Sore itu hujan turun cukup deras.
Raka baru saja keluar dari ruangannya ketika melihat Alya berdiri di dekat meja resepsionis.
Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Wajahnya yang biasanya ceria terlihat sedikit lelah.
“Iya, Nak.”
Raka yang kebetulan berjalan melewati tempat itu tanpa sengaja mendengar.
“Iya, Mama sudah mau pulang.”
Alya tersenyum kecil.
“Kamu jangan keluar rumah dulu. Tunggu Mama.”
Raka memperlambat langkah.
Sekali lagi ia mendengar panggilan itu.
Mama.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Bukan sekadar dugaan lagi.
Karena beberapa detik kemudian, seorang perempuan yang bekerja di bagian administrasi menghampiri Alya.
“Bu Alya, itu Rasyid lagi?”
Alya mengangguk.
“Iya. Katanya tadi agak pusing.”
“Anakmu memang sering khawatir kalau kamu belum pulang.”
Alya tersenyum.
“Iya. Dia memang begitu.”
Raka berhenti beberapa meter dari mereka.
Anakmu.
Dua kata sederhana itu terasa seperti suara yang tiba-tiba menggema di kepalanya.
Jadi…
Rasyid adalah anak Alya.
Raka menundukkan wajah.
Selama ini ia begitu penasaran.
Bahkan sempat bertanya-tanya siapa anak yang selalu menunggu Alya pulang.
Dan sekarang jawabannya sudah ada.
Namun anehnya, setelah mendapatkan jawaban itu, dadanya justru terasa sesak.
Ia kembali teringat percakapan kemarin.
“Rasyid itu…”
“Persis ayahnya.”
Kalau Rasyid adalah anak Alya…
berarti ada seorang ayah.
Dan untuk pertama kalinya, Raka berani menghubungkan semua potongan kecil yang selama ini ia abaikan.
Alya yang selalu terburu-buru pulang.
Telepon malam itu.
Suara anak yang memanggilnya Mama.
Kalimat tentang ayahnya.
Seseorang yang menjemputnya ketika hujan.
Semua potongan itu akhirnya menemukan tempatnya.
Raka menarik napas panjang.
Jangan-jangan…
Pikirannya bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu.
“Pak Raka?”
Suara Alya membuat Raka tersadar.
Alya sudah berdiri di hadapannya.
Raka menatapnya sebentar.
“Belum pulang?”
“Sebentar lagi.”
Alya tersenyum.