Nanti, Kalau Kita

Pitri Yanti
Chapter #5

Sahabat yang sudah lama dikenal

Sore menjelang magrib. Raka sudah terlalu lelah hari ini. Awalnya ia ingin langsung pulang ke rumahnya tetapi dia ingat tadi siang kakak lelakinya yang bernama Aditya mengundangnya untuk makan malam di rumahnya karena istrinya yaitu Nayla sedang masak banyak. Sebenarnya itu semua Aditya lakukan untuk mencari tahu soal asmara Raka. Karena ibunya berpesan kepada aditya agar membantunya dalam hal mencari jodoh untuk adeknya itu.

Raka baru saja melangkah masuk ke ruang keluarga ketika suara tawa seseorang membuat langkahnya terhenti.

Ia mengenal suara itu.

Perempuan yang beberapa minggu terakhir entah kenapa semakin sering muncul di dalam pikirannya.

Alya.

Perempuan itu sedang duduk di samping Naila. Hijabnya masih sederhana seperti biasa, hanya kali ini wajahnya terlihat jauh lebih santai daripada ketika berada di kantor.

Tidak ada tumpukan berkas di tangannya. Tidak ada laptop terbuka di depan wajahnya. Tidak ada ekspresi serius ketika menerima instruksi dari atasan.

Ia sedang tertawa.

Dan anehnya, tawa itu membuat Raka kembali teringat pada sesuatu yang selama beberapa hari terakhir berusaha ia abaikan.

Ia terlalu sering memperhatikan perempuan itu.

“Raka!”

Suara Aditya membuatnya tersadar.

“Dari tadi berdiri di situ seperti orang salah rumah.”

Raka menghela napas pendek lalu masuk.

“Ramai sekali.”

“Memangnya kamu pikir kami mengadakan rapat direksi?” Aditya tertawa. “Duduklah.”

Raka mengambil tempat di sofa yang agak jauh dari Naila dan Alya.

Naila kakak iparnya yang sejak tadi memperhatikan langsung tersenyum.

“Raka, kamu sudah kenal Alya, kan?”

Raka menoleh.

“Tentu. Dia bekerja di perusahaan.”

Alya tersenyum kecil.

Naila langsung tertawa.

“Bukan itu maksudku.”

Raka mengernyit.

Naila menunjuk Alya.

“Dia itu sahabatku.”

Raka terdiam.

“Sahabat?”

Alya mengangguk.

“Iya.”

“Sejak kapan?” tanya Raka.

Naila menatap Alya, kemudian tertawa seperti baru saja mengingat sesuatu.

“Sejak aku masih kerja di perusahaan kalian.”

Raka mengerutkan dahi.

“Perusahaan kami?" Raka sebenarnya belum terlalu mengenal kakak iparnya karena selama ini Raka tinggal di Amerika menyelesaikan pendidikannya. Jadi ia tak begitu mengenal kisah kakaknya dan iparnya itu.

“Iya.”

Naila bersandar santai.

“Dulu aku kerja di sana sebelum menikah sama Mas Aditya.”

Raka memandang kakaknya.

Aditya mengangguk.

“Benar. Naila dulu memang satu kantor dengan Alya.”

Raka kembali menatap Alya.

Jadi selama ini…

Ia dan Alya ternyata memiliki satu titik kehidupan yang sama, bahkan sebelum dirinya menyadari keberadaan perempuan itu.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena kamu waktu itu sibuk kuliah dan kemudian mengurus banyak hal setelah pulang,” jawab Aditya. “Kamu juga bukan tipe orang yang hafal semua karyawan.”

Raka tidak membantah.

Itu memang benar.

Selama ini ia mengenal karyawan berdasarkan jabatan, pekerjaan, dan tanggung jawab mereka. Tidak lebih.

Namun sekarang, ketika nama Alya disebut, ia justru ingin tahu lebih banyak.

Naila tersenyum kepada Alya.

“Dulu aku anak baru. Alya senior yang pertama kali mau ngajarin aku.”

Alya langsung menggeleng.

“Bukan ngajarin. Aku cuma membantu.”

“Beda tipis.”

“Beda jauh.”

Naila tertawa.

“Kamu lupa? Hari pertama aku kerja, aku sampai salah masuk ruangan.”

Alya ikut tertawa.

Lihat selengkapnya