“Pagi, anak kota …”
Sepanjang perjalanan menuju rumah Pak Jaka, Enzi mengayuh sepeda melewati jalan desa yang diapit kebun dan rumah-rumah warga. Beberapa orang menyapanya dari halaman rumah masing-masing.
“Pagi, Pak!”
“Pagi, Bu!”
Enzi membalas setiap sapaan dengan senyum kecil, meskipun ia belum mengenali semua orang yang menyapanya.
Saat melewati satu-satunya warung serba ada di desa, ia kembali menemukan sekelompok wajah yang sudah mulai akrab baginya. Sepuluh nenek sedang berkumpul di depan warung milik Wati, bersiap mengikuti senam pagi. Gita berdiri di depan mereka, memimpin gerakan dengan penuh semangat.
“Pagi, anak kota!” sapa mereka hampir bersamaan.
Enzi mengerem sepeda.
“Pagi, nenek-nenek sekalian.”
Gita yang sedang mempersiapkan musik ikut menoleh. “Pagi, anak kota.”
“Pagi juga.
Wati, pemilik warung yang rambut keritingnya pagi itu dihiasi bando merah senada dengan pakaiannya, melambaikan tangan.
“Mau ke mana, anak kota?”
“K-ke rumah Pak Jaka,” jawab Enzi. “Saya dapat tugas untuk bantu-bantu di sana, Bu.”
“Oh, Pak Jaka,” Gita mengangguk, lalu tersenyum jahil. “Kamu ndak takut dikejar angsa itu lagi?”
Enzi terdiam.
Belum sempat ia menjawab, sekumpulan nenek itu sudah mulai saling berbisik. Enzi tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, melihat beberapa pasang mata yang sesekali melirik ke arahnya, ia punya dugaan kuat bahwa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Lagi.
“Angsa milik Pak Jaka itu sebenarnya ndak galak,” ujar Wati. “Orang-orang di sini ndak pernah ada yang dikejar.”
“Iya bener,” sahut seorang nenek.
“Makanya, aneh sekali,” timpal nenek lainnya. “Kenapa malah anak kota yang dikejar?”
Wati mengangguk setuju.
“Jangan-jangan memang ada sesuatu yang bikin angsa-angsa itu suka kejar anak kota.”
Gita melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Enzi dengan ekspresi serius yang jelas-jelas dibuat-buat.
“Kalau gitu, tugas anak kota buat cari tahu.”
“Ha?” Enzi menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa aku yang harus cari tahu?”
“Kan kamu dokter …” jawab Gita enteng. “Perilaku ndak biasa dari angsa-angsa Pak Jaka pasti ada alasannya.”
Enzi menghela napas panjang.
Kenapa begini lagi?
Ia baru saja berusaha melupakan ucapak Pak Kades yang menyamakan dokter manusia dengan dokter hewan. Sekarang, Gita dan sekumpulan nenek ini malah mengulang hal yang sama.
“Saya ini mahasiswa kedokteran manusia,” jelasnya, berusaha tetap sopan. “Bukan dokter hewan.”
“Ya, sama-sama dokter, kan?” sahut Wati cepat.
“...”
Enzi menatap mereka satu persatu. Tidak ada yang tampak berniat mengalah.
Akhirnya, ia menyerah. Mungkin percuma menjelaskan perbedaan kedua profesi itu kepada orang-orang yang sudah terlanjur menganggapnya sama.
Untuk pertama kalinya sejak memutuskan tinggal lebih lama di desa itu, Enzi mulai mempertanyakan keputusannya sendiri.