Blurb
NANTI, KALAU KITA
Raka Adhinata tidak pernah percaya bahwa jatuh cinta bisa terjadi begitu saja.
Di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun, ia belum pernah memiliki kekasih. Bukan karena tidak ada perempuan yang mendekatinya, tetapi karena tidak pernah ada satu pun yang berhasil membuat hatinya benar-benar ingin menetap.
Sampai Alya datang.
Seorang perempuan sederhana, hangat, dan selalu punya cara untuk membuat suasana kantor terasa lebih ringan. Awalnya Raka hanya mengagumi cara Alya bekerja. Lalu ia mulai memperhatikan senyumnya, kebiasaannya, caranya memperlakukan orang lain, hingga tanpa sadar kehadiran Alya menjadi sesuatu yang ia tunggu.
Namun ketika perasaan itu mulai tumbuh, Raka menemukan sebuah kenyataan yang membuatnya harus berhenti.
Alya sudah menikah.
Bukan hanya seorang istri, Alya juga seorang ibu dari anak laki-laki berusia tiga belas tahun.
Raka tahu, perempuan yang dicintainya bukan miliknya untuk diperjuangkan.
Maka ia memilih mundur.
Bukan karena perasaannya hilang, tetapi karena ia tidak ingin cintanya menjadi alasan bagi seseorang kehilangan rumah tangganya.
Di sisi lain, Alya sedang berjuang mempertahankan rumah yang selama bertahun-tahun perlahan kehilangan kehangatannya. Pernikahannya tidak hancur karena satu pengkhianatan besar, melainkan karena luka-luka kecil yang terus dibiarkan.
Alya bertahan demi cinta, demi anaknya, dan demi sebuah keluarga yang ingin ia pertahankan.
Sementara Raka belajar bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya.
Mungkin, jika mereka memang ditakdirkan...
mereka tidak perlu saling merebut.
Tidak perlu saling mencari.
Tidak perlu memaksa keadaan.
Cukup menunggu sampai Allah menentukan waktunya.
Karena mungkin bukan sekarang.
Mungkin nanti.
Nanti, kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama.