Setelah makan malam selesai, suasana di rumah Naila justru semakin ramai.
Aditya membawa beberapa gelas teh ke ruang keluarga, sementara Naila sibuk membereskan piring yang sebenarnya sudah beberapa kali diminta Alya untuk dibiarkan saja.
“Sudah, Nai. Aku bantu.”
“Enggak usah. Kamu tamu.”
“Aku bukan tamu. Aku sudah terlalu sering makan di rumahmu.”
Naila tertawa.
“Nah, itu. Makanya jangan merasa jadi tamu.”
Raka yang sejak tadi duduk di sofa hanya memperhatikan percakapan mereka. Ada sesuatu yang berbeda ketika Alya bersama Naila.
Di kantor, Alya adalah seorang karyawan yang selalu menjaga sikap. Sopan, profesional, dan tahu batas.
Tetapi di rumah ini, Raka melihat sisi lain perempuan itu.
Alya lebih santai.
Lebih banyak tertawa.
Dan entah kenapa, Raka menyukai sisi itu.
“Daripada habis makan terus mengantuk,” kata Aditya sambil meletakkan beberapa kartu permainan di atas meja, “kita main.”
Naila langsung duduk.
“Main apa?”
“Tebak kata.”
Alya mengangkat alis.
“Serius?”
“Kenapa?”
“Karena terakhir kali kita main, Abang Aditya curang.”
Aditya langsung protes.
“Lho, kapan saya curang?”
“Waktu itu.”
“Itu bukan curang. Itu strategi.”
“Strategi apanya? Kata yang harus diperagakan ‘dokter’, Abang malah batuk-batuk.”
Naila tertawa keras.
Raka tanpa sadar ikut tersenyum.
Aditya menunjuknya.
“Nah, Raka. Kamu ikut.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Saya lihat saja.”
“Tidak bisa. Kamu terlalu sering serius. Sekali-sekali harus belajar bersenang-senang.”
“Aku bersenang-senang.”
Aditya menatapnya beberapa detik.
“Kapan?”
Raka diam.
Alya yang duduk di seberang mereka menahan senyum.
“Sepertinya pertanyaan itu sulit dijawab, Pak.”
Raka menoleh.
“Menurut kamu?”
Alya mengangkat bahu.
“Saya cuma menyimpulkan dari ekspresi Abang Aditya.”
Aditya langsung tertawa.
“Nah, dengar itu. Bahkan Alya membenarkan saya.”
Raka menghela napas.
“Baik. Satu permainan.”
“Deal!”
Pembagian tim dilakukan secara acak.
Dan entah bagaimana, nama Raka dan Alya justru berada dalam satu kelompok.
Aditya melihat kartu mereka, lalu tersenyum lebar.
“Wah. Ini menarik.”
Raka menatap kakaknya curiga.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Naila segera mengambil kartu pertama.
“Sudah, jangan banyak bicara. Mulai.”
Permainan berjalan cukup kacau.