Seperti janjinya, begitu pekerjaan beres, Mak Parti segera membawa segelas es teh dan sepiring kentang rebus untuk Enzi.
“Minum dulu, Nak. Kamu pasti capek.”
“Makasih, Nek.”
Enzi duduk di teras dan langsung meneguk es tehnya. Rasanya segera setelah dua jam lebih berada di bawah matahari.
Mak Parti kemudian memberikan beberapa buah kentang hasil panen kepada Enzi. “Bawa pulang. Buat dimakan sama keluarga Pak Kades.”
Enzi sempat terdiam. “Boleh, Nek?”
Boleh. Kamu sudah bantu panen.”
Enzi tersenyum. Ia menerima kentang itu dengan kedua tangannya.
“Makasih banyak, Nek.”
Setelah beristirahat sekitar setengah jam, Enzi kemudian berangkat menuju tempat kerja keduanya—rumah Pak Jaka, peternak bebek di desa itu.
Sehari sebelumnya, Enzi sudah mengetahui tata letak rumahnya. Bapahkan pagi tadi, Pak Kades sempat bercerita sedikit tentang hubungan mereka. Pak Jaka adalah adik kelas Pak Kades sejak SD hingga SMA. Karena itu, cara keduanya berbicara juga lebih santai dibandingkan dengan ketika mereka berbicara dengan warga lain. Mereka sudah saling mengenal selama puluhan tahun dan hubungan keduanya cukup dekat.
“Selamat siang …” sapa Enzi ketika sampai di depan rumah.
“Siang!” teriak Pak Jaka dari dalam rumah.
Suara itu terdengar jelas. Hanya saja, orangnya tidak kunjung terlihat.
Enzi menunggu beberapa menit di depan pagar. Ia tidak berani masuk sebelum mendapatkan ijin.
“Masuk saja!”
Baru setelah mendengar ijin, Enzi membuka pagar dan masuk. Ia tidak lupa menutupnya kembali. Seperti kemarin, Enzi berjalan melewati halaman rumah menuju bagian samping, tempat kandang bebek berada. Begitu mendekat, hidungnya langsung menangkap sesuatu. Bau kandang hari ini terasa jauh lebih menyengat dibandingkan kemarin.
Spontan, Enzi menutup hidung. Bau kotoran bebek langsung menusuk sampai kepalanya. Perutnya yang baru diisi kentang rebus seketika bergejolak.
“Huekk!”
Enzi gagal menahan mualnya. Mulutnya sudah terbuka, tapi isi perutnya belum sempat keluar.
“Oh, kamu, anak kota.” Pak Jaka muncul dari dalam kandang. Senyum tipis terlihat di wajahnya ketika melihat Enzi. “Bau ya?”
Enzi buru-buru mengangguk. Tangannya masih dengan menutup hidung.
“Maklum saja,” kata Pak Jaka santai. “Kemarin kakiku ndak sengaja tertimpa batu waktu bersihkan longsor. Hari ini pekerjaku juga turun semua untuk membantu di jalan.”
Ia menunjuk ke kandang.
“Jadi hari ini aku urus bebek sendirian.”
Mendengar penjelasan itu, Enzi akhirnya memahami alasan Pak Kades mengirimnya ke tempat ini. Pak Jaka memang sedang membutuhkan bantuan.
“A-apa …” Enzi bertanya, sambil tetap menutup hidung, “yang bisa saya bantu, Pak?”
Pak Jaka memandang Enzi beberapa detik. Ada senyum tipis di wajahnya.
“Kamu yakin bisa membersihkan kandang ini?”
Enzi mengikuti arah pandangan Pak Jaka menuju kedua kakinya. Ia tidak tahu kaki mana yang terluka karena keduanya tertutup sepatu boot tinggi dan celana panjang. Namun, setelah mendengar cerita, Enzi merasa tidak mungkin menolak. Sekalipun perutnya harus menjadi korban.
“Sa-saya coba, Pak.”
Suaranya bergetar. Setengah yakin. Setengah takut. Lalu ia teringat ucapan Pak Kades kemarin.
Selalu ada pengalaman pertama.
Mungkin benar. Kalau ingin tahu apakah ia bisa atau tidak, ia memang harus mencoba.