Perjalanan membeli oleh-oleh yang seharusnya menyenangkan, kini terasa seperti sebuah bencana. Bukan hanya harus membawa satu anak kecil, Enzi harus membawa enam anak sekaligus.
“Kenapa merengut begitu?” tanya Gita yang duduk di kursi depan. Ia duduk di samping Catur yang mengemudi.
Gita sebenarnya juga memiliki keperluan di pusat Kota Seranusa. Karena itu, ia akhirnya ikut bersama Enzi dan Catur.
Awalnya, Enzi berniat duduk di depan bersama Catur. Namun, Cintia merengek dan meminta duduk bersamanya. Alhasil, mau tidak mau, Enzi duduk di kursi tengah bersama Cintia dan dua teman perempuannya. Sementara tiga anak laki-laki duduk di kursi belakang.
“Kerja bagus, Cintia,” puji Gita, seolah sengaja menyindir Enzi yang harus duduk di belakang bersama anak-anak.
Enzi melirik tajam ke arahnya, lalu menghela napas panjang.
“Enggak apa-apa,” jawabnya pasrah.
Pada titik itu, Enzi hanya bisa menerima nasibnya. Ia tahu protes pun percuma. Tidak ada yang akan membantunya mendapatkan kursi depan.
Padahal semalam, aku baru bilang aku pasti akan rindu desa ini. Tapi pagi ini …
Enzi menghela napas lagi.
Ah, sudahlah.
Perjalanan menuju pusat Kota Seranusa memakan waktu sekitar satu jam empat lima menit. Sepanjang perjalanan, Catur sesekali mengganti saluran radio hingga menemukan lagu-lagu anak yang disukai keenam penumpang kecilnya. Tak lama kemudian, mobil dipenuhi suara nyanyian mereka.
Enzi sempat bertanya-tanya bagaimana anak-anak itu bisa bernyanyi sekeras itu tanpa kehabisan napas. Namun, setelah sekitar setengah jam, satu persatu mulai terlelap.
Akhirnya, ketenangan kembali datang.
Enzi menyandarkan tubuh ke kursi dan memandang keluar melalui jendela yang sedikit terbuka. Udara segar pegunungan masuk bersama angin. Sesekali, ia mengangkat ponselnya untuk memotret pemandangan di sepanjang jalan: tikungan yang berkelok, pepohonan rindang, perbukitan, hingga rumah-rumah yang mereka lewati.
Tanpa sadar, kelopak matanya ikut terasa berat.
“Hei, anak kota!”
Suara itu menusuk telinga Enzi, disusul guncangan di bahunya.
“Ehm?” sahut Enzi, masih setengah mengantuk.
“Kita sudah sampai, anak kota.”
Enzi membuka mata perlahan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum melihat ke sekeliling.
Cintia dan lima temannya sudah bangun. Anehnya, wajah mereka tampak begitu segar. Seolah tidur selama perjalanan tadi sudah mengisi penuh tenaga mereka. Sementara itu, Gita dan Catur sudah bersiap turun dari mobil.
Enzi hanya bisa menghela napas.
Tenaga mereka ini sebenarnya di simpan di mana, sih?
Tujuan pertama Enzi adalah sebuah studio foto.
Ia ingin mencetak foto pernikahan Karsa dan Ningrum sebagai hadiah untuk Pak Kades dan keluarganya.
“Ditunggu dua jam, Mas,” ujar pegawai studi setelah menerima berkas foto dari ponsel Enzi.
“Bisa sekalian sama piguranya, enggak?”
“Bisa, Mas.”
“Ya sudah, sekalian.”
Setelah urusan foto selesai, rombongan kecil itu melanjutkan perjalanan menuju salah satu toko oleh-oleh terbesar di pusat Kota Seranusa.
Sebenarnya tidak banyak yang perlu dibeli Enzi. Keluarganya hanya meminta beberapa oleh-oleh khas Seranusa, seperti coklat dan kopi. Namun, ia tidak hanya membeli titipan keluarganya. Enzi mengambil beberapa kue khas Seranusa untuk dibagikan kepada orang-orang di Pale Gandong. Tidak lupa, ia juga membelikan makanan untuk Cintia dan lima temannya. Bahkan Gita dan Catur akhirnya ikut ditraktir.
Pukul setengah tujuh pagi Enzi berangkat dari Pale Gandong. Sekitar pukul delapan lewat, mereka sudah tiba di pusat Kota Seranusa. Menjelang pukul sebelas, semua keperluan Enzi sebenarnya sudah selesai.
Seharusnya, mereka sudah bisa kembali ke desa.