NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #10

PENGALAMAN PERTAMA PART 1

Setelah beristirahat sebentar, Pak Kades ikut terjun membersihkan tanah longsor sebisanya. Ia membawa sekop dan gerobak sorong, lalu berjalan menuju jalan yang tertutup tanah dan batu. 

Sementara itu, Cintia harusnya bersekolah di desa tetangga. Namun karena akses keluar-masuk Desa Pale Gandong tertutup longsor, ia dan anak anak-anak lain terpaksa belajar sementara di gedung perkumpulan. 

Di desa itu ada dua orang perempuan yang bekerja sebagai guru. Biasanya mereka ikut berangkat ke desa tetangga untuk mengajar. Namun ketika terjadi keadaan darurat seperti longsor, mereka akan memindahkan kegiatan belajar ke gedung perkumpulan agar anak-anak desa tidak terlalu tertinggal pelajaran. 

Jumlah mereka tidak banyak. Anak-anak Desa Pale Gandong bahkan tidak sampai dua puluh orang. Namun sekolah tetap berjalan. 

Sementara itu, Enzi juga tidak luput dari kewajibannya. 

Dari hampir dua ratus penduduk Desa Pala Gandong, mungkin dialah orang yang paling ingin jalan segera dibuka. Sayangnya, seperti yang sudah dikatakan Pak Kades, ada harga yang harus ia bayar selama tinggal di sana. Bukan uang, melainkan tenaga. 

Sebelum pergi membantu membersihkan longsor, Pak Kades menepuk pelan bahu Enzi. 

“Tugas pertamamu adalah membantu istriku tercinta.” 

Enzi menelan ludah. 

Entah kenapa, setiap kali Pak Kades menepuk bahunya sambil mengatakan sesuatu seperti itu, ia selalu merasa ada hal buruk yang akan terjadi. 

Hari itu, Utari mendapat tugas menyiapkan makan siang untuk para pria yang sedang bekerja membersihkan longsor. Para perempuan biasanya mengurus makanan bersama-sama. Namun pekerja dapur kadang membutuhkan tenaga tambahan, terutama untuk mengambil bahan atau pekerjaan yang lebih berat. 

Pak Kades juga masih mengingat kimbab yang dibawa Enzi menurutnya enak. Karena itu, ia sepertinya punya keyakinan yang agak berlebihan terhadap kemampuan memasak pemuda itu. 

“Mau buat makan apa, Bu?” tanya Enzi. 

“Yang gampang saja …” jawab Utari lembut. “Kamu tahu kari kan?” 

Enzi mengangguk. 

“Kita buat itu saja. Bapak-bapak di sini sangat suka makanan pedas. Kita buat karinya sedikit pedas. Dengan ayam goreng crispi di atasnya.” 

“Apa yang harus saya bantu, Bu?” tanya Enzi. 

Ia berusaha terdengar sigap. setidaknya, ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu.

“Tolong sembelihkan ayam di belakang.”

“Hah??” 

Mata Enzi membulat. Ia bahkan sempat menggaruk telinganya, seolah berharap dirinya salah dengar. 

“Apa, Bu?” 

“Tolong sembelihkan ayam di belakang,” ulang Utari tenang. Kemudian matanya menyipit melihat ekspresi Enzi. “Kenapa? Nak Enzi ndak bisa?” 

“...” 

“Bukannya Nak Enzi ini mahasiswa kedokteran?” 

“...”

Tangan Enzi mulai berkeringat. Bukan karena ia takut darah. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia sudah terbiasa membayangkan berbagai kondisi medis yang jauh lebih buruk daripada seekor ayam. Namun ada perbedaan besar antara melihat tubuh manusia sebagai pasien dan memegang hewan hidup yang sebentar lagi harus ia bunuh sendiri.  

Setengah jam berlalu. 

Enzi masih berdiri di tempat yang sama. Ayah sudah ada di tangan kirinya. Kedua sayap dan kakinya telah diikat. Pisau tajam berada di tangan kanannya. Semuanya sudah siap. Hanya Enzi yang belum

Ia menatap ayam itu. Ayam tersebut balas menatapnya. 

Enzi menelan ludah. Kenapa kamu lihat aku gitu? 

Tangannya tetap tidak bergerak. 

“Nak Enzi …” 

Suara Utari terdengar dari kejauhan. 

“Be-belum, Bu …” 

Tak lama kemudian dari arah dapur, Gita muncul dari arah dapur. Perempuan itu menatap Enzi, lalu ayam di tangannya. 

Lihat selengkapnya