NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #12

TIGA ANGSA PART 1

Malam berlalu dan hari berganti dengan cepat. 

Setelah kejadian malam sebelumnya—ketika wajahnya bengkak dan memerah karena gigitan nyamuk—Enzi akhirnya menyerah dan membakar obat nyamuk untuk menemani tidurnya. Yah … meski awalnya ia sempat terbatuk-batuk karena tidak terbiasa dengan asapnya, setidaknya pagi ini ia bisa bernapas lega setelah melihat bayangan wajahnya di cermin. 

Pertanyaan yang kemarin dilontarkan orang-orang Desa Pale Gandong, kembali terngiang di telinganya. 

“Kalau obat nyamuk bakar ndak bagus buat paru-paru, apa nyamuknya bagus buat paru-paru??” 

Bulu kuduk Enzi meremang. 

Ia bergidik hanya dengan mengingatnya. Entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sudah diucapkan oleh seluruh orang di desa untuk mempermalukannya. 

Hari ini … senggaknya orang-orang di desa ini enggak akan punya kesempatan untuk mempermalukanku lagi, batinnya. 

Seperti biasa, setelah bangun tidur, Enzi langsung merapikan ranjang, membuka tirai, lalu membuka jendela untuk membiarkan udara pagi masuk ke kamar. 

Ia sempat berhenti di depan jendela. 

Dari sana, ia bisa melihat gapura Desa Pale Gandong dan jalan utama yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk desa. Jalan itu masih tertutup longsoran tanah dan bebatuan. Seharian kemarin, banyak pria di desa bekerja membersihkannya. Mereka sudah cukup bekerja keras. Namun, dari tempat Enzi berdiri, hasilnya masih terlihat jauh dari selesai. Sepertinya baru sebagian kecil yang berhasil dibersihkan. 

Kapan aku bisa keluar dari desa ini? 

Sambil berharap jalan itu segera terbuka, Enzi berdoa dalam hati agar pemerintah Kota Seranusa segera mengirimkan alat berat. Kalau menggunakan tenaga manusia saja, entah berapa lama mereka harus bekerja. 

Setelah selesai berdoa dan menikmati pemandangan pagi, Enzi kembali merapikan dirinya. Ia memeriksa wajah sekali lagi di cermin, lalu merapikan rambut yang sedikit berantakan. Hari ini harus lebih baik. Dengan langkah ringan, ia keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu. 

Seperti kemarin, Pak Kades sudah duduk lesehan di ruang tengah. Secangkir kopi hitam berada di sampingnya, sementara TV menayangkan berita pagi. 

“Pagi, Pak,” sapa Enzi ramah. 

“Pagi, Nak,” balas Pak Kades. 

Ia menoleh sebentar, lalu kembali memperhatikan TV. 

“Nak Enzi …”

 Suara Utari dari arah dapur membuat Enzi menoleh. 

“Ya, Bu?” 

“Mau minum apa?” 

Tadinya Enzi hendak duduk, tetapi ia mengurungkan niatnya. 

“Susu yang dikasih Pak Raden boleh, Bu?”

Ia masih ingat susu sapi segar satu liter yang diberikan Pak Raden kemarin. Meskipun sempat kesal karena pria itu ikut menyebarkan cerita tentang tragedi paginya, pemberian susu itu sedikit banyak membuat rasa kesalnya menghilang. 

“Boleh,” jawab Utari dari punya. “Sekalian sama punya Cintia.” 

“Ma-makasih banyak, Bu.” 

Tidak lama kemudian, Enzi menerima segelas susu sapi hangat. Ia duduk di ruang tengah bersama Pak Kades dan Cintia. 

Di rumah itu sebenarnya ada semacam rutinitas pagi yang tidak pernah tertulis. Cintia biasanya mandi lebih dulu karena harus berangkat sekolah. Setelah itu, giliran Pak Kades. Utari biasanya mendapat giliran terakhir karena masih sibuk menyiapkan keperluan rumah. Namun, sejak Enzi tinggal di sana, urutannya sedikit berubah. Pak Kades meminta Enzi segera mandi setelah dirinya. 

Sarapan bersama pun sebenarnya bukan kebiasaan wajib di rumah itu. Cintia harus berangkat cukup pagi dengan angkutan yang biasa menjemputnya. Karena itu, waktu bersama mereka di pagi hari biasanya hanya sebentar—duduk lesehan di depan TV seperti sekarang. 

“Cintia, ayo mandi …” teriak Utari. 

Air panas yang dimasaknya pasti sudah siap. Cintia pun beranjak meninggalkan ruang tengah. Tak lama kemudian, giliran Enzi dipanggil untuk membantu mengambil beberapa sayuran di halaman belakang. Pak Kades kembali menemaninya seperti kemarin. 

Kali ini, Enzi jauh lebih berhati-hati. Sebelum menyentuh satu tanaman pun, ia bertanya. 

“Yang ini dipetik, Pak?” 

“Iya. 

“Kalo yang ini?” 

“Itu juga.” 

“Kalo yang ini?” 

“Jangan dulu. Belum waktunya.” 

Pagi itu, Enzi berhasil mengambil sayuran tanpa mencabut satupun tanaman dari akarnya. Satu kemenangan kecil. Setidaknya ia tidak mengulangi kesalahan kemarin. Namun, masalah berikutnya menunggunya di kandang ayam. 

Begitu masuk, Enzi langsung berhadapan dengan beberapa pasang mata ayam. Ia berhenti. Ayam-ayam itu juga berhenti. Mereka saling menatap. Enzi perlahan melangkah mundur. 

“Kenapa?” 

Pak Kades menghampiri ketika menyadari Enzi tidak kunjung mengambil telur. 

“Enggak, Pak …” Enzi membeku di sudut kandang. “Mereka cuma menatap saya tajam.” 

Pak Kades memandangi ayam-ayam itu sebentar. “Biar Bapak kasih contoh.” 

Ia mengambil sebuah gayung dari dekat pintu kandang, lalu memasukkan sesuatu ke dalamnya. Pak Kades berjalan masuk dan melemparkan isi gayung itu ke sisi lain kandang. Ayam-ayam yang sejak tadi memperhatikan Enzi langsung berlari menuju makanan tersebut dan serentak mematuknya. 

Pak Kades berjalan santai menuju sarang ayam 

“Hewan itu ndak beda jauh dengan manusia,” katanya sambil mengambil telur. “Kalau bertemu orang asing, mereka juga akan waspada.” 

Enzi memperhatikan ayam-ayam yang kini sibuk makan. 

Lihat selengkapnya