NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #31

NANTI, AKU DATANG LAGI PART 1

Apa-apaan ini? 

Untuk beberapa saat, Enzi hanya bisa berdiri membeku. Matanya menatap orang-orang di sekitarnya yang mulai menunjukkan gejala aneh. Satu persatu dari mereka muntah-muntah. Beberapa mengeluhkan sakit perut. Yang lain mulai terlihat lemas dan harus dibantu untuk duduk. 

Kenapa ini? Apa yang salah? 

Sekilas, pikiran Enzi kembali pada film zombie dan virus misterius yang tadi sempat terlintas di pikirannya. Namun, ia buru-buru membuang jauh pikiran itu. 

Enggak mungkin. 

Ia menarik napas, lalu kembali mengamati keadaan di sekelilingnya. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Beberapa orang mulai sakit, sementara dirinya masih baik-baik saja. Begitu juga Catur, Gita, dan beberapa orang lainnya. 

Kenapa mereka sakit, sementara aku enggak apa-apa? 

Sebagai mahasiswa kedokteran, Enzi berusaha memaksa otaknya untuk tetap berpikir meskipun jantungnya berdegup kencang. Matanya menyapu meja-meja yang dipenuhi sisa makanan. Bebek goreng. Capcay. Sate daging. Ayam bakar. Sup jamur. Berbagai makanan yang sejak tadi mereka makan bersama. Namun, ada beberapa makanan yang tidak disentuhnya malam ini. 

“Hei, anak kota!” 

Teriakan Gita yang kencang memaksa Enzi kembali ke dunia nyata. 

Enzi tersentak. “Y-ya?” 

Gita menghampirinya. Ekspresinya dipenuhi kepanikan. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Enzi!” Catur juga datang menghampiri. Ia termasuk salah satu dari sedikit orang yang masih dalam keadaan baik-baik saja. “Kenapa ini? Kenapa semua orang—” 

“Aku belum tahu pasti,” poting Enzi. 

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Tangannya masih bergetar. Ia tidak bisa menghilangkan rasa takut itu begitu saja, tetapi setidaknya ia bisa berusaha agar rasa takut tersebut tidak menguasai tindakannya. Panik hanya akan membuat situasi semakin buruk. 

“Gejalanya bisa mengarah ke keracunan, tapi kita belum tahu penyebabnya.” 

“Keracunan?” ulang Catur. 

Enzi mengangguk pelan. 

“Aku enggak yakin. Kita harus cari tahu dulu.” Matanya kembali menyapu orang-orang yang mulai sakit. “Yang penting sekarang, kita pisahkan dulu orang yang kondisinya paling parah. Jangan kasih mereka makan apapun lagi.” 

“Terus?” 

“Catur, kamu cari bantuan medis. Puskesmas, ambulans, siapapun yang bisa datang ke sini secepatnya.” 

“Oke.” 

Catur langsung mengambil ponselnya. Ia mencoba mencari sinyal dan meminta bantuan.

Enzi beralih kepada beberapa pria yang masih terlihat sehat. 

“Bantu pindahkan orang-orang yang sakit ke dalam rumah Pak Kades. Yang kondisinya paling lemah dulu. Kalo di dalam sudah penuh, gunakan teras.” 

Beberapa orang langsung bergerak membantu.” 

“Jangan paksa siapapun berdiri kalo mereka terlalu lemas. Dan kalo ada yang tidak sadar, bilang ke saya.” 

Enzi sendiri mulai berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Ia memeriksa kesadaran mereka, menanyakan keluhan, dan memperhatikan siapa yang masih mampu duduk atau berdiri sendiri. Di tengah kekacauan itu, ingatannya justru melayang pada salah satu percakapan keluarganya beberapa tahun lalu. Saat itu, kakaknya, Zera, pernah bercerita tentang keadaan IGD ketika menerima banyak pasien dengan keluhan yang sama. 

Jangan panik. Pisahkan pasien berdasarkan kondisi. Yang paling parah harus mendapat pertolongan lebih dulu.

Enzi tidak pernah menyangka percakapan di ritual wajib keluarganya yang dulu membuatnya merasa sesak dan tertinggal, justru akan membantunya hari ini. Ia masih belum tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan keadaan tersebut. Namun, setidaknya, ia tahu bahwa ia tidak boleh hanya berdiri diam. 

“Huek!” 

Suara muntah membuat Enzi tersentak. 

Pak Kades, yang sejak tadi membantu memindahkan salah satu warga, tiba-tiba membungkuk sambil memegangi perutnya. 

“Pak!” 

Enzi langsung menghampirinya. Namuni belum sempat ia berbuat banyak, Utari yang berdiri tidak jauh dari sana ikut meringis sambil memegangi perutnya. 

“Bu Utari?” 

Enzi menatap mereka bergantian. Suaranya mulai bergetar. 

Pak Kades dan Bu Utari juga sakit? 

“Om Enzi …” 

Tangisan Cintia terdengar dari belakang. 

Enzi menoleh. Anak itu berdiri di dekat Utari dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca. 

“Cintia?” 

“Perutku sakit, Om …” 

Dada Enzi terasa sesak. 

“Gita!” 

Gita segera berbalik.

Lihat selengkapnya