung dibuang, melainkan dialirkan ke tempat penampungan untuk diolah. Kotoran yang terkumpul kemudian dimanfaatkan kembali menjadi pupuk.
“Jadi kotoran bebeknya enggak dibuang?” tanya Enzi.
“Buat apa dibuang kalau masih bisa dimanfaatkan?”