NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #27

AKU PASTI RINDU DESA INI PART 1

Catur mencoba mendekati tiga makhluk berbulu putih itu dengan membawa pakan. Awalnya, ketiga angsa hanya memperhatikannya dari kejauhan. Namun, setelah beberapa kali diberi makan, mereka mulai mendekat dan mengikuti Catur. 

Melihat itu, Catur mulai memperhatikan ketiganya dengan saksama. 

“Lihat …” katanya kepada Enzi “Mereka sudah jinak, kan? Mereka sama sekali ndak kejar aku.” 

Kening Enzi langsung mengerut. 

Cara itu sebenarnya sudah pernah ia coba. Awalnya, ketiga angsa itu memang menurutinya. Namun, begitu pakan di tangannya habis, mereka kembali mengejarnya. 

“A-aku sudah pernah coba cara itu,” ujar Enzi. “Tapi begitu pakannya habis, mereka mulai mengejarku lagi.” 

“Yang benar?” 

“Kamu pikir aku bohong?” balas Enzi sedikit sengit. “Kalo enggak percaya, kamu bisa tanya orang-orang di desa ini. Mereka semua bisa jadi saksi.” 

Catur menatapnya tak percaya. “Separah itu?” 

“Kalo enggak separah itu, aku enggak akan minta bantuanmu.” 

Catur kembali mengamati ketiga angsa tersebut. Sesekali, ia masih memberikan pakan untuk menjaga perhatian mereka.

“Tapi kenapa angsanya cuma tiga?” tanyanya kemudian. 

Matanya menyapu halaman rumah Pak Jaka, seolah sedang mencari alasan di balik jumlah angsa yang hanya tiga ekor. 

Enzi pun menjelaskan bahwa angsa-angsa itu dipelihara Pak Jaka sebagai pengganti anjing penjaga. Pak Jaka tidak suka memelihara anjing, sehingga ia memilih menggunakan angsa sebagai penjaga rumah dan peternakannya. 

“Oh …” Catur kembali berpikir. “Memang angsa bisa dijadikan penjaga. Mereka cukup berisik kalau ada orang asing. Kalau merasa terganggu, mereka juga bisa galak.” 

“Aku sudah beberapa kali berusaha dekat dengan mereka,” jelas Enzi. “Tapi, kenapa cuma aku yang terus-terusan dikejar?” 

Catur menoleh kepadanya. Kali ini, sorot matanya berubah serius. 

“Angsa bisa memperhatikan bahasa tubuh,” jelasnya. “Kalau seseorang takut, gerakannya biasanya berbeda. Bisa jadi mereka menangkap respons kamu sebagai sesuatu yang menarik.” 

Enzi menatap bergantian ke arah tiga angsa milik Pak Jaka. 

“Menarik?” ulangnya. 

“Iya.” 

“Maksudnya?” 

“Mungkin mereka tahu kamu takut.” 

Enzi kembali menatap ketiga angsa itu. Matanya kemudian bertemu dengan mata angsa paling depan. Angsa itu diam. Enzi juga diam. Lalu, tanpa sadar, ia melangkah mundur satu langkah. 

“Catur.” 

“Apa?” 

“Kayaknya mereka tahu.” 

Catur belum sempat menjawab. Ketiga angsa itu tiba-tiba mengepakkan sayap. Leher mereka turun mendekati tanah, tubuh mereka condong ke depan, lalu mereka bergerak maju dengan cepat. 

Enzi membeku. 

Sepersekian detik kemudian, ketiga angsa itu berlari ke arahnya. 

“AAAA!” 

Enzi langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga. 

Catur ikut membeku selama beberapa detik. Beberapa saat lalu, tiga angsa itu masih berdiri tenang di dekat kakinya, menerima pakan dengan patuh. Sekarang, mereka sudah berlari mengejar Enzi seperti baru saja mendapat tugas penting. 

Mata Catur menatap ketiga angsa itu. Kemudian menatap Enzi yang sudah berlari menjauh. 

“Serius?” 

“CATUR! TOLONG!” 

Teriakan itu akhirnya menyadarkan Catur. Ia segera berlari menyusul mereka. 

Ketiga angsa itu terus mengejar Enzi, membuatnya berputar-putar di halaman rumah Pak Jaka. Teriakannya terdengar sampai ke rumah-rumah di sekitar. 

“PAK JAKA! TOLONG!” 

Mendengar keributan itu, Pak Jaka segera keluar dari tempat penyimpanan kotoran bebek. 

“Apa? Ada apa?” 

“ANGSANYA!” 

Pak Jaka langsung memahami situasinya. Tanpa membuat waktu, ia ikut berlari mengejar mereka. 

Lihat selengkapnya