Beberapa hari kemudian, sebuah rapat penting kembali digelar.
Kali ini hanya ada beberapa orang dari divisi inti.
Raka duduk di ujung meja.
Alya duduk beberapa kursi darinya.
Sejak rapat dimulai, Raka berusaha fokus pada laporan.
Angka.
Target.
Strategi.
Semuanya jelas.
Semuanya bisa dihitung.
Semuanya bisa dikendalikan.
Berbeda dengan perasaan.
“Pak Raka?”
Suara Alya membuatnya mengangkat kepala.
“Ya?”
“Untuk bagian ini, saya rasa ada yang perlu disesuaikan.”
Alya menunjuk salah satu angka di layar.
Raka memperhatikan.
“Kenapa?”
“Kalau targetnya menggunakan angka tahun lalu, hasil proyeksinya terlalu tinggi. Ada beberapa faktor yang berbeda tahun ini.”
Raka diam sejenak.
Ia membaca kembali data tersebut.
Benar.
Alya tepat.
“Baik. Ubah bagian itu.”
Alya mengangguk.
“Siap.”
Rapat kembali berlangsung.
Beberapa menit kemudian, salah seorang peserta rapat salah menyebutkan angka.
Alya spontan mengangkat tangan.
“Maaf, tapi sepertinya angkanya bukan itu.”
Pria tersebut memeriksa catatannya.
“Oh iya. Saya salah baca.”
Alya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Saya tadi juga hampir salah.”
Raka tanpa sadar tersenyum kecil.
Alya melihatnya.
Hanya sesaat.
Kemudian ia kembali menatap layar.
Namun senyum Raka tadi tidak luput dari perhatian salah satu peserta rapat.
Dito.
Ketika rapat selesai dan semua orang keluar, Dito sengaja berjalan paling belakang.
Ia mendekati Raka.
“Pak.”
“Apa?”
“Bapak tadi senyum.”
Raka langsung menatapnya.
“Saya memang bisa tersenyum.”
“Saya tahu.”
Dito menahan tawa.
“Cuma jarang.”
Raka mengambil berkas di atas meja.
“Kalau tidak ada pekerjaan, keluar.”
Dito mengangguk.
“Baik.”
Namun sebelum pergi, ia sempat berkata,
“Menurut saya, kantor jadi lebih enak kalau Bapak sering senyum.”
Raka tidak menjawab.
Dito keluar.
Raka kembali sendirian.
Ia menatap layar yang sudah gelap.
Kemudian tanpa sadar teringat percakapan tadi.
Alya yang mengaku hampir salah.
Alya yang tidak mempermalukan orang lain ketika mereka melakukan kesalahan.
Alya yang selalu menemukan cara sederhana untuk membuat suasana tidak terlalu berat.
Hal-hal kecil.
Tidak penting.
Seharusnya.
Tetapi justru hal-hal kecil itulah yang belakangan terus tinggal di kepalanya.
Sore hari, Raka keluar dari ruangannya untuk menemui salah satu manajer.
Ketika melewati meja Alya, ia mendengar suara tawa kecil.
Alya sedang berbicara dengan dua rekan kerjanya.
“Kalau laporan itu bisa ngomong, mungkin dari tadi sudah minta resign.”
Mereka tertawa.