NANTI, AKU DATANG LAGI

mahes.varaa
Chapter #32

NANTI, AKU DATANG LAGI PART 2

Malam berlalu dengan sangat lambat. 

Mungkin inilah malam terlama yang pernah Enzi rasakan seumur hidupnya. Bukan karena ia sengaja begadang, melainkan karena ia terlalu takut untuk memejamkan mata sebelum semua orang mendapatkan pertolongan. 

Orang-orang yang diduga mengalami keracunan sudah dipindahkan ke rumah sakit terdekat. Meski sempat mengalami kesulitan mendapatkan ambulans karena kondisi desa yang terpencil, menjelang pukul empat pagi, semua warga dengan kondisi yang cukup parah akhirnya berhasil dievakuasi. 

Enzi sebenarnya ingin tinggal lebih lama di Pale Gandong. 

Meski keracunan itu bukan kesalahannya, ia tetap merasa memiliki andil dalam kejadian tersebut. Orang-orang desa mengalami malam yang mengerikan ketika mereka sebenarnya hanya ingin membuat pesta perpisahan kecil untuknya. 

“Jangan terlalu dipikirkan, Nak,” ucap Pak Kades pelan. 

Pria berkumis itu sedang menunggu ambulans yang akan membawanya ke rumah sakit. Kondisinya sebenarnya tidak terlalu parah. Namun, petugas kesehatan meminta semua orang yang diduga mengalami keracunan untuk diperiksa lebih lanjut di rumah sakit, terutama karena masih ada kemungkinan munculnya komplikasi akibat racun jamur. 

“Ini bukan kesalahanmu, Nak,” lanjut Pak Kades. “Ini murni musibah. Ndak ada satupun orang di desa yang akan menyalahkanmu.” 

Enzi menunduk. 

Setelah semalaman membantu petugas kesehatan menangani warga yang sakit, tubuhnya mulai terasa sangat lelah. Namun, ia tidak banyak mengeluh. Ia tahu semua orang juga merasakan hal yang sama. Baik warga yang sakit, warga yang masih sehat, maupun petugas kesehatan yang sejak malam tadi terus bekerja. 

“I-iya, Pak.” 

Pak Kades kembali menepuk bahunya, lalu menggenggam erat selama beberapa detik. Kebiasaan kecil yang sudah beberapa kali dilakukannya setiap kali ingin memberi Enzi sedikit kekuatan. 

“Kerja bagus,” pujinya lirih. “Semalam kamu hebat sekali.” 

Senyum tipis terbit di wajah Enzi yang pucat. Ia menoleh ketika merasakan genggaman Pak Kades di bahunya tidak sekuat biasanya. 

“Waktu terakhir kita bicara di genteng malam itu,” lanjut Pak Kades. 

Enzi menatapnya. 

“Kamu bilang mungkin sudah menemukan jawabannya. Tapi malam itu, Bapak lihat wajahmu masih belum benar-benar yakin.” 

Pak Kades menarik napas pelan.

“Dan semalam, Bapak lihat sendiri kamu tetap berusaha ketika keadaan sedang kacau.” 

Enzi terdiam. 

“Dan ternyata,” lanjut Pak Kades dengan wajah datarnya, “anak kota yang selama ini dikejar angsa itu bisa juga diandalkan.” 

Spontan, Enzi tertawa kecil. 

“Bapak masih sempat-sempatnya ingat itu?” 

“Kejadian itu akan diingat untuk waktu yang lama, Nak.” Pak Kades diam sejenak, tersenyum tipis. “Bukan cuma Bapak, tapi seluruh orang di desa.” 

Enzi menggeleng sambil tersenyum. 

Namun, beberapa detik kemudian, senyum itu perlahan menghilang. Ia kembali menatap halaman rumah Pak Kades. 

Semalam, ketika semua orang mulai sakit, Enzi memang takut. Tangannya gemetar. Ia bahkan tidak yakin apakah apa yang dilakukannya sudah benar. Namun, entah bagaimana, percakapan-percakapan yang selama ini terasa menyesakkan di rumah justru di kepalanya. 

Percakapan antara Ayah dan Zera. 

Hal-hal yang dulu membuatnya merasa kecil ketika duduk di meja saat sarapan, ternyata tetap tersimpan di kepalanya sebagai sesuatu yang bisa ia gunakan ketika dibutuhkan. 

Dulu, semua itu sering terasa seperti pengingat betapa jauh dirinya tertinggal dari anggota keluarganya. Namun, semalam, ketika ia tidak punya banyak waktu untuk meragukan dirinya sendiri, semua yang pernah didengarnya kembali muncul. Bukan sebagai ukuran untuk membandingkan dirinya dengan orang lain, melainkan sebagai sesuatu yang bisa ia gunakan untuk, membantu. 

Mungkin selama ini Enzi hanya terlalu sibuk melihat bagaimana percakapan-percakapan itu membuat dirinya merasa tertinggal. Sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada banyak hal yang sebenarnya ia pelajari dari keluarganya. 

“Enzi.” 

Catur menghampirinya. 

Pria itu sempat tertidur sebentar di kursi teras. Wajahnya terlihat sangat lelah. Sejak kemarin, ia berkali-kali mengemudikan mobil pulang-pergi ke pusat Kota Seranusa. Setelah itu, ia ikut dalam pesta perpisahan Enzi dan akhirnya terlihat dalam membantu warga yang keracunan. 

“Kamu harus siap-siap,” ujar Catur. “Keretamu berangkat jam tujuh, kan?” 

“Aku tahu.” 

Lihat selengkapnya