NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #18

LIBURAN BERLANJUT PART 1

Pak Kades melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap Enzi lekat-lekat. Ujung kumisnya sedikit terangkat. 

“Kamu ndak mau pulang?”

Enzi mengangguk pelan. “Iya, Pak. Saya enggak akan pulang dulu.” 

“Kenapa?” 

“Liburan saya masih sekitar dua minggu lagi,” jawab Enzi. “Jadi, saya sudah putuskan buat liburan di sini saja, Pak.” 

Pak Kades mengangkat sebelah alisnya.

“Terus kamu mau tinggal di mana?Di sini kan ndak ada penginapan.” 

Enzi mengangkat telunjuk, lalu menunjuk bangunan di belakangnya. “Di sini, Pak. Mau di mana lagi?” 

“Kenapa kamu pikir Bapak akan menampungmu lagi?” 

“...”

Enzi terdiam. 

Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar pertanyaan itu dari Pak Kades. Setelah tinggal bersama selama seminggu, ia mengira pria berkumis lebat itu tidak akan keberatan menampungnya lagi. 

“Ba-Bapak enggak mau menampung saya?” 

Pak Kades tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekati Enzi dengan tatapan serius. 

Enzi menelan ludah. Ketika Pak Kades mengangkat tangannya, Enzi spontan memejamkan mata, bersiap menerima sesuatu yang buruk. Namun, alih-alih memukulnya, tangan itu justru mendarat di bahunya. 

Sebuah tepukan ringan. Sama seperti beberapa kali selama seminggu terakhir. 

“Pak Kades …” gumam Enzi. 

Pak Kades berhenti sejenak. Senyum tipis terbit di bibirnya. 

“Kamu bisa menumpang di sini selama mungkin. Asal …” Ia sengaja menggantungkan kalimatnya. “Asal bayar seperti sebelumnya.” 

Enzi mengangguk mantap. Wajahnya yang semula tegang langsung cerah.

“Siap, Pak!”

Pak Kades terkekeh kecil sebelum berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Enzi dan Catur berdua di depan pintu. Sementara itu, Catur masih berdiri mematung. Wajahnya menunjukkan campuran kebingungan, keheranan, dan ketidakpercayaan.  

“Jadi …” 

Enzi menoleh kepadanya. 

“Aku datang jauh-jauh ke sini buat jemput orang yang ternyata ndak mau pulang?” 

Enzi mengangguk kecil. Kali ini, ada sedikit rasa bersalah di wajahnya. 

“Maaf …” katanya pelan. “Harusnya aku segera kabari kamu.” 

Catur menghela napas, lalu tersenyum kecil. 

Sebenarnya, ia sudah cukup lama mengenal Enzi. Dulu, Enzi pernah menolongnya, dan sejak itu Catur menganggap pemuda tersebut sebagai teman. Meski begitu, hubungan mereka selama ini tidak terlalu dekat. Mereka hanya sesekali berbincang atau bertegur sapa ketika bertemu di kampus. Dan biasanya, Caturlah yang lebih dulu menyapa. 

Enzi memang bukan orang yang banyak bicara. Namun, Catur selalu bisa melihat kebaikan dari caranya memperlakukan orang lain. Enzi juga tidak pernah bersikap sombong, meski berasal dari keluarga berada. 

Hanya saja, selama ini Catur kerap merasa ada sesuatu yang kurang dari sorot mata Enzi. Ia tidak tahu apa. Namun, saat ini, ada sesuatu yang berbeda. Sorot mata Enzi tampak lebih hidup. Seolah-olah, selama seminggu tinggal di Desa Pale Gandong, pemuda itu telah menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ia miliki. 

Catur tidak tahu persis apa yang terjadi selama Enzi berada di desa itu. Ia juga tidak tahu apa yang membuat temannya mendadak berubah pikiran dan memilih tinggal lebih lama. Namun, melihat ekspresi Enzi sekarang, Catur merasa perubahan itu bukan sesuatu yang buruk. 

“Sejak pertama kali kamu menolongku, aku sudah menganggapmu teman,” ucap Catur akhirnya.

Enzi menatapnya, sedikit terkejut. 

Lihat selengkapnya