NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #20

TARUHAN SEKUMPULAN NENEK PART 1

“Hahaha …” 

Tawa Pak Kades menggema hampir ke seluruh penjuru rumah saat makan malam baru saja usai. Utari baru saja menceritakan kejadian pagi tadi, tentang bagaimana Enzi berlari mengitari jalanan desa demi menyelamatkan diri dari kejaran tiga angsa milik Pak Jaka. 

Enzi melirik Pak Kades dengan tatapan sengit. 

“Kenapa Bapak malah ketawa?” 

Ia bangkit dari duduknya, lalu tanpa diminta langsung mengumpulkan alat-alat makan yang kotor dan membawanya ke belakang untuk dicuci. Menumpuk piring kotor bukan kebiasaan yang baik, apalagi di desa. Sisa makanan yang dibiarkan begitu saja bisa mengundang tikus saat malam. 

Begitu selesai mencuci, Enzi kembali ke ruang makan. Pak Kades masih duduk di tempatnya dengan sisa tawa di wajah. 

“Sepertinya Bapak puas sekali ketawanya?” tanya Enzi dengan bibir merengut. 

“Berkatmu, Nak Enzi …” Pak Kades terkekeh lagi. “Cerita itu bahkan lebih lucu daripada lawakan di TV.” 

“...” 

Enzi terdiam. 

Ia benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini dirinya kembali menjadi bahan lelucon satu desa. Dan semua itu terjadi gara-gara tiga makhluk berbulu putih milik Pak Jaka. 

“Kamu sudah pakai cara yang Bapak kasih tahu?” tanya Pak Kades setelah tawanya selesai. Raut wajahnya kini berubah jadi penasaran.

Enzi mengangguk lesu. “Sudah.” 

Pikirannya kembali ke kejadian memalukan pagi tadi. 

Awalnya, semuanya berjalan lancar. Bersama Pak Jaka, Enzi mengeluarkan bebek-bebek dan tiga angsa dari kandang agar kandangnya bisa dibersihkan. Anehnya, kali ini ketiga angsa itu tidak mengusiknya sama sekali. 

Ya, semuanya berjalan lancar. Dan itu berkat saran yang dibisikkan Pak Kades sebelum Enzi berangkat. 

“Coba kamu kasih makan angsa-angsa itu seperti waktu kamu kasih makan ayam buat ambil telurnya.” 

Ternyata cara itu berhasil. Ketiga angsa tersebut tampak tenang saat Enzi menyodorkan makanan kepada mereka. Untuk sesaat, ia bahkan sempat berpikir bahwa hubungan mereka akhirnya membaik. 

Sayangnya, ketenangan itu hanya bertahan selama makanan masih ada. 

Ketika waktunya menggiring bebek-bebek kembali ke kandang, Enzi tidak lagi membawa makanan. Menurutnya, usaha mendekati tiga makhluk berbulu putih itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak mungkin terus-menerus menyuapi mereka hanya agar bisa bekerja dengan tenang, bukan? 

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan. 

Lihat selengkapnya