NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #11

PENGALAMAN PERTAMA PART 2

Malam harinya, Enzi kembali berdiri bersandar di jendela kamarnya setelah selesai makan malam bersama dengan keluarga Pak Kades. Sepanjang makan malam tadi, berbagai kegagalan saat menjalankan tugas pertama sebagai bayaran untuk makan dan menginap menjadi bahan lelucon. Bukan lelucon yang merendahkan, melainkan cerita-cerita kecil yang dibicarakan sambil makan, seperti keluarga yang sedang mengingat kejadian lucu sepanjang hari. 

Awalnya, Utari menceritakan betapa kesalnya Gita sepanjang menyiapkan makan siang untuk orang-orang yang sedang bekerja membersihkan longsor yang menutupi jalan masuk desa. Perempuan berumur dua puluh dua tahun itu memang beberapa kali memperhatikan Enzi. Bahkan, hampir setiap kali melihat pemuda itu kesulitan, Gita langsung mengambil alih pekerjaan. Mulai dari menyembelih ayam, mencabut bulunya, sampai membersihkannya. Belum lagi kentang yang ukurannya semakin kecil setelah dikupas Enzi. 

Teguran demi teguran keluar dari mulut Gita. Anehnya, Enzi sama sekali tidak membantah. Ia justru menurut begitu saja. Bahkan ketika menceritakan bagaimana Enzi menangis saat mengupas bawang, Utari yang sedang sibuk memasak sempat tertawa. 

Namun, setelah cukup panjang menceritakan kejadian siang tadi, Utari tiba-tiba bertanya kepada Enzi. 

“Di rumah, apa Nak Enzi ndak pernah ke dapur untuk memasak?” tanyanya lembut. 

Enzi menggeleng pelan. “Enggak pernah. Semua sudah disiapkan oleh Ibu saya.” 

“Ndak pernah sama sekali?” Utari kembali memastikan. 

Kali ini Enzi menggeleng lebih tegas. 

“Enggak pernah sama sekali.” 

Namun, setelah itu ia menceritakan alasannya. 

Dulu, Enzi dan Zera pernah mencoba memasak sendiri di dapur. Mereka hanya ingin membantu ibu mereka yang hampir selalu sibuk menyiapkan makanan untuk keluarga. Hanya saja, usaha mereka justru mendapat teguran dari ayah. Bukan karena Herman melarang mereka membantu. Ia hanya meminta kedua anaknya untuk tidak mengambil alih sesuatu yang memang sudah menjadi pilihan dan kesenangan ibu mereka. 

Elok memang pernah bekerja sebagai perawat. Namun, setelah menikah, ia memilih menjalani kehidupan sebagai ibu dan mengurus keluarganya. Menjadi ibu juga merupakan sesuatu yang memang ia inginkan. 

Ayah hanya ingin mereka menghormati pilihan itu. 

Sejak saat itu, Enzi tidak lagi berusaha mengambil alih pekerjaan ibunya di dapur. Memasak adalah keahlian dan kesenangan ibunya. Kalau ingin membantu, ia memilih melakukan hal lain—menyapu rumah, menjadi sopir darurat untuk seluruh orang di rumah, atau sekadar menyiram tanaman milik ibunya. 

“Kamu anak yang hebat, Nak Enzi.” 

Mata Utari mendadak berkaca-kaca mendengar penjelasan singkat itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda yang sejak siang tadi terlihat begitu kewalahan ternyata punya alasan sendiri. Sekarang ia mengerti kenapa, setiap kali gagal, Enzi tetap berusaha menyelesaikan tugasnya. 

“Selama di sini … kamu bisa mencoba memasak dan melakukan semua yang ingin kamu lakukan, Nak Enzi,” lanjut Utari lembut. 

Enzi tidak langsung menjawab. 

Sejujurnya, ia cukup senang melakukan tugasnya siang tadi. Ia masih ingat bagaimana tangannya gemetaran hebat saat diminta menyembelih ayam. Ia ingat kentang yang entah bagaimana berubah jauh lebih kecil setelah dikupasnya. Ia juga masih ingat matanya yang terus berair hanya karena mengupas bawang. 

Aneh. 

Semua itu melelahkan, memalukan, dan beberapa di antaranya benar-benar membuatnya ingin menyerah. Tapi ia juga menikmati waktu itu. 

Enzi baru menyadarinya ketika melihat wajah orang-orang yang menikmati makanan yang dibuatnya bersama Utari dan Gita. Saat itulah ia mengerti kenapa ibunya begitu suka memasak. Bukan hanya karena makanan harus tersedia di meja makan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang-orang yang disayanginya menikmati sesuatu yang ia buat dengan tangannya sendiri. 

Mungkin itu juga yang dulu ingin disampaikan ayahnya ketika meminta Enzi dan Zera untuk tidak mengambil alih pekerjaan ibu mereka. Melainkan karena ada sesuatu yang membuat ibu mereka bahagia di balik pekerjaan itu. 

“Kalo saya bantu masak lagi …” ucap Enzi pelan. “Nanti kentangnya pasti mengecil lagi, Bu.” 

Pak Kades dan Utari langsung tertawa kecil. Sementara itu, Cintia yang masih berusia tujuh tahun hanya memandang mereka dengan bingung. Ia tidak mengerti kenapa kakek dan neneknya tertawa hanya karena kentang. 

Pak Kades kembali menepuk bahu Enzi. Kalimat yang sama seperti pagi tadi kembali terucap dari bibirnya. 

“Selalu ada pengalaman pertama, Nak,” katanya lembut.

Angin malam berembus pelan. Ada sedikit rasa dingin yang menyelip di antara embusannya, tetapi Enzi tetap merasa nyaman. Udara di desa terasa begitu segar, berbeda dengan udara di kota yang selama ini akrab dengannya. 

Enzi merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia berniat mengirim pesan kepada ibunya. Namun, begitu melihat sudut kanan atas layar, ia langsung tahu. Batang sinyalnya sudah menghilang lagi. 

Lihat selengkapnya