Nanti, Kalau Kita

Pitri Yanti
Chapter #7

Sebuah nama di layar ponsel

Hari itu kantor terasa lebih sibuk dari biasanya.

Sejak pagi, beberapa divisi harus menyelesaikan laporan yang akan dibahas dalam rapat besar akhir pekan. Orang-orang mondar-mandir membawa dokumen, beberapa meja dipenuhi berkas, dan suara printer terdengar hampir tanpa henti.

Raka sendiri sejak pagi berada di ruang rapat.

Namun pikirannya beberapa kali justru teralihkan.

Bukan karena pekerjaan.

Melainkan karena satu hal yang sebenarnya tidak penting.

Alya.

Hari ini perempuan itu izin datang lebih siang.

Raka tahu karena kemarin Alya sudah meminta izin.

Awalnya ia tidak memikirkan hal itu.

Setidaknya sampai pukul sepuluh lewat, ketika ia tanpa sadar melihat jam tangannya untuk kesekian kalinya.

Dito yang duduk di seberangnya menyadari gerakan itu.

“Pak, kita masih punya waktu sekitar dua puluh menit sebelum rapat berikutnya.”

Raka mengangguk.

“Saya tahu.”

Dito kembali melihat laptop.

Beberapa menit kemudian, Raka kembali melihat jam.

Dito akhirnya tersenyum.

“Bapak menunggu seseorang?”

Raka mengangkat wajah.

“Tidak.”

“Baik.”

Dito menahan senyum.

Raka menghela napas.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, Pak.”

“Kalau tidak apa-apa, jangan tersenyum seperti itu.”

Dito terkekeh.

“Siap.”

Pintu ruangan kemudian diketuk.

Seorang staf masuk membawa beberapa dokumen.

“Pak Raka, ini berkas dari bagian keuangan.”

Raka menerimanya.

“Taruh di sini.”

Staf itu mengangguk lalu keluar.

Raka kembali melihat jam.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh.

Dan beberapa menit kemudian—

pintu lift terbuka di lantai mereka.

Alya keluar.

Ia berjalan sedikit tergesa-gesa sambil merapikan ujung hijabnya.

“Maaf, maaf…”

Ia menghampiri meja resepsionis dan meletakkan tasnya.

Seorang rekan kerja menoleh.

“Telat, Mbak?”

“Iya. Tadi ada urusan.”

“Sudah makan?”

Alya menggeleng.

“Nanti saja.”

Raka yang kebetulan keluar dari ruangannya melihat kejadian itu.

Mata mereka bertemu.

Alya langsung tersenyum.

“Selamat pagi, Pak.”

“Pagi.”

Raka memperhatikan wajah Alya.

Ada sedikit lelah di sana.

“Kamu baik-baik saja?”

Alya tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Baik, Pak.”

“Yakin?”

Alya mengangguk.

“Iya. Cuma tadi ada sedikit urusan.”

Raka mengangguk.

“Kalau belum sempat makan, makan dulu.”

Alya tersenyum.

“Siap, Pak.”

Raka kemudian melangkah pergi.

Baru beberapa langkah, ia berhenti.

Ia sendiri tidak tahu mengapa ia tadi bertanya apakah Alya baik-baik saja.

Biasanya ia tidak pernah terlalu memperhatikan kondisi pribadi karyawan.

Namun pada Alya, hal-hal kecil seperti itu seolah muncul begitu saja.


Menjelang makan siang, suasana kantor mulai sedikit tenang.

Sebagian karyawan turun ke kantin.

Lihat selengkapnya