Sejak percakapan singkat tentang Rasyid kemarin, ada satu hal yang terus mengganggu pikiran Raka.
Bukan karena ia ingin tahu urusan pribadi Alya.
Setidaknya, itu yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Namun, semakin ia berusaha tidak memikirkannya, nama itu justru semakin sering muncul di kepalanya.
Rasyid.
Siapa anak itu?
Adik Alya?
Keponakan?
Atau…
Raka segera menghentikan pikirannya sendiri.
Sudahlah.
Ia tidak punya alasan untuk memikirkan kehidupan pribadi karyawannya.
Pagi itu Raka sedang berjalan menuju ruang rapat ketika berpapasan dengan Naila yang baru saja keluar dari lift.
“Raka.”
Raka berhenti.
“Nanti sore jangan lupa datang ke rumah,” kata Naila.
“Kenapa?”
“Aku mau minta tolong lihat beberapa dokumen punya Mas Aditya.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Naila hendak berjalan pergi, tetapi tiba-tiba Raka memanggil.
“Nai.”
Naila menoleh.
“Hm?”
Raka terdiam sesaat.
Ia sebenarnya ingin bertanya.
Namun pertanyaan itu terasa terlalu pribadi.
“Temanmu yang kemarin…”
“Alya?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa?”
Raka memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Dia memang sering pulang cepat?”
Naila mengernyit.
“Kadang.”
“Karena…”
Raka berhenti.
Naila menunggu.
“Karena ada urusan keluarga,” lanjut Raka akhirnya.
Naila tersenyum kecil.
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Enggak.”
Raka langsung berbalik.
Namun Naila justru memanggilnya lagi.
“Raka.”
Ia menoleh.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini sering tanya soal Alya?”
Raka diam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi entah kenapa membuatnya merasa seperti baru saja tertangkap melakukan sesuatu.
“Aku cuma memastikan pekerjaan.”
Naila mengangkat alis.