NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #30

MALAM PERPISAHAN PART 2

Enzi dan rombongannya tiba lebih terlambat dari perkiraan. 

Di tengah perjalanan pulang, mobil yang dikendarai Catur sempat mengalami masalah. Mereka terpaksa berhenti selama kurang lebih setengah jam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Akibatnya, ketika sampai di Pale Gandong, langit sudah benar-benar gelap. 

“Loh, kok gelap begini?” ujar Catur. 

Mobil perlahan melewati gapura besar di pintu masuk desa. 

Enzi menatap keluar jendela. 

Tidak ada satupun lampu yang menyala. Lampu jalan mati. Lampu rumah juga tidak terlihat. Bahkan beberapa rumah yang biasanya selalu terang di malam hari kini tampak seperti bangunan kosong. Desa yang selama ini terasa hangat dan akrab mendadak berubah asing. Gelap. Sunyi. Dan entah kenapa, menyeramkan. 

“Om … kok gelap sekali?” Cintia tiba-tiba merapat ke tubuh Enzi dan memeluk lengannya. 

Enzi menoleh. Kelima teman Cintia juga mulai mendekat satu sama lain. 

“Apa mungkin sedang mati lampu?” tanya Enzi. 

“Mungkin,” jawab Gita lirih. Ia menoleh ke kanan dan kiri. “Tapi kok ndak ada orang?” 

Mobil terus bergerak perlahan menyusuri jalan desa. 

“Biasanya kalau mati lampu, orang-orang keluar rumah,” lanjut Gita. “Lagian, kalau cuma mati lampu, ndak mungkin segelap ini.” 

“Ke-kenapa?” 

Suara Enzi mulai bergetar. Bukan hanya karena dirinya sendiri takut. Enam anak di dekatnya sudah mulai gelisah. 

“Peternakan punya generator cadangan,” jawab Gita. 

“Oh.” 

Enzi terdiam. Pandangannya kembali menyusuri rumah-rumah yang mereka lewati. 

Kalo gitu … kenapa enggak ada lampu sama sekali yang menyala? 

Mobil akhirnya berhenti tidak jauh dari rumah Pak Kades. Cahaya lampu mobil menyinari halaman depan. Beberapa meja dan kursi terlihat sudah tertata rapi. Namun, tidak ada makanan. Tidak ada orang. Tidak ada suara. Hanya meja kosong yang berdiri di tengah halaman gelap. 

Cintia dan kelima temannya menolak turun dari mobil. 

“Om …” 

“Tenang saja,” ujar Enzi, meski suaranya sendiri tidak terdengar meyakinkan. “Om Cuma lihat sebentar.” 

“Ayo.” 

Catur membuka pintu. Enzi ikut turun. Sementara Gita tetap berada di dalam mobil bersama anak-anak. 

Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, jantung Enzi berdegup semakin kencang. Pikirannya mulai melayang ke mana-mana. Mungkin memang mati lampu. Mungkin semua orang sedang tidur. Mungkin ada masalah. Atau … pikiran Enzi berhenti pada satu kemungkinan yang jauh lebih buruk. Film zombie. Virus misterius. Orang-orang yang mendadak berubah menjadi makhluk yang mengejar manusia. 

Enzi menelan ludah. 

Jangan-jangan … 

“Enzi.” 

Suara Catur membuatnya tersentak. 

“Kita periksa ke dalam rumah.” 

Enzi menatap ke rumah Pak Kades. Bangunan itu gelap gulita. Ia ingin melangkah. Namun, kedua kakinya justru terasa berat. Ia sempat mengangkat satu kaki, lalu mengurungkannya lagi. 

Sementara itu, Catur sudah berjalan beberapa meter di depan. 

Enzi menelan ludah lagi. Lalu perlahan-lahan, ia berbalik. Mungkin lebih baik kembali ke mobil. Setidaknya di sana ada Gita dan enam anak yang bisa diajak—

Klik. 

Seluruh lampu menyala hampir bersamaan. Bukan hanya lampu rumah Pak Kades. Lampu jalan. Lampu halaman. Lampu-lampu hias yang sudah dipasang di sekitar rumah Pak Kades. Semua menyala hampir bersamaan. 

Enzi membeku. “Apa—” 

“Hei, anak kota!!!” 

Teriakan itu menggema dari berbagai arah. Bukan satu suara. Bukan juga dua. Melainkan, ratusan suara yang bersahut-sahutan. 

Enzi menoleh cepat. 

Dari balik rumah Pak Kades, dari sisi halaman, bahkan dari beberapa rumah di seberang jalan, orang-orang mulai bermunculan. Pak Jaka. Pak Raden. Karsa. Ningrum. Gita yang kini sudah keluar dari mobil. Utari. Cintia dan teman-temannya. Dan hampir seluruh orang yang selama tiga minggu terakhir dikenal Enzi. 

“Anak kota! Selamat datang!” 

Enzi berdiri mematung. 

“A-apa-apaan ini?” 

Suaranya bergetar. Ia masih belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. 

Lalu—DUAR! 

Satu kembang api meledak di langit. Cahaya berwarna-warni menghiasi langit malam Pale Gandong. Disusul kembang api berikutnya. Dan berikutnya lagi. 

Lihat selengkapnya