Tiga hari berlalu sejak Enzi mulai ikut membantu warga membersihkan jalan desa yang tertutup longsor.
Malam itu, angin dingin berembus di atas genteng rumah Pak Kades. Udara menusuk hingga ke tulang, tetapi Enzi yang duduk di sana hampir tidak merasakannya. Bukan karena ia tidak mengenakan jaket atau karena udara malam tidak cukup dingin. Pikirannya sedang terlalu sibuk memikirkan sesuatu.
Selama tiga hari terakhir, Enzi bekerja keras.
Awalnya, membersihkan tanah longsor tampak jauh lebih mudah daripada pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Setidaknya tidak ada yang ayam yang berusaha menyerangnya, angsa yang mengejarnya, atau kotoran sapi yang membuatnya muntah.
Ternyata, ia kembali salah perhitungan.
Pada hari pertama, Enzi pingsan lagi.
Teriknya matahari, keringat yang terus mengucur, dan beratnya material yang harus dipindahkan menguras tenaga dengan cepat. Bagaimanapun juga, tubuhnya memang tidak terbiasa melakukan pekerjaan fisik seberat itu. Selama ini, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar dan berusaha agar tidak tertinggal dari kakak serta adiknya.
Hanya itu yang ia kenal.
Pada hari kedua, Enzi mencoba bekerja dengan lebih hati-hati. Ia mulai memperhatikan kemampuan tubuhnya sendiri. Ketika merasa lelah, ia beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja. Pengalaman pingsan dan diangkut menggunakan gerobak sorong sebagai “ambulans darurat” rupanya cukup untuk memberinya pelajaran. Harga diri dan nama baiknya sudah cukup babak belur. Ia tidak ingin menambah daftar kejadian memalukan lagi.
“Kalau kerasa mau pingsan,” ujar Pak Jaka pada hari kedua. Ia menepuk pelan bahu Enzi. “Istirahat dulu di rumah Pak Kades.”
“Itu benar, anak kota,” tambah Pak Raden. “Kalau capek, istirahat dulu. Jangan maksa.”
Awalnya, Enzi kebingungan.
Kenapa mendadak semua orang memperhatikanku?
Ia sempat berpikir bahwa mereka hanya tidak ingin dirinya membuat masalah lagi. Mungkin mereka sudah lelah mengurus mahasiswa kedokteran yang selalu tumbang setiap kali diberi pekerjaan. Namun, perhatian itu tidak berhenti di sana.
Saat makan siang, seorang pria bernama Karsa menghampirinya.
“Kerja bagus, anak kota,”
Karsa tidak jauh lebih tua daripada Enzi. Mungkin hanya terpaut beberapa tahun. Ia dikenal sebagai salah satu pekerja Pak Raden yang paling cakap, dengan tubuh yang terbiasa melakukan pekerjaan berat.
“Kamu sanggup bertahan dan ndak pingsan sampai jam makan siang,” lanjutnya sambil tersenyum.
Enzi tidak tahu harus menjawab apa. Pujian itu terdengar sederhana. Bahkan jika dibandingkan dengan pencapaian kakak dan adiknya, mungkin tidak ada apa-apanya. Namun, entah kenapa, ia merasa senang mendengarnya.
Saat makan siang bersama, Enzi juga baru mengetahui bahwa Karsa akan menikah dengan Ningrum, putri Wati, pemilik warung serba ada di desa.
Pernikahan itu direncanakan minggu depan.
Karena itu, jalan harus segera dibuka. Kalau satu-satunya akses keluar masuk desa kembali tertutup, keluarga dan tamu dari desa-desa tetangga tidak akan bisa datang ke pernikahan mereka.
Ada alasan lain bagi semua orang untuk bekerja sekeras mungkin. Mereka bukan sekadar membersihkan jalan. Mereka sedang berusaha memastikan bahwa salah satu hari terpenting dalam hidup Karsa dan Ningrum tetap bisa berlangsung seperti yang direncanakan.
Pada hari kedua, Enzi memang tidak pingsan sampai jam makan siang. Namun, setelah makan, ia hanya sanggup bertahan sekitar satu jam. Sengatan matahari membuatnya cepat berkeringat. Wajahnya mulai pucat dan pandangannya perlahan kabur.
“Sampai di sini saja kerjanya, Nak,” ujar Pak Kades pelan sambil menepuk bahunya. “Mukamu sudah pucat. Kamu sudah kecapekan.”
“A-aku masih sanggup, Pak.”
Enzi masih ingin melanjutkan pekerjaannya. Bukan hanya demi membersihkan nama, harga diri, dan setumpuk kegagalannya. Ia juga ingin segera keluar dari desa itu. Semakin cepat jalan dibuka, semakin cepat pula ia meninggalkan desa.
Sayangnya … Pak Kades adalah Pak kades. Pria itu selalu pandai menemukan kalimat yang mampu memukul telah Enzi.
“Kamu bisa lanjut kerja,” katanya. “Tapi kalau ada apa-apa, kamu akan diangkut lagi dengan itu.”
Ia menunjuk salah satu gerobak sorong yang sudah dicuci bersih saat jam makan siang.
“Gimana? Mau naik itu lagi?”
“...”
Enzi menelan ludah.