NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #22

PESTA PERNIKAHAN PART 1

Lima hari sudah berlalu semenjak Enzi memilih untuk berlibur di Desa Pale Gandong. 

Sebenarnya, lima hari bukanlah waktu yang lama. Namun, entah kenapa, selama tinggal di desa itu, Enzi merasa sudah mengalami lebih banyak hal daripada beberapa bulan terakhir di kota. Ia mengenal berbagai pekerjaan di desa, orang-orang yang tinggal di sana, dan tentu saja, mengalami cukup banyak kekonyolan akibat kegagalannya menangani berbagai hal yang menurut orang-orang desa seharusnya mudah. 

Desa yang lima hari lalu terasa asing, kini mulai terasa seperti tempat yang dikenalnya. 

Enzi tak lagi kesal dengan sebutan anak kota yang melekat padanya. Ia mulai terbiasa mendengar panggilan itu, seolah anak kota memang sudah menjadi nama khusus yang diberikan orang-orang Pale Gandong kepadanya. 

Taruhan yang sesekali dibuat sekumpulan nenek setelah senam pagi juga tidak lagi terlalu mengganggunya. walaupun, jika mereka mulai membahas kejadian memalukan yang pernah dialaminya, Enzi tetap merasa ingin segera mengayuh sepedanya sejauh mungkin dari warung Wati. 

Hanya ada satu hal yang masih membuatnya kesal. 

Orang-orang di Pale Gandong masih saja menyamakan antara dokter manusia dan dokter hewan. Setiap kali hal perdebatan itu muncul, Enzi hanya bisa diam. Bukan karena ia tak bisa membantah. Bukan juga karena ia tak bisa menjelaskan. Ia hanya sudah terlalu lelah untuk mengulang penjelasan yang sama kepada orang-orang yang sepertinya tidak pernah merasa ada masalah dengan anggapan mereka.

Bagi warga desa, dokter tetaplah dokter. Dan bagi Enzi, berdebat soal itu hanya akan membuatnya semakin pusing. 

Hari-hari Enzidi Pale Gandong kini dipenuhi berbagai pekerjaan. 

Setiap pagi hingga siang, ia akan bergantian bekerja di kebun atau peternakan yang ada di desa. Saat siang tiba, ia akan kembali ke rumah Pak Kades untuk makan siang bersama dengan Cintia dan Utari. Setelahnya, ia akan beristirahat sejenak sebelum kembali melakukan pekerjaan lain pada sore hari.

Beberapa teman Cintia biasanya datang ke rumah Pak Kades untuk meminta bantuan mengerjakan PR. Awalnya, Enzi hanya membantu mereka sekali. Namun, lama-kelamaan, tugasnya bertambah. Tanpa sadar, ia berubah menjadi guru les bagi anak-anak di sana. Pelajaran yang paling sering mereka minta adalah matematika dan bahasa inggris. 

Untuk beberapa pekerjaan yang ia lakukan, Enzi tidak mendapatkan uang sebagai bayaran. Ia menerima berbagai macam hasil panen dari orang-orang desa. Kadang buah, kadang sayur, susu, telur, atau daging. Kadang pula ia mendapatkan sesuatu yang sama sekali tidak disangkanya. Seperti rumput laut kering. 

Begitu menerima rumput laut itu, mata Cintia langsung berbinar. 

“Om, buatkan kimbab lagi!” 

Enzi tertawa kecil melihat antusiasme anak itu. 

“Memangnya kamu mau makan kimbab buatan Om?” 

“Mau!” 

Jawaban Cintia yang begitu cepat membuat Enzi menggeleng geli. Ia kemudian menghubungi ibunya untuk menanyakan resep kimbab sang ibu yang biasa dibuat di rumah. 

Dengan bantuan Utari, masakan pertama Enzi berhasil dibuat dengan cukup baik. Sore itu, makanan tersebut disantap bersama Cintia dan teman-temannya setelah mereka selesai belajar.

Melihat anak-anak itu makan dengan lahap, Enzi diam-diam merasa senang. Ternyata, ada kepuasan tersendiri ketika sesuatu yang ia buat bisa membuat orang lain bahagia. 

“Tiga hari ke depan …” Pak Kades kembali menepuk bahu Enzi setelah sarapan bersama pagi itu. “Kita akan sibuk sekali.” 

Bulu kuduk Enzi langsung meremang. 

Lihat selengkapnya