Malam itu, selepas membereskan semua barang di tempat pesta pernikahan, Enzi akhirnya kembali ke rumah Pak Kades. Rumah itu sudah sunyi. Pak Kades, Utari, dan Cintia sudah lebih dulu tidur karena kelelahan setelah seharian mengurus acara.
Enzi langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Ia mengganti pakaiannya dengan piyama dan jaket tebal yang biasa dipakainya untuk tidur. Setelah itu, ia turun ke lantai satu untuk mencuci muka sebelum kembali ke kamar.
Begitu kembali ke kamar, hal pertama yang dilakukannya adalah menyalakan obat nyamuk bakar. Seharusnya ia langsung berbaring di atas ranjang yang hangat dan membiarkan tubuhnya beristirahat setelah seharian sibuk. Namun, seperti biasa, Enzi justru berjalan keluar kamar.
Ia menuju loteng, lalu naik ke atap rumah—tempat yang belakangan ini menjadi ruang kecilnya untuk menyendiri dan menikmati langit malam.
Enzi duduk di tempat biasanya. Udara malam terasa dingin, tetapi ia sudah cukup terbiasa dengannya. Angin berembus pelan, membawa roam tanah dan rerumputan yang samar-samar tercium dari kejauhan.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai mengetik pesan untuk ibunya. Enzi ingin menceritakan bahwa pesta pernikahan yang dibantunya berjalan dengan baik. Ia juga ingin berterima kasih karena tanpa bantuan ibunya, ia mungkin tidak akan tahu harus mulai dari mana saat diminta mengurus dekorasi.
Setelah mengirimkan beberapa pesan, ia memilih foto yang diambil sebelum acara berakhir. Dalam foto itu, ia berdiri di samping Karsa yang mengenakan pakaian pengantinnya, bersama warga lain yang ikut berfoto. Enzi mengirimkannya kepada Elok.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Nama Ibu muncul di layar. Enzi segera mengangkat panggilan itu.
“Malam, Ibu,” sapanya hangat.
“Malam, putra Ibu tersayang.”
Enzi tersenyum kecil.
Ia tidak perlu melihat wajah ibunya untuk tahu bahwa perempuan itu sedang tersenyum di ujung sambungan. Ia bisa mendengarnya dari suara sang ibu.
“Kamu kelihatannya senang di sana, Enzi.”
“Aneh, ya, Bu?”
Enzi menoleh, memandang hamparan desa di hadapannya. Seperti biasa, Pale Gandong tampak tenang pada malam hari. Lampu-lampu rumah berwarna kuning terlihat dari kejauhan, sementara suara jangkrik terdengar bersahutan di antara rerumputan yang gelap.
Sebagian besar warga mungkin sudah tertidur karena kelelahan. Namun ketika mengingat kembali keramaian sepanjang hari tadi, Enzi justru merasa sulit percaya bahwa tempat itu kini begitu sunyi.
“Padahal awalnya aku di sini karena terpaksa,” lanjutnya. “Kalo bukan karena tanah longsor itu, aku enggak mungkin akan tinggal di sini dan kenal sama orang-orang di Pale Gandong.”
Ia terdiam sejenak, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.
“Tapi anehnya, aku justru merasa senang tinggal di sini, Bu.”
“Ibu bisa lihat itu, Enzi.” Suara Elok terdengar lembut. “Senyummu di foto, kelihatan beda. Kamu kelihatan sangat senang di sana.”
Kening Enzi sedikit mengerut.
“Apa iya, Bu?”
“Iya.” Ada jeda singkat sebelum Elok kembali berbicara. “Sudah lama sekali, Ibu enggak lihat senyum seperti itu di wajahmu.”
Enzi terdiam. Kalimat sederhana itu membuat terdiam lebih lama daripada yang ia duga.
Di seberang sambungan, Elok menarik napas pelan.