Aku mau keluar dari desa ini!
Berita tentang Enzi yang lari terbirit-birit dikejar tiga angsa milik Pak Jaka langsung menyebar ke seluruh Desa Pale Gandong. Tidak cukup dengan sekadar menceritakan kejadian sebenarnya, beberapa orang bahkan menambahkan bumbu masing-masing hingga kisah itu terdengar semakin memalukan.
Aku malu sekali.
“Pagi, anak kota …” sapa Pak Raden yang datang mengantarkan susu untuk Cintia. “Andai kemarin aku lihat kamu lari-lari dikejar tiga angsa milik Pak Jaka, aku pasti akan merekamnya untuk dijadikan tontonan satu desa.”
“...”
Enzi tidak bisa menjawab. Mengingat kejadian kemarin saja sudah cukup membuatnya ingin menghilang dari hadapan semua orang.
Hanya dalam satu malam, ia kembali menjadi bahan pembicaraan warga. Lagi-lagi, bukan karena sesuatu yang membanggakan, melainkan karena sesuatu yang memalukan.
Di titik ini, Enzi mulai curiga bahwa bukan hanya orang-orang di desa yang ingin mempermalukannya. Jangan-jangan, desa itu sendiri beserta seluruh ternaknya juga sudah bersekongkol untuk menghabiskan harga dirinya.
“Yah, namanya anak kota. Mungkin Enzi baru pertama kali berhadapan dengan angsa …”
Pak Kades yang sedang duduk di teras sambil menikmati kopi hitamnya, akhirnya angkat bicara. Enzi sedikit lega mendengarnya.
Yah … memang baru pertama kali, Pak, batinnya.
Senyum tipis menghiasi bibirnya. Untuk sesaat, ia merasa akhirnya ada seseorang yang mau berdiri di pihaknya.
“Tapi …” Pak Kades melanjutkan, “dikejar angsa itu memang memalukan.”
Pria itu langsung tertawa keras. Kumis lebatnya sampai bergetar. Pak Raden yang berdiri di dekatnya ikut tertawa.
Sial …
Senyum Enzi seketika lenyap.
baru saja ia merasa menemukan sekutu, sekarang orang itu justru ikut menertawakannya. Rasanya seperti diberi pegangan sebentar hanya untuk kemudian dilepaskan begitu saja.
Orang-orang di desa ini memang ingin mempermalukanku.
“Cintia saja ndak pernah dikejar tiga angsa itu saat main ke sana,” tambah Pak Kades, masih belum berhenti tertawa.
“...”
Sial.
Bahkan anak berusia tujuh tahun saja lebih hebat darinya dalam urusan menghadapi angsa. Dan kalau Enzi mengingat kembali kejadian kemarin, mungkin memang tidak ada yang lebih memalukan daripada itu.
Begitu teringat kejadian tersebut, benak Enzi kembali memutar adegan saat ia berlari menyelamatkan diri.
Setelah Enzi berteriak meminta tolong, Pak Jaka langsung bergerak menangkap angsa yang paling belakang. Ia berhasil memasukkan hewan itu ke dalam kandang, tetapi dua angsa lainnya masih terus mengejar Enzi, seolah tidak berniat membiarkan sasarannya lolos.
Dengan dua angsa yang terus membuntutinya, Enzi tidak punya pilihan selain berlari.
“PAK!! CEPAT TANGKAP ANGSANYA!”
Napasnya sudah hampir habis. Ia bahkan tidak ingat lagi berapa kali mengitari halaman rumah Pak Jaka.
“Tunggu sebentar, anak kota!”
Pak Jaka baru saja selesai memasukkan angsa pertama ke kandang ketika ia bersiap menangkap dua angsa yang tersisa. Namun, kaki yang terluka saat membantu membersihkan longsor mendadak kambuh.
“Aduh, kakiku!”
Pak Jaka terjatuh sambil meringis kesakitan.
Sial!
Melihat satu-satunya orang yang bisa menolongnya justru tidak sanggup berdiri, Enzi memutuskan untuk menyelamatkan diri sendiri. Ia mengambil ancang-ancang, lalu melompati pagar setinggi pinggang orang dewasa.
Hup!
Dalam satu lompatan, ia berhasil mencapai sisi lain pagar.
Aku selamat!
Untuk sesaat, Enzi hampir merasa bangga pada dirinya sendiri. Setelah berlari entah berapa putaran, kedua kakinya yang kelelahan ternyata masih sanggup membawanya melompati pagar setinggi itu. Ia berbalik dan melihat kedua angsa berhenti di sisi seberang.
Angsa sialan! Kenapa kalian—
Kalimat itu terhenti di dalam benaknya.
Angsa paling depan, yang juga paling besar, perlahan membuka kedua sayapnya. Bentang sayangnya tampak lebar, indah, sekaligus kuat. Angsa di belakangnya segera mengikuti.
Kenapa mereka buka sayapnya?
Kalau saja ia sedang berada dalam situasi lain, Enzi mungkin akan mengagumi pemandangan itu. Sayangnya, dua makhluk berbulu putih tersebut sedang mengejarnya.
“Hei anak kota!” teriak Pak Jaka dari belakang. Ia berusaha bangkit sambil menahan sakit. “Angsa itu bisa terbang!”
“...”
Enzi mendesah lelah.