Malam tiba dengan cepat.
Seperti kebiasaannya semenjak tinggal di Desa Pale Gandong, setelah makan malam bersama, Enzi kembali naik ke atap rumah itu. Awalnya, ia datang ke sana untuk mencari sinyal agar bisa mengirim pesan kepada sang ibu. Namun, belakangan ini, ia naik ke atap hanya untuk duduk sebentar dan menikmati suasana malam.
Malam ini pun tak berbeda.
Selama beberapa menit, Enzi sibuk mengirim pesan kepada ibunya. Isinya sederhana: cerita tentang kegiatan hari ini dan rencana kegiatan di esok hari. Ia juga memberitahu bahwa besok dirinya bersama dengan Catur akan ke pusat kota Seranusa untuk membeli oleh-oleh. Sebelum mengakhiri pesannya, ia bertanya apakah orang di rumah menginginkan oleh-oleh tertentu.
Klik. Pesan terkirim.
Enzi meletakkan ponselnya di samping tubuhnya, lalu diam menatap pemandangan desa di bawahnya. Satu persatu rumah terlihat dari tempatnya. Kebun-kebun di sekitar yang tampak gelap, sementara jalan desa diterangi lampu-lampu berwarna kuning.
Aku pasti akan rindu desa ini.
Liburannya di Pale Gandong hanya tinggal sehari.
Setelah itu, ia akan kembali ke Kota Metraya. Kembali menjadi mahasiswa kedokteran. Kembali menjadi anak di rumah. Kembali menjadi kakak dan adik bagi keluarganya.
Enzi tersenyum tipis ketika mengingat satu hal. Setidaknya, ketika sudah kembali ke rumah, ia tidak perlu berlari sambil berteriak meminta tolong karena dikejar tiga ekor angsa.
Ia terkekeh sendiri.
Benar juga. Selama hampir tiga minggu di desa ini, ia sudah mengalami banyak hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mulai dari dikejar ayam, jatuh ke dalam kotoran sampai, sampai menjadi sasaran kejaran tiga angsa yang entah kenapa begitu membencinya. Atau mungkin mereka memang menyukainya, seperti kata Catur.
Enzi menggeleng cepat.
Enggak mungkin. Mereka jelas-jelas ingin membunuhku.
Masih dengan senyum kecil di wajahnya, ia mengambil kembali ponselnya. Kali ini, ia tidak berniat mengirim pesan atau menghubungi siapapun. Ia hanya membuka galeri foto.
Sore tadi, ia berkeliling desa menggunakan sepeda milik ayah Cintia dan mengambil banyak foto sebagai kenang-kenangan. Ada foto sekumpulan nenek yang bisa bersantai di depan warung Bu Wati. Ada foto orang-orang yang ditemuinya di jalan. Ada foto Pak Kades bersama keluarganya.
Kemudian, ada foto tempat-tempat yang menyimpan kenangan tersendiri baginya. Kebun milik Gita, tempat ia pertama kali belajar tentang pekerjaan di perkebunan. Halaman belakang rumah Pak Kades, tempat ia belajar mengambil telur ayam—meski pada akhirnya ayam-ayam itu justru mengejarnya. Depan warung Bu Wati, tempat ia pertama kali mengetahui dirinya bisa menjadi bahan taruhan. Jalan sebelum gapura desa, tempat longsor terjadi dan membuatnya terjebak di Pale Gandong. Ada pula rumah Pak Kades, tempat di mendapat tempat berteduh ketika tidak tahu harus pergi kemana. Dan tentu saja, atap rumah itu, yang kini menjadi salah satu tempat favoritnya.
Enzi menggeser layar.
Peternakan sapi milik Pak Raden. Tempat ia pertama kali pingsan setelah jatuh ke dalam kotoran sapi. Lalu, tiga angsa milik Pak Jaka. Enzi bahkan sempat mengambil beberapa foto mereka. Meskipun ketiga makhluk berbulu putih itu sering membuatnya kesal, jujur saja, mereka memberinya pengalaman yang tidak akan pernah ia dapatkan di rumah. Berkat mereka juga, kemampuan berlarinya meningkat pesat. Sayangnya, kemampuan itu selalu digunakan untuk menyelamatkan diri.
Aku pasti akan rindu tempat ini.
Kali ini, senyum Enzi perlahan memudar. Matanya mulai berkaca-kaca. Bukan semata-mata karena ia tidak ingin pergi. Ia hanya baru menyadari bahwa dalam waktu yang singkat, tempat yang awalnya terasa asing ini telah menyimpan terlalu banyak kenangan untuk sekadar ditinggalkan begitu saja.
“Nak Enzi.”
Suara Pak Kades terdengar dari arah jendela.
“Ya, Pak,” jawab Enzi, sedikit menaikkan suara. “Saya di sini.”
Tidak lama kemudian, Pak Kades datang menyusul. Di tangannya terdapat dua gelas wedang jahe hangat. Salah satunya diberikan kepada Enzi sebelum ia duduk di sampingnya.
“Kenapa duduk di sini lagi?”
Pak Kades menyesap wedang jahenya untuk menghangatkan tubuh. Ia sudah mengenakan jaket tebal, tetapi angin malam tetap terasa menusuk.
“Merenungi apa lagi? Gagal menjinakkan angsa punya Jaka?”
Seketika, Enzi tertawa kecil.
Ia benar-benar tidak menyangka Pak Kades dengan wajah datarnya bisa mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Saya memang kesal karena tiga angsa itu cuma mengejar saya,” jawab Enzi. Tawa kecil masih tersisa di wajahnya. “Tapi mereka bukan masalah yang sampai bikin saya duduk di sini, Pak.”
Pak Kades kembali menyesap wedang jahenya. Enzi mengikuti. Ia kemudian melirik pemuda di sampingnya.
“Kalau bukan itu, terus merenungi apa?” tanya Pak Kades. “Padahal belakangan ini kamu kelihatan sudah lebih baik dibandingkan hari pertama ke sini.”
Enzi terkekeh kecil. Belakangan ini, sudah terlalu banyak orang yang mengatakan hal yang sama kepadanya.
“Apa iya, Pak?”
“Iya. Sorot matamu sudah lebih hidup.”
Kali ini, Enzi ia tidak tertawa. Ia hanya tersenyum sambil kembali menatap pemandangan desa.
“Bapak pikir kamu sudah menemukan jawaban seperti Raka.”
Senyum Enzi perlahan melebar. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Kalo dibilang sudah menemukan jawaban … mungkin belum, Pak.”