NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #26

HARI-HARI TERAKHIR LIBURAN PART 2

Waktu berlalu tanpa terasa. 

Tiga minggu liburan Enzi hampir berakhir. Lebih dari separuh waktunya telah ia habiskan di desa Pale Gandong. Tanggal 18 Februari, ia sudah harus kembali ke Kota Metraya. Sementara sekarang sudah tanggal 13. Artinya, ia hanya punya lima hari tersisa di desa itu. 

Meski begitu, lima hari terakhirnya tetap dipenuhi berbagai kegiatan. 

Tanggal 13 dan 14 dihabiskannya di perkebunan bersama Gita. Setelah panen selesai, mereka mulai mengolah tanah untuk mempersiapkan lahan sebelum penanaman berikutnya. 

Enzi awalnya mengira mereka akan kembali menanam kentang. Ternyata tidak. 

“Kita ndak akan menanam kentang lagi,” ujar Gita. “Kita ganti tanaman dulu.” 

Kening Enzi mengerut. Sejak pagi ia membantu mengolah tanah, ia mengira pekerjaan berikutnya adalah menanam kentang kembali. 

“Loh? Kenapa?”

“Rotasi tanaman.” 

Gita kemudian menjelaskan bahwa tanaman yang sama tidak selalu bisa ditanam terus-menerus di lahan yang sama. menanam tanaman yang sama bisa membuat masalah tertentu lebih mudah muncul, mulai dari penyakit hingga berkurangnya unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dengan merotasi tanaman, kondisi tanah bisa lebih terjaga dan siklus penyakit tertentu dapat diputus. 

Enzi mendengarkan sambil sesekali mengangguk. 

Dari situ, ia kembali menyadari sesuatu. Berkebun ternyata tidak sesederhana menanam benih, menyiramnya, lalu menunggu sampai bisa dipanen. Ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum sebuah tanaman bahkan menyentuh tanah. Semakin lama tinggal di Pale Gandong, semakin sering Enzi menemukan pekerjaan yang ternyata jauh lebih rumit daripada kelihatannya. Dan semakin pula ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui. 

Tanggal 15 Februari, Enzi kembali mendapatkan tugas di peternakan sapi milik Pak Raden. 

Dalam perjalanan menuju ke sana, ia melewati warung Wati. Seperti biasa, sekumpulan nenek sedang berkumpul di depannya untuk melakukan senam pagi. 

Namun, begitu melihat Enzi, mereka langsung menghentikan gerakan. 

“Pagi, anak kota!” sapa Wati dengan ramah. 

Enzi tidak langsung menjawab. 

Entah kenapa, sapaan itu justru membuat bulu kuduknya meremang. Selama tinggal di Pale Gandong, ia sudah terbiasa dipanggil anak kota. Namun, biasanya sapaan itu disertai senyum yang terlalu lebar, tatapan penuh rasa ingin tahu, atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya. 

Taruhan. 

Apa-apaan ini? Kenapa mendadak mereka ramah sekali? Jangan bilang mereka mau—

“Kamu mau ke mana, anak kota?” tanya Mak Parti. 

“Ke tempat Pak Raden, Nek.” 

Seketika Wati mengangkat tangannya. 

“Oke, nenek-nenek sekalian!” serunya. “Kita mulai taruhan lagi!” 

Enzi memejamkan mata. Ia sudah tahu adegan ini akan kembali terjadi. 

“Taruhan hari ini,” lanjut Wati, “apakah anak kota akan muntah atau ndak.” 

Enzi menghela napas panjang. 

“Nenek-nenek sekalian …” Ia menyela dengan suara yang naik satu oktaf. “Aku masih di sini, Nek. Tolong tunggu aku pergi dulu, baru kalian pasang taruhan.” 

Namun, tidak ada satupun yang memedulikannya. Mereka tetap sibuk menentukan taruhan masing-masing, seola-olah Enzi tidak sedang berdiri beberapa meter dari mereka. 

Dasar … 

Enzi kembali mengayuh sepedanya. Kepalanya menggeleng pelan, tetapi sudut bibirnya justru terangkat sedikit. Menyebalkan memang. Namun, iIa sudah mulai terbiasa dengan mereka. 

“Anak kota!” 

Begitu sampai tiba di peternakan, Enzi mendengar suara Pak Raden memanggilnya. Ia buru-buru turun dari sepeda dan berlari menghampiri sumber suara. 

“Kenapa, Pak?” 

Pak Raden berdiri di dalam kandang sapi, tepat di depan seekor sampi yang tampak meringkuk di lantai. 

Enzi langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. 

“Sapinya sakit?” 

Pak Raden mengangguk. “Kelihatannya begitu.” 

“Sudah Bapak periksa?” 

“Sudah.” 

“Terus gimana?” 

Pak Raden menggeleng ragu. 

“Ndak yakin.” Ia kemudian menoleh kepada Enzi. “Menurutmu bagaimana, anak kota?”

Mata Enzi langsung membesar. “Kenapa Bapak malah tanya saya?” 

“Kan kamu dokter?” 

Enzi menatap Pak Raden selama beberapa detik, seolah-olah berharap pria itu akhirnya menyadari sendiri letak kesalahannya. 

“Saya ini mahasiswa kedokteran untuk manusia, Pak,” jelasnya untuk kesekian kalinya. 

“Ya, kan mumpung kamu di sini, anak kota.” 

“...” 

Enzi menarik napas panjang.  

Dulu, ia mungkin akan menghabiskan beberapa menit untuk menjelaskan lagi perbedaan dokter manusia dan dokter hewan. Sekarang, ia tahu bahwa penjelasan itu hanya akan berakhir di tempat yang sama. 

Tanpa banyak bicara, Enzi mengambil ponselnya. Ia berjalan ke tempat yang menurutnya memiliki sinyal paling baik, lalu membuka daftar kontak. Catur. 

Panggilan tersambung setelah beberapa kali nada dering. 

“Catur!” 

Nada suara Enzi jauh dari ramah. Bahkan hampir terdengar seperti berteriak. 

“Kalo ada waktu, cepat ke sini!” Ia melirik sapi yang masih meringkuk di kandang. “Ada yang butuh bantuanmu!” 

Setengah jam kemudian, Catur benar-benar datang ke Pale Gandong. 

Ia membawa beberapa peralatan yang biasa digunakannya untuk memeriksa hewan. Pengalaman Catur memang cukup banyak. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu ayahnya yang mengurus peternakan kambing di Desa Nyimah. 

“Halo, Enzi,” sapanya ramah. 

“Halo, Catur,” balas Enzi dengan senyum. 

“Jadi, siapa yang butuh bantuanku?” 

Tanpa banyak bicara, Enzi langsung menunjuk ke arah sapi yang sejak tadi meringkuk di lantai kandang. 

“Kata Pak Raden, sapi itu enggak mau makan sejak pagi. Air liurnya terus keluar, dan setiap kali dikasih makanan, makanannya keluar lagi.” 

Catur mengangguk, lalu mendekati sapi tersebut. 

Ia kemudian berjongkok di depan sapi tersebut dan mulai memeriksanya. Ia memperhatikan kondisi tubuhnya, memeriksa napas dan denyut jantungnya, lalu membuka mulut sapi itu untuk melihat bagian dalamnya. 

Enzi yang berdiri di sampingnya, spontan bergidik. Ia menggeleng pelan, lalu tanpa sadar mundur beberapa langkah. 

Catur tidak memedulikannya. Setelah selesai melakukan pemeriksaan awal, ia berdiri dan menoleh kepada Pak Raden. 

Lihat selengkapnya