Nanti, Kalau Kita

fitriyanti
Chapter #1

Lelaki yang tidak mudah jatuh cinta

Pagi yang Terlalu Sibuk.

Pukul tujuh lewat dua puluh menit ketika mobil hitam itu berhenti tepat di depan gedung kantor.

Pagi di kota selalu punya cara sendiri untuk membuat orang merasa tertinggal.

Suara klakson bersahutan dari jalan raya. Pedagang kopi di seberang gedung sibuk melayani pelanggan yang terburu-buru. Beberapa karyawan berjalan cepat menuju pintu utama sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangan.

Di tengah keramaian itu, seorang laki-laki turun dari mobil dengan langkah tenang.

Kemeja putih yang dikenakannya rapi tanpa satu lipatan pun. Jas hitam tersampir sempurna di tubuhnya. Rambutnya tertata sederhana, tidak berlebihan. Wajahnya tampak serius, nyaris tanpa ekspresi.

Begitu kakinya menginjak lobi, beberapa orang langsung menundukkan kepala.

“Selamat pagi, Pak Raka.”

“Pagi, Pak.”

“Pagi, Pak Raka.”

Raka mengangguk satu per satu.

“Pagi.”

Tidak banyak.

Memang tidak pernah banyak.

Raka Adhinata, tiga puluh lima tahun, adalah salah satu direktur di perusahaan keluarganya. Hari ini tepat 1 bulan ia menjadi pemimpin perusahaan menggantikan papanya, pak Adhinata. Di usia ketika sebagian orang masih sibuk mencari arah hidup, ia sudah terbiasa duduk di ruang rapat, membaca laporan keuangan, mengambil keputusan yang menyangkut puluhan karyawan, dan menerima telepon bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.

Orang-orang mengenalnya sebagai atasan yang tegas.

Sebagian mengatakan dingin.

Sebagian lainnya bilang sulit diajak bercanda.

Raka tidak terlalu peduli dengan semua penilaian itu.

Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan.

Ada target yang harus dicapai. Ada masalah yang harus diselesaikan. Ada keputusan yang harus diambil.

Sederhana.

Yang tidak sederhana justru urusan yang selalu dibawa keluarganya setiap kali mereka berkumpul.

Pernikahan.

Raka memasuki lift bersama sekretarisnya, Dito, yang sejak tadi sibuk membuka tablet.

“Pak, hari ini ada rapat direksi pukul sembilan. Jam sebelas tiga puluh meeting dengan klien dari Surabaya. Setelah makan siang ada—”

“Batalkan makan siang saya.”

Dito menghentikan jarinya.

Ia menatap Raka dari samping.

“Lagi?”

Raka tetap menatap lurus ke depan.

“Iya.”

“Bapak sudah tiga kali membatalkan makan siang minggu ini.”

“Berarti minggu ini baru tiga kali.”

Dito menahan tawa.

“Bapak sadar tidak kalau manusia itu perlu makan?”

“Saya makan.”

“Kapan?”

Raka meliriknya.

Dito langsung kembali menatap tabletnya.

“Baik. Pertanyaan saya tidak perlu dijawab.”

Pintu lift terbuka.

Mereka keluar menuju lantai tempat ruang direksi berada.

Beberapa karyawan yang sedang berdiskusi langsung memberi jalan.

Raka berjalan melewati mereka tanpa tergesa-gesa. Sesekali ia berhenti ketika ada yang menyampaikan laporan singkat.

“Pak, dokumen kontrak yang kemarin sudah saya kirim ke legal.”

“Baik. Pastikan mereka review hari ini.”

“Siap, Pak.”

Begitu sampai di ruangannya, Raka meletakkan ponsel di atas meja.

Ruangan itu luas, tetapi hampir tidak memiliki dekorasi yang berlebihan. Sebuah meja kerja besar, rak buku, sofa kecil di sudut ruangan, dan jendela kaca yang memperlihatkan sebagian kota.

Dito meletakkan beberapa map di meja.

“Ini laporan yang perlu tanda tangan Bapak.”

Raka membuka map pertama.

“Yang ini setelah rapat.”

“Baik.”

Dito hendak pergi ketika Raka bertanya,

“Dito.”

“Ya, Pak?”

“Jam sembilan tepat?”

“Rapat direksi?”

Raka mengangguk.

“Ya.”

“Pukul sembilan tepat.”

Raka melihat jam tangannya.

Masih ada waktu.

Ia duduk, membuka laptop, lalu mulai membaca laporan.

Beberapa menit berlalu.

Ruangan itu kembali sunyi.

Hanya suara pendingin ruangan dan bunyi ketukan jari Raka di atas keyboard.

Bagi Raka, pagi seperti ini adalah pagi yang ideal.

Tenang.

Teratur.

Tidak ada percakapan yang tidak perlu.

Tidak ada gangguan.

Tidak ada pertanyaan tentang kapan ia menikah.

Sayangnya, ketenangan itu tidak pernah bertahan terlalu lama.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari ibunya.

Mama: Jangan lupa makan siang.

Lihat selengkapnya