Hari Senin selalu datang dengan wajah yang sama.
Pagi yang terburu-buru, antrean lift yang panjang, suara langkah kaki yang bersahutan, dan wajah-wajah karyawan yang berusaha terlihat segar meskipun sebagian dari mereka mungkin masih ingin kembali ke tempat tidur.
Raka tiba di kantor seperti biasa.
Tepat waktu.
Tidak lebih cepat, tidak terlambat.
Begitu keluar dari lift, ia langsung berjalan menuju ruangannya. Di tangannya terdapat sebuah map tipis berisi dokumen yang harus dibahas dalam rapat pagi itu.
Baru beberapa langkah berjalan, suara seseorang membuat langkahnya melambat.
“Sebentar, jangan panik.”
Raka menoleh.
Di dekat meja bagian administrasi, seorang perempuan sedang berdiri di samping seorang laki-laki muda yang tampak kebingungan.
Perempuan itu mengenakan hijab berwarna krem sederhana. Kemeja putih dan rok panjang berwarna gelap membuat penampilannya terlihat rapi, tetapi tidak berlebihan.
Ia sedang menunjuk sesuatu pada layar komputer.
“Kamu tadi bilang mau ke bagian legal, kan?”
“Iya, Mbak. Tapi saya dari tadi muter-muter. Saya takut salah masuk.”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Gedung ini memang suka bikin orang merasa sedang ikut lomba mencari harta karun.”
Laki-laki itu ikut tertawa.
“Berarti saya memang tersesat, Mbak.”
“Bukan tersesat. Baru latihan mengenal medan.”
Raka berdiri beberapa meter dari mereka.
Entah mengapa ia tidak langsung melanjutkan langkah.
“Begini,” perempuan itu melanjutkan, “ruang legal ada di lantai sebelas. Kamu naik lift yang sebelah sana, bukan yang ini. Nanti kalau bingung lagi, tanya resepsionis.”
“Baik, Mbak. Terima kasih banyak.”
“Iya. Sama-sama.”
Laki-laki itu pergi.
Perempuan tadi kembali ke mejanya.
Barulah ia menyadari Raka berdiri tidak jauh darinya.
Senyumnya langsung berubah menjadi senyum sopan.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi.”
Raka mengangguk.
Perempuan itu kembali menatap layar komputer.
Raka seharusnya melanjutkan langkah.
Namun sebelum benar-benar pergi, matanya sempat menangkap tumpukan berkas di meja perempuan itu.
“Bukankah itu laporan yang harusnya masuk ke bagian keuangan?”
Perempuan itu menoleh.
“Yang ini, Pak?”
“Iya.”
“Oh.”
Ia melihat berkas itu sebentar.
“Tadi saya bantu cek dulu karena bagian keuangan sedang penuh.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Ia kembali berjalan.
Hanya percakapan singkat.
Tidak ada sesuatu yang istimewa.
Setidaknya begitulah yang Raka pikirkan.
Sampai ia masuk ke ruangannya dan meletakkan map di atas meja.
Entah kenapa, wajah perempuan tadi sempat terlintas di pikirannya.
Cara bicaranya.
Cara ia tertawa.
Cara ia membantu karyawan baru tanpa terlihat sedang berusaha mendapatkan perhatian siapa pun.
Raka membuka laptop.
“Fokus.”
Ia mulai membaca dokumen.
Beberapa menit kemudian Dito masuk.
“Pak, untuk rapat—”
“Ya.”
“Pak?”
Raka mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Bapak tadi bilang ‘fokus’.”
Raka mengerutkan kening.
“Memangnya saya bicara?”
Dito menahan senyum.
“Bicara sendiri, Pak.”
Raka kembali menatap layar.
“Mungkin saya sedang berpikir.”
“Berarti saya tidak mengganggu?”
“Tidak.”
Dito mengangguk.
“Baik.”
Ia keluar.
Raka menghela napas pelan.
Ia kembali membaca laporan.
Kali ini berhasil.
Atau setidaknya ia berusaha.
Menjelang siang, suasana kantor menjadi sedikit lebih ramai.
Raka baru selesai menandatangani beberapa dokumen ketika terdengar suara tawa dari luar ruangannya.
Ia tidak tahu mengapa suara itu terdengar begitu jelas.
Raka keluar.
Di dekat pantry, beberapa karyawan sedang bercanda.
Perempuan yang tadi pagi ada di sana.
Alya.
Kali ini Raka baru mengetahui namanya karena salah seorang karyawan memanggilnya.
“Mbak Alya, ini kopi siapa?”
“Punya kamu.”
“Bukan. Saya pesan teh.”
Alya melihat gelas itu.
“Oh iya, salah.”
“Terus kenapa dikasih ke saya?”