Hari pernikahan akhirnya tiba.
Semua dekorasi sudah selesai sejak pagi, sementara para warga masih sibuk menyiapkan masakan untuk para tamu. Beberapa pria mendapat tugas mengambil kursi dan meja dari gedung perwakilan desa, lalu menatapnya di area pesta sebagai tempat duduk dan makan.
Setelah memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana, orang-orang mulai bergantian bersiap untuk acara. Ningrum menjalani riasan pengantin, sementara warga yang telah ditunjuk sebagai panitia mulai mengenakan pakaian terbaik mereka dan bersiap tugas masing-masing.
Enzi pun mendapat tugas sebagai penerima tamu. Entah karena usianya masih muda atau karena menurut para perempuan di desa wajahnya cukup tampan, mereka sepakat bahwa Enzi cocok ditempatkan di pintu masuk.
“Wajah anak kota itu cukup tampan,” ujar salah seorang nenek dengan suara lantang. Jangan disia-siakan. Sayang kalau cuma dipakai buat angkat bambu.”
Dan begitulah Enzi mendapatkan tugasnya.
Ia mengenakan kemeja batik yang telah disiapkan, lalu berdiri di dekat pintu masuk bersama penerima tamu lainnya.
“Om Enzi!”
Cintia berlari menghampirinya. Matanya berbinar ketika melihat Enzi yang sudah berpakaian rapi dengan rambut tertata.
“Om Enzi ganteng sekali! Mirip oppa-oppa Korea!”
Enzi hanya bisa tertawa kecil mendengar pujian itu.
“Ma-makasih buat pujiannya, Cintia.”
“Nanti kalau aku nikah, aku cari yang mirip sama Om Enzi.”
“Kamu yakin mau cari yang mirip dengan dia?” sela Pak Kades.
Ia juga sudah mengenakan setelan batik dan celana kain hitam. Sama seperti Enzi, pria itu mendapatkan tugas sebagai penerima tamu.
“Kenapa memangnya, Kakek?” Cintia menatapnya bingung. “Om Enzi ganteng sekali, Kakek.”
“Yah, Om Enzi memang ganteng. Tapi kalau ingat dikejar angsa, apa kamu masih mau cari yang mirip kayak Om Enzi?”
Cintia terdiam sejenak.
“Khusus bagian itu, aku ndak akan cari yang mirip.”
“...”
Enzi hanya bisa diam.
Ia tidak menyangka Pak Kades masih sempat mengungkit masalah tiga angsa milik Pak Jaka di hari sepenting ini.
Bilang saja Bapak iri sama ketampananku.
“Kakek sewaktu muda juga ndak kalah ganteng dari Om Enzi,” lanjut Pak Kades dengan bangga.
Buk!
Utari mendadak muncul dan langsung memukul punggung suaminya. Dengan riasan yang menghiasi wajahnya, Utari seharusnya terlihat anggun. Sayangnya, senyum dingin yang tersungging di bibirnya justru membuat Enzi merasa lebih baik tidak ikut campur.
“Apanya yang ndak kalah, Pak??” katanya. “Mau dilihat dari manapun, tetap masih ganteng Nak Enzi.”
“Loh, Bu!” Pak Kades merengut sambil memegang punggungnya yang terasa panas. “Masa Ibu lupa betapa gantengnya Bapak dulu?”
“Sudah!” Utari menggandeng tangan Cintia, bersiap mengajaknya duduk bersama. “Jangan ngarang yang aneh-aneh, Pak.”
“Ndak mau, Nek!” Cintia melepaskan genggaman dari Utari, lalu berbalik dan menggandeng tangan Enzi. “Cintia mau sama Om Enzi saja.”
“Cintia …” panggil Utari.
Enzi buru-buru mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Utari tidak khawatir. Ia membalas genggaman tangan Cintia dengan lembut.