NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #21

TARUHAN SEKUMPULAN NENEK PART 2

“Kamu bisa nyetir mobil, kan?” tanya Pak Kades tiba-tiba. 

Dua hari berikutnya, Enzi mendapat tugas di perkebunan. Beberapa kebun warga sudah memasuki masa panen, jadi ia membantu memetik dan mengumpulkan sayuran sebelum kembali ikut ke desa tetangga bersama Pak Kades, Karsa dan Pak Panji. 

“Bisa, Pak,” jawab Enzi mantap. 

“Mobil pick-up ?” 

“Bisa, Pak.” 

“Bagus.” 

Lima detik kemudian, Enzi tersentak. Tunggu dulu. Kenapa Pak Kades tiba-tiba menanyakan kemampuan menyetirnya? 

“Kenapa memangnya, Pak?” tanyanya cepat. 

“Hari ini, tugasmu jadi sopir kami.” 

“...” 

Enzi menatap Pak Kades tanpa berkata-kata. 

Seperti biasa, ia tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan yang diberikan pria itu. Maklum saja. Selama tinggal di Pale Gandong, hidupnya ditopang oleh Pak kades. Tempat tinggal, makanan, bahkan teh hangat saat malam terasa dingin—semuanya bisa ia nikmati tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Sebagai gantinya, ia hanya perlu membantu pekerjaan warga. Masalahnya, entah bagaimana, daftar pekerjaannya justru semakin panjang setiap hari. 

Dua mobil pick-up besar melaju menuju Desa Nyimah, desa tetangga yang memiliki sentra pengumpulan hasil pertanian. Tempat itu berfungsi sebagai pasar pengumpul, tempat para petani dan peternak menjual hasil panen sebelum dikirim ke pasar-pasar kota. 

Enzi mengemudikan salah satu mobil, semntara Karsa menyetir mobil lainnya. Pak Kades dan Pak Panji ikut bersama mereka untuk mengurus hasil panen warga Pale Gandong. 

Di sinilah peran keduanya sebagai perangkat desa terlihat jelas. Pak Kades mewakili Pale Gandong dalam urusan penjualan hasil pertanian dan peternakan, sedangkan Pak Panji aktif dalam organisasi mengelola sentra hasil panen. Setiap musim panen, baik sayuran maupun ternak, mereka membantu memastikan hasil produksi warga mendapatkan harga yang layak. Tidak terlalu murah hingga merugikan petani, tetapi juga tidak terlalu mahal sampai membuat pembeli enggan bertransaksi. 

Pak Panji dikenal pandai bernegosiasi. Ia tahu bagaimana menawarkan hasil kebun dan ternak agar bisa terjual dengan harga yang menguntungkan warga. Sementara itu, Pak Kades memiliki jaringan kenalan yang luas dan cukup disegani oleh orang-orang dari desa lain. Namanya semakin dikenal setelah ia ikut mengembangkan sistem pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk. Gagasan awalnya memang berasal dari Raka, putranya, tetapi Pak Kades-lah yang meneruskan dan memastikan sistem itu benar-benar diterapkan di Pale Gandong.

Meski begitu, reputasi Pak Kades tidak hanya bergantung pada peninggalan putranya.

Ia sudah menjabat sebagai kepala desa selama puluhan tahun. Di bawah kepemimpinannya, Pale Gandong berkembang menjadi desa yang makmur meskipun letaknya cukup terpencil. Hubungan antar pelaku usaha terjaga, hasil panen memiliki jalur penjualan, dan warga bisa saling mengandalkan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. 

Semakin lama Enzi mengikuti Pak Kades, semakin banyak hal yang ia pahami tentang desa itu.

“Ternyata, Pak Kades hebat juga,” puji Enzi saat membantu Karsa menurunkan sayuran dari mobil.

 Karsa terkekeh. “Kalau ndak hebat, mana mungkin beliau bisa jadi kades selama puluhan tahun?” 

Enzi mengangguk kecil. 

Selama dua hari terakhir, ia melihat sendiri bagaimana Pak Kades bekerja. Pria berkumis lebat yang cara bicaranya sering membuatnya kesal itu ternyata selalu punya urusan yang harus diselesaikan. Kadang ia membantu mengurus penjualan hasil panen, kadang berdiskusi dengan peternak, dan kadang menerima warga yang datang meminta bantuan. Pak Kades bukan sekadar pria yang bersedia menampung dan memberinya makan. Ia adalah seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memastikan Pale Gandong tetap berjalan dengan baik. 

Dan yang paling membuat Enzi berpikir adalah kenyataan bahwa Pak Kades masih melakukan semua itu setelah kehilangan putranya. 

Raka meninggal dalam kecelakaan menuju Pale Gandong, bersama istrinya, tiga tahun lalu. Jalan yang kini kembali menjadi jalur utama bagi hasil pertanian desa itu juga menyimpan kenangan pahit bagi keluarga Pak Kades. Namun, kehilangan tersebut tidak membuat Pak Kades berpaling dari desa yang dicintai putranya. 

Justru sebaliknya. 

Ia terus bekerja, memastikan hasil panen warga mendapatkan harga yang pantas, membantu mengurus peternakan, dan menjadi orang yang bisa diandalkan ketika ada warga membutuhkan pertolongan. 

Enzi tidak tahu dari mana pria itu mendapatkan kekuatan untuk terus menjalani semua itu. Namun, saat melihat Pak Kades berbicara dengan para petani, tertawa bersama warga, atau dengan telaten mengurus berbagai persoalan desa, Enzi mulai memahami sesuatu. Mungkin, dengan menjaga Pala Gandong tetap hidup dan berkembang, Pak Kades juga menjaga sebagian dari kehidupan Raka agar terus tinggal di sana. 

Dua hari kemudian, Enzi kembali mendapat tugas di peternakan sapi milik Pak raden. 

“Tugasmu hari ini dan besok …” Pak Kades menepuk bahunya seusai sarapan. 

Setiap kali pria itu menepuk bahunya dengan nada bicara seperti itu, Enzi selalu merasakan firasat buruk. Entah kenapa, tepukan tersebut seolah menjadi pertanda bahwa pekerjaan tidak menyenangkan sedang menunggunya. 

“...” 

Enzi memilih diam. Ia menelan ludah, bersiap mendengar kelanjutan kalimat PaK Kades. 

“Bantu Pak Raden mengurus sapi-sapinya.” 

Enzi mengembuskan napas pelan.

Sebenarnya, tugas itu tidak terdengar terlalu buruk. Ia hanya perlu membantu Pak Raden membersihkan dan mengurus kandang sapi. Sayangnya, ada satu hal yang langsung terlintas di benaknya: bau kotoran sapi. 

Ingatan tentang kejadian terakhir, ketika ia terpeleset lalu jatuh ke dalam tumpukan kotoran hingga muntah dan kehilangan kesadaran, mendadak membuat perutnya bergejolak. 

Ia belum berangkat saja sudah merasa mual. 

“Pagi, anak kota!” 

Lihat selengkapnya