NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #15

SETUMPUK KEGAGALAN PART 2

Hari berikutnya, Enzi bangun dengan tekad baru. 

Hari ini, ia akan kembali membantu Pak Raden di peternakan sapi. Ia ingin menebus kegagalannya kemarin dan membuktikan bahwa dirinya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Tentu saja, kali ini tidak akan mengulang kejadian yang sama. Tidak ada muntah. Tidak ada pingsan. Dan, yang paling penting, tidak ada lagi insiden jatuh ke tumpukan kotoran sapi. Setidaknya, itulah rencananya. 

Pagi itu, Enzi duduk di meja makan setelah membersihkan diri. Sarapan buatan Utari sudah tersaji, masih hangat dengan uap tipis yang mengepul dari nasi dan lauk-pauknya. 

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sarapan hari ini. 

Meja makan mereka penuh dengan berbagai hidangan. Ada omelet telur berisi sayuran dan daging, ayam kukus berbumbu rempah, capcay dengan aneka sayuran, ayam, dan sosis, serta tahu dan tempe goreng. Sebagai pelengkap, tersedia segelas susu hangat kiriman Pak Raden dan beberapa buah dari kebun warga, seperti apel, pisang, dan jeruk. 

Enzi menatap meja makan itu dengan sedikit kebingungan. 

Biasanya, selama tinggal di rumah Pak Kades, sarapan hanya terdiri dari satu lauk dan satu sayur. Utari baru akan memasak lagi saat siang dan malam, dengan menu yang berganti sesuai bahan yang tersedia. Namun, pagi ini seolah-olah ada pesta kecil di meja makan mereka. 

Dan Enzi tahu persis penyebabnya. 

Kejadian kemarin—ketika ia muntah setelah jatuh ke tumpukan kotoran sapi, lalu pingsan—telah menyebar ke seluruh desa. Bukan sekadar karena warga saling bergosip, melainkan karena banyak orang menyaksikannya sendiri. 

Menurut cerita Utari setelah Enzi siuman kemarin, semuanya bermula ketika Pak Raden panik karena tidak tahu harus berbuat apa. Para pria sedang bekerja membersihkan longsor, sementara peternakan Pak Raden kosong. Sebagai duda yang sudah lama kehilangan istrinya, ia juga tinggal sendirian di rumah. Anak-anaknya telah menetap di kota dan tidak selalu pulang. 

Akhirnya, Pak Raden meletakkan tubuh Enzi yang tidak sadarkan diri di atas gerobak sorong yang bersih, lalu mendorongnya menuju rumah Pak Kades. 

Masalahnya, Pak Raden tidak datang dengan tenang. Sambil mendorong gerobak, ia berteriak memanggil Pak Kades. Teriakannya begitu keras hingga menarik perhatian para pekerja yang sedang membersihkan longsor. 

“Kenapa anak kota?” tanya beberapa pria hampir bersamaan ketika melihat Enzi terbaring di atas gerobak. 

“D-dia …” Pak Raden tampak ragu. “Kayaknya ndak kuat sama bau kotoran sapi. Dia mual, muntah, terus pingsan.” 

“Terus kenapa wajah dan separuh badannya kotor gitu?” 

Pak Kades menatap Enzi dengan ekspresi bingung sambil menutup hidung. Bau menyengat masih melekat pada pakaian anak kota itu. 

“I-itu …” Pak Raden menjawab gugup. “Sebelum muntah dan pingsan, anak kota jatuh ke tumpukan kotoran sapi.”

“Pantas saja penampilannya begitu,” komentar salah satu pria. 

“Terus bagaimana ini, Pak?” tanya Pak Raden cemas. “Satu-satunya orang yang tahu pengobatan malah pingsan.” 

Pak Kades mengangguk pelan. Wajahnya tetap datar ketika memandangi Enzi. 

“Mahasiswa kedokteran ini sejak datang kemari … selalu ada saja ulahnya.” Ia berhenti sejenak, seolah sedang mengingat daftar kejadian yang sudah menimpa Enzi. “Mulai dari ayam, angsa, dan sekarang … sapi.” 

“Terus bagaimana ini, Pak?” desak Pak Raden. “Masak mau kita biarin saja anak kota?” 

Pak Kades menghela napas.

“Tentu kita harus menolongnya. Tapi pertama, kita bersihkan dulu badannya. Bau kotoran sapi sudah menempel ke mana-mana.” 

Kejadian selanjutnya tidak perlu diceritakan. Cukuplah dikatakan bahwa itu merupakan salah satu pengalaman paling memalukan dalam hidup Enzi—pengalaman yang sama sekali tidak ingin ia ingat lagi. 

“Jangan makan terlalu banyak …” 

Lihat selengkapnya