Keesokan paginya, Raka datang lebih awal dari biasanya.
Ia masuk ke ruangannya, meletakkan tas, lalu duduk di belakang meja.
Beberapa dokumen sudah menunggu untuk diperiksa.
Namun baru beberapa menit membaca, pikirannya kembali melayang.
Rasyid.
Raka menghela napas.
“Kenapa saya malah memikirkan ini?”
Ia mencoba kembali membaca dokumen.
Tidak berhasil.
Akhirnya ia memanggil Dito.
“Dito.”
“Iya, Pak?”
“Kalau seorang karyawan…”
Raka berhenti.
Dito menunggu.
“Kalau seorang karyawan sering pulang cepat karena ada anak yang menunggu di rumah…”
Dito mengerutkan kening.
“Iya, Pak?”
Raka langsung mengubah kalimatnya.
“Tidak jadi.”
Dito terdiam.
“Bapak yakin?”
“Yakin.”
Dito keluar dengan wajah bingung.
Raka kembali menatap dokumen di depannya.
Ia bahkan tidak mengerti mengapa pertanyaan sederhana seperti itu sampai muncul di kepalanya.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangannya diketuk.
“Ada waktu sebentar, Pak?”
Raka mengangkat kepala.
Alya berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa dokumen.
Dan entah kenapa, pagi itu tatapan Raka berhenti sedikit lebih lama dari biasanya.
Alya.
Perempuan yang semalam baru saja meninggalkan rumah Naila.
Perempuan yang ternyata memiliki kehidupan lain yang tidak ia kenal.
“Masuk,” ujar Raka.
Alya melangkah masuk.
“Ini laporan yang Bapak minta kemarin.”
Raka menerima dokumen itu.
“Sudah diperiksa?”
“Sudah.”
Raka membacanya sebentar.
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Berarti saya tidak dimarahi hari ini.”
Raka menatapnya.
“Kalau tidak membuat kesalahan, kenapa harus dimarahi?”
Alya tertawa kecil.
“Berarti hari ini aman.”
Raka hampir tersenyum.
Namun sebelum senyum itu benar-benar muncul, ia kembali menundukkan wajah pada dokumen.
Ia tidak ingin Alya tahu bahwa sejak semalam, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Bukan tentang laporan.
Bukan tentang pekerjaan.
Melainkan tentang kehidupan Alya yang selama ini tidak pernah ia tanyakan.
Dan semakin ia berusaha untuk tidak memikirkannya…
semakin besar rasa ingin tahunya.
Sejak pagi itu, Raka berusaha bersikap seperti biasa.
Ia bekerja.
Memeriksa laporan.
Menghadiri rapat.
Memberikan arahan kepada beberapa kepala divisi.
Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya saja ada satu hal yang berubah.
Alya.
Atau mungkin bukan Alya yang berubah.
Melainkan cara Raka melihatnya.
Saat Alya datang ke kantor pagi itu, Raka sedang berjalan menuju ruang rapat bersama Dito.
Perempuan itu baru saja masuk dari pintu utama.
Hijabnya berwarna abu muda. Tangannya membawa tas kerja dan sebuah kotak makan kecil.
Raka hanya melirik sekilas.
Lalu kembali berjalan.
Namun beberapa langkah kemudian, pandangannya kembali bergerak ke belakang.
Kotak makan itu.
Entah kenapa ia mengingat percakapan semalam.
Sudah makan belum?
Jangan tidur dulu.
Rasyid.
Raka mengerutkan kening.
Ia bahkan tidak tahu kenapa nama itu masih teringat.
“Pak?”
Suara Dito membuatnya menoleh.
“Ya?”
“Kita ke ruang rapat.”
“Saya tahu.”
Dito mengangguk.
Namun sebelum masuk ke ruang rapat, Raka sempat melihat Alya berhenti di meja salah satu karyawan baru.
“Ini nanti tinggal masukkan ke folder yang ini,” jelas Alya. “Kalau bingung, tanya saja. Jangan dipendam sendiri.”
Karyawan baru itu mengangguk.
“Terima kasih, Mbak Alya.”
“Sama-sama.”
Alya kemudian kembali ke mejanya.
Raka memperhatikan sebentar.
Ia sudah sering melihat Alya melakukan hal seperti itu.
Membantu orang lain.
Menjelaskan sesuatu.
Mengambil pekerjaan kecil yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.