NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #17

JALAN YANG AKHIRNYA TERBUKA PART 2

“Nak Enzi …” 

Enzi menoleh. Dari arah jendela loteng, Pak Kades memanggilnya. Pria dengan kumis lebat itu berpakaian tebal, lengkap dengan topi rajut di kepala yang dipakainya sampai menutupi kedua telinganya. Di kedua tangannya, ia membawa dua botol termos kecil. 

“Kamu ndak kedinginan?” 

Enzi menggeleng pelan. 

Pak Kades kemudian menyusulnya ke atas genteng dengan hati-hati. Setelah duduk di samping Enzi, ia menyerahkan salah satu termos yang dibawanya. 

“Ini apa, Pak?” tanya Enzi sambil menatap termos itu dengan bingung.  

“Wedang jahe. Bagus buat menghangatkan badan.” 

Mereka membuka tutup termos masing-masing. Uap hangat mengepul, disusul aroma jahe yang menguar di udara malam. 

Enzi menyeruput sedikit minuman itu. Cairannya masih panas, tetapi begitu melewati lidah dan tenggorokannya, kehangatan perlahan menyebar ke tubuhnya. 

“Gimana? Enak?” 

Enzi buru-buru mengangguk. “Enak, Pak. Enak sekali malahan.” 

“Yah … istriku memang pandai soal dapur.” Pak Kades tersenyum tipis, seolah pujian itu sudah sewajarnya diberikan kepada sang istri. 

Setelah itu, mereka kembali terdiam. 

Angin malam berembus pelan, berpadu dengan suara jangkrik yang bersahutan. Di atas mereka, langit bertabur bintang, sementara cahaya bulan menerangi sebagian genteng tempat mereka duduk. 

Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara. Hingga akhirnya, Pak Kades membuka suara. 

“Sejak sore tadi, ada yang aneh dengan Nak Enzi.” 

Enzi menoleh. 

“Saya?” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Apa yang aneh dari saya, Pak?” 

“Sampai siang tadi, kamu kelihatan semangat sekali bekerja.” Pak Kades mengangkat termosnya, lalu menunjuk ke arah jalan yang kini sudah terbuka. “Padahal, jalan yang tertutup longsor itu satu-satunya alasan kamu terjebak di desa ini.” 

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. 

“Harusnya, begitu jalan itu bisa dilewati lagi, kamu makin senang. Artinya, kamu bisa segera keluar dari sini.” 

Pak Kades melirik Enzi. Ekspresi pemuda itu tidak menunjukkan kegembiraan yang semestinya muncul setelah mendengar kabar tersebut. Yang terlihat justru keraguan. 

“Apa yang mengganggumu, Nak?” 

Enzi tidak langsung menjawab. 

Matanya kembali menatap langit malam. Pemandangan di atas sana begitu indah, seperti lukisan yang biasa ia lihat di internet. Namun, keindahan yang selama ini hanya bisa dinikmatinya melalui layar terasa berbeda ketika dilihat secara langsung. 

Langit yang sama. Bintang-bintang yang sama. Hanya saja, kali ini ia bisa benar-benar merasakannya. Barangkali, ada banyak hal lain yang selama ini ia lihat sekilas, tetapi belum pernah benar-benar ia perhatikan. Termasuk orang-orang di desa ini. 

“Kalo saya cerita …” Enzi akhirnya bersuara pelan. “Apa Bapak akan menganggap saya sebagai anak yang jahat dan durhaka?” 

Senyum tipis muncul di bibir Pak Kades. 

“Kamu saja belum cerita. Gimana Bapak bisa menilai?” 

Enzi menunduk, sementara Pak Kades kembali menyeruput wedang jahenya. 

“Memangnya kamu melakukan apa?” lanjutnya. “Judi online? Atau terlibat gangster?” 

Enzi terkekeh kecil. 

“Bukan hal buruk seperti itu, Pak.” 

“Kalau kamu ndak cerita, Bapak kan ndak tahu.” 

Enzi melirik pria di sampingnya. 

Pak Kades berusia enam puluh lima tahun. Sekilas, ia bukan tipe orang yang mudah dianggap hangat atau penuh perhatian. Ucapannya seringkali membuat Enzi kesal setengah mati, sementara sikapnya yang begitu tenang dalam menghadapi berbagai kejadian terkadang membuat Enzi tak habis pikir. Bahkan setelah tinggal di bawah atap yang sama selama hampir seminggu, Enzi masih belum benar-benar memahami apa yang ada di dalam kepala pria itu. Namun, dibalik sikapnya yang terkadang menjengkelkan, Enzi juga menemukan kehangatan. 

Rumah Pak Kades terasa hangat. Hubungan di dalam keluarganya pun demikian. Wibawa pria itu bahkan sesekali mengingatkan Enzi pada ayahnya sendiri. Keluarga Pak Kades mengingatkannya pada keluarganya di rumah. 

Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda. 

Selama tinggal di desa ini, Enzi tidak merasakan sesak yang biasanya memenuhi dadanya ketika berada di rumah sendiri. Ia memang kesal karena sering melakukan kesalahan. Ia malu karena menjadi bahan tertawaan warga. Berkali-kali, harga dirinya terasa jatuh hanya karena pekerjaan sederhana yang tak mampu ia lakukan dengan baik. Namun, anehnya, semua itu tidak membuat dadanya terasa sesesak saat ia berada di rumah.

Enzi kembali menatap langit. 

 “Bapak mungkin akan menganggap saya sebagai anak yang enggak tahu terima kasih. Atau durhaka. Atau jahat …” 

Kalimat itu keluar perlahan, seolah setiap kata membutuhkan keberanian tersendiri untuk diucapkan. 

Lihat selengkapnya