NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #23

PESTA PERNIKAHAN PART 2

Keesokan harinya. 

Seperti biasa, warga Pale Gandong sudah bangun sejak pagi. Kokok ayam terdengar bersahutan, seolah-olah alam menyediakan alarm gratis seluruh penduduk desa. 

Sial … sudah pagi lagi. 

Enzi membuka mata dengan berat. Tubuhnya masih terasa lelah setelah seharian membantu persiapan pernikahan kemarin. Bukan hanya pekerjaan yang menguras tenaga, melainkan juga kesibukan yang berlangsung hingga malam. Sebagian besar warga benar-benar baru pulang ke rumah masing-masing setelah pukul delapan malam. 

Dan sekarang, ia harus bangun lagi. 

“Om Enzi!” teriak Cintia dari lantai bawah. “Sudah bangun belum?” 

Enzi mengembuskan napas panjang. Rasanya, bahkan untuk membalas teriakan anak itu saja ia harus mengumpulkan sisa-sia tenaga. Namun, ia tidak ingin membuat siapapun khawatir. 

Ia mungkin lelah, tetapi orang-orang lain pasti merasakan hal yang sama. Kalau mereka masih bisa bangun dan melanjutkan pekerjaan, ia juga harus bisa. 

“Ya, Cintia,” jawabnya dengan suara serak. “Om sudah bangun.” 

“Ayo sarapan!” 

“Bentar lagi …” 

Enzi meregangkan tubuhnya perlahan. Ia memutar leher, merentangkan kedua tangan, lalu bangkit dari tempat tidur untuk meregangkan pinggang dan kakinya. Bunyi krek … krek … terdengar setiap kali ia menggerakkan tubuhnya. Sepertinya, tubuhnya mulai mengajukan protes setelah beberapa hari terus-menerus diajak bekerja. 

Setelah melakukan sedikit peregangan, Enzi merapikan tempat tidurnya dan membuka jendela kamar. Udara pengap bercampur bau obat nyamuk yang semalam memenuhi ruangan perlahan berganti dengan udara pagi yang lebih segar. 

Ia lalu berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang berantakan. 

Fiuh … 

Enzi menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Setelah mengulanginya beberapa kali, ia merasa sedikit lebih segar dan akhirnya melangkah keluar. 

Ia menyusuri koridor, menuruni tangga, lalu tiba di ruang keluarga. 

Seekor kucing putih milik Cintia langsung menghampirinya. Hewan itu menggesekkan tubuhnya ke kaki Enzi, seolah sedang menagih perhatian pagi. 

Enzi spontan membungkuk dan menggendongnya. Ia membawa kucing itu ke ruang makan sebelum menyapa orang-orang yang sudah berada di sana. 

“Pagi.”

“Pagi,” balas Pak Kades singkat. 

Pria berkumis lebat itu sudah selesai menyantap sebagian sarapannya. Matanya masih terpaku pada TV, menyimak berita pagi dengan serius. 

“Pagi, Om,” sapa Cintia. 

Anak itu baru saja menghabiskan sarapannya. Ia segera berlari ke dapur belakang sambil membawa kucing putihnya untuk diberi makan sebelum bersiap mandi dan berangkat sekolah. 

“Pagi, Nak Enzi.” Utari datang dari dapur sambil membawa segelas minuman hangat. “Hari ini Ibu buatkan susu jahe hangat. Kamu kelihatan capek sekali kemarin.” 

“Ma-makasih banyak. Ibu perhatian sekali.” 

Enzi tersenyum kecil, lalu memperhatikan gelas di depannya. Uap tipis masih mengepul dari permukaan susu jahe itu. Ia meniupnya beberapa kali sebelum menyeruput sedikit demi sedikit, berhati-hati agar lidahnya tidak terbakar. Kehangatan minuman itu perlahan menjalar ke tubuhnya. Setelah beberapa teguk, ia mulai menyantap sarapan. 

Karena hampir semua warga sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, Utari pun tidak punya banyak waktu untuk memasak. Pagi itu, sarapan mereka sederhana: nasi goreng dengan telur dan sayuran yang dipetik dari kebun belakang. 

Meski sederhana, makanan itu terasa begitu nikmat bagi Enzi. 

Bukan semata-mata karena masakan Utari memang enak. Di tengah tubuh yang masih lelah dan jadwal yang terasa semakin padat, ia bisa duduk menikmati makanan hangat sambil menyesap susu jahe buatan seseorang yang bahkan tidak lupa memperhatikan kondisinya. 

Hal sederhana seperti itu ternyata bisa membuat pagi terasa sedikit lebih baik. 

“Hari ini …” Enzi memecah keheningan setelah beberapa saat. “Tugasku apa, Pak?”

Pak Kades tidak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk menyendok nasi goreng, sementara pandangannya tetap tertuju pada TV. Seolah-olah berita pagi itu jauh lebih penting daripada pertanyaan Enzi. 

Lihat selengkapnya