Enam bulan berlalu dengan cepat.
Enzi kembali disibukkan dengan kegiatan utamanya sebagai mahasiswa kedokteran. Setengah tahun telah berlalu, ia masih belum tahu ingin menjadi dokter seperti apa di masa depan. Hanya saja, sekarang ia sudah punya sedikit bayangan. Ada beberapa pilihan muncul dalam benaknya, meski ia belum bisa menentukan pilihan.
Kalau dibandingkan dengan keadaan setengah tahun lalu, setidaknya sekarang ia sudah tahu bahwa ia tidak harus langsung memiliki semua jawabannya.
“Enzi!”
Teriakan sang ibu menarik Enzi dari lamunannya setelah bangun tidur.
“Ya, Bu.”
Enzi yang semula masih berbaring di ranjang buru-buru bangkit. Setelah merapikan tempat tidurnya seadanya, ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.
Setelahnya, ia berhenti sejenak di depan cermin besar di kamarnya. Sambil menyisir rambut yang masih berantakan, ia meraih ponselnya dan membuka media sosialnya.
Ia mencari sebuah unggahan enam bulan lalu dengan caption singkat: Nanti, aku datang lagi. Unggahan itu berisi banyak foto. Ada foto Pak Kades bersama keluarganya. Pak Jaka. Pak Raden. Gita bersama neneknya. Ada pula foto orang-orang yang hadir di pesta pernikahan Karsa dan Ningrum. Tak lupa beberapa foto pemandangan Desa Pale Gandong. Dan tentu saja, ada tiga ekor angsa menyebalkan milik Pak Jaka.
Setengah tahun lalu, Enzi selalu kesal setengah mati setiap kali dikejar tiga makhluk berbulu putih itu. Namun setelah kembali ke Metraya dan menjalani hari-harinya seperti biasa, anehnya ia justru mulai merasa rindu setiap kali melihat angsa. Tanpa sadar, bibirnya akan membentuk senyum kecil ketika mengingat dirinya berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak meminta tolong karena dikejar tiga makhluk itu.
Siapa sangka, kejadian yang dulu ingin sekali dilupakannya justru menjadi salah satu kenangan yang paling sering membuatnya tertawa sendiri?
Enzi menghela napas panjang.
Satu hari lagi …
Setelah merapikan penampilannya, ia memasukkan ponsel ke saku celana, lalu turun ke lantai bawah, tempat keluarganya sudah menunggu. Sarapan bersama adalah salah satu ritual yang hampir tidak pernah dilewatkan, kecuali dalam keadaan tertentu.
“Pagi, Enzi.”
Ayah dan Zera menyapanya hampir bersamaan.
“Pagi, Ayah,” balas Enzi. “Pagi, Mbak.”
Enzi kemudian mengambil kursi tepat di samping Zera dan bersiap sarapan.
Menu pagi itu adalah nasi goreng buatan ibunya. Asapnya masih mengepul dari atas piring. Dulu, nasi goreng itu tampak biasa saja di mata Enzi. Salah satu menu sarapan yang sering dibuat ibunya.
Namun sekarang, setiap kali melihat nasi goreng, pikirannya selalu teringat pada Utari, istri Pak Kades. Perempuan itu juga pandai memasak, tidak kalah dari ibunya. Hanya saja, nasi goreng yang pernah Enzi makan di Pale Gandong punya rasa yang berbeda. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah ia temukan di tempat lain selain di desa itu.
“Pagi, Ayah …”
Leon datang dengan seragam sekolahnya. Ia menyapa semua orang yang sudah duduk di meja makan.
“Pagi, Mbak. Pagi, Mas.”
“Pagi, Leon,” jawab Enzi, Ayah, dan Zera hampir bersamaan.
Leon kemudian mengambil kursi di samping ibunya, seperti biasa. Ia langsung meminum segelas susu yang sudah disiapkan sebagai pembuka sarapan. Tak lama kemudian, Elok ikut duduk bersama mereka.
Sarapan pun dimulai.
Awalnya semuanya berjalan tenang. Masing-masing sibuk menikmati makanan di hadapan mereka. Lalu, seperti sarapan-sarapan sebelumnya, Herman—sang ayah, mulai membuka percakapan.
“Gimana progresmu, Zera? Ada kemajuan?”
“Lumayan, Yah,” jawab Zera sambil tetap menyantap makanannya. “Mungkin enggak lama lagi aku bisa ajukan hasilnya.”
“Kalau butuh bantuan, cepat bilang ayah.”
Zera mengangguk. “Ya, Ayah.”
Herman mengalihkan pandangannya kepada anak bungsunya. “Gimana dengan kamu, Leon? Kamu mau ikut olimpiade lagi?”
Leon mengangguk.
“Ya, Ayah.” Ia menelan makanan di mulutnya sebelum melanjutkan. “Minggu depan aku ada kamp untuk para peserta, Ayah.”
“Kalau begitu, Ayah doakan semoga lancar, Leon.”
“Makasih, Ayah.” Leon tersenyum kecil. “Aku pasti akan melakukan yang terbaik.”
Perhatian Herman kemudian beralih kepada anak keduanya.
“Gimana dengan kamu, Enzi?”
Sejak tadi, Enzi makan dengan tenang sambil mendengarkan percakapan mereka.
“Kamu sudah mulai libur, kan? Ada rencana mau apa liburan ini?”
Enzi menghabiskan makanan di mulutnya, lalu meminum susu sebelum menjawab. “Ada, yah.”
“Apa rencanamu?”
Enzi menatap ayahnya. “Aku mau liburan ke Pale Gandong lagi.”
Mendadak, beberapa pasang mata beralih kepadanya. Bahkan gerakan tangan yang sedang menyendok makanan sempat terhenti.
“Kamu mau ke sana lagi?” tanya Elok.
Nada suaranya sedikit naik. Kekhawatiran yang dulu pernah dirasakannya rupanya belum sepenuhnya hilang.
“Gimana kalau ada longsor lagi?”
Enzi menggeleng pelan. “Enggak akan ada, Bu. Ini kan musim kemarau.”
Zera yang duduk di sampingnya menatap Enzi dengan senyum kecil.
“Aku penasaran,” ujarnya. “Apa yang kamu lakukan di sana sampai mau balik lagi, Enzi?”
Enzi membalas senyum itu.
“Banyak hal menarik di sana, Mbak.” Ia berhenti sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Mungkin enggak seperti liburan yang biasa kita lakukan. Tapi di sana, aku punya tempat sendiri.”
Leon menatap Enzi dengan bibir sedikit merengut.
“Kenapa Mas suka sekali di sana?” tanyanya. “Waktu itu Mas pulang dalam keadaan kelelahan. Kulit Mas sedikit menghitam karena gosong. Mas juga kurusan.”
Enzi terkekeh.
Dulu, dalam situasi seperti ini, Enzi mungkin hanya akan menundukkan kepala. Ia selalu melihat keluarganya sebagai orang-orang hebat dengan kemampuan masing-masing. Ayah dengan karirnya. Zera dengan bakatnya. Leon dengan berbagai prestasinya.