Pagi yang Berubah.
Pagi itu, kantor masih belum terlalu ramai.
Beberapa karyawan baru saja datang. Suara langkah kaki terdengar bersahutan di sepanjang lorong, diselingi suara mesin kopi dari pantry dan sapaan singkat antarpegawai.
Raka berjalan menuju ruangannya dengan langkah seperti biasa.
Tegas.
Tenang.
Tidak banyak bicara.
Namun ada satu hal yang berbeda pagi itu.
Ia tidak lagi mencari satu wajah yang selama beberapa minggu terakhir tanpa sadar selalu ia cari.
Alya.
Perempuan itu biasanya sudah berada di mejanya atau sedang berjalan membawa beberapa dokumen ketika Raka tiba.
Entah mengapa, selama ini mata Raka selalu sempat menemukannya.
Tetapi pagi ini, ia sengaja tidak melihat ke arah sana.
Bukan karena Alya melakukan kesalahan.
Bukan pula karena ia marah.
Justru karena tidak ada alasan untuk marah kepada perempuan itu.
Raka yang harus mengubah sesuatu.
Setelah mengetahui bahwa Alya telah menikah dan memiliki seorang anak, ada satu kenyataan yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Alya bukan perempuan yang sedang menunggu seseorang.
Alya sudah menjadi istri orang lain.
Dan perasaan yang tumbuh di dalam dirinya harus berhenti sebelum berubah menjadi sesuatu yang lebih jauh.
“Pagi, Pak Raka.”
Suara itu membuat langkah Raka berhenti.
Alya berdiri beberapa meter di depannya sambil membawa setumpuk dokumen.
Ia mengenakan hijab warna abu-abu muda dan pakaian kerja sederhana. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tetapi seperti biasa, senyum kecil tetap terpasang.
Untuk sesaat, Raka hanya menatapnya.
Ada dorongan untuk tersenyum seperti biasanya.
Namun ia menahannya.
“Pagi.”
Hanya itu.
Singkat.
Alya sedikit mengernyit.
Biasanya Raka akan menjawab dengan anggukan atau kalimat pendek lainnya. Tidak pernah terlalu ramah, memang.
Tetapi pagi ini entah mengapa terasa berbeda.
“Ini dokumen laporan yang kemarin, Pak. Sudah saya revisi.”
Raka menerima dokumen tersebut tanpa banyak bicara.
“Taruh di meja saya.”
“Baik.”
Alya masih berdiri di tempatnya.
Raka kemudian berjalan melewatinya.
Tidak ada pertanyaan lain.
Tidak ada komentar tentang laporan.
Tidak ada teguran ringan seperti yang kadang terjadi sebelumnya.
Alya memandang punggung Raka yang semakin jauh.
Ia mengernyit lagi.
Kenapa Pak Raka?
Beberapa jam kemudian, rapat dimulai.
Alya duduk di salah satu sisi meja bersama beberapa kepala bagian lainnya.
Raka berada di ujung meja.
Seperti biasa, pembahasan berlangsung serius.
Satu per satu laporan dipresentasikan.
Ketika sampai pada bagian Alya, ia menjelaskan hasil pekerjaannya dengan tenang.
“Untuk bagian ini, saya sudah sesuaikan dengan data bulan sebelumnya. Ada sedikit perubahan di angka pengeluaran, tetapi setelah saya cek ulang, datanya sudah sesuai.”
Raka melihat layar presentasi.
“Berapa selisihnya?”
“Sekitar dua koma tiga persen.”
“Penyebabnya?”
“Penyesuaian biaya operasional.”
“Sudah diverifikasi?”
“Sudah, Pak.”
Raka mengangguk.
“Baik. Lanjutkan.”
Alya melanjutkan penjelasan.
Biasanya, Raka akan sesekali memberikan komentar atau pertanyaan tambahan. Bahkan pernah beberapa kali mereka berdebat kecil mengenai sebuah angka dalam laporan.
Namun hari itu tidak.
Raka sangat profesional.
Terlalu profesional.
Sampai Alya merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang baru pertama kali bekerja dengannya.
Setelah rapat selesai, semua orang mulai meninggalkan ruangan.
Alya membereskan laptopnya.
Salah seorang rekan kerja mendekatinya.
“Ly.”
“Iya?”
“Pak Raka kenapa?”
Alya menoleh.
“Kenapa memangnya?”
“Dingin banget.”
Alya tertawa kecil.
“Memangnya biasanya nggak dingin?”
“Beda.”
Alya terdiam sebentar.
Matanya tanpa sadar mencari Raka.
Laki-laki itu sedang berbicara dengan Dito di dekat pintu.
Tidak sekali pun ia menoleh ke arahnya.
Alya kembali menatap laptopnya.
“Mungkin lagi banyak pikiran.”
“Kayaknya.”
Rekannya pergi.
Alya memasukkan laptop ke dalam tas.
Namun pikirannya masih tertinggal pada satu hal.
Beberapa hari terakhir memang terasa berbeda.
Raka tidak lagi sering melewati mejanya.
Tidak lagi bertanya apakah laporan sudah selesai.
Tidak lagi menegur hal-hal kecil seperti sebelumnya.
Bahkan ketika mereka berpapasan, Raka selalu terlihat seperti sedang terburu-buru.
Padahal mereka bekerja di tempat yang sama.
Alya menghela napas.
Mungkin aku melakukan kesalahan.
Ia membuka kembali beberapa dokumen di laptopnya.
Memeriksa satu per satu.
Tidak ada yang salah.
Alya mengernyit.
“Kenapa aku jadi ikut kepikiran?”
Ia menggeleng pelan.
“Sudahlah.”
Baginya, Raka adalah atasannya.
Tidak lebih.
Kalau laki-laki itu sedang berubah sikap, mungkin memang ada urusan lain yang tidak diketahuinya.
Alya memilih tidak memikirkannya lagi.
Ia kembali bekerja.
Tidak mengetahui bahwa di balik sikap dingin itu, Raka sedang berusaha keras melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar bersikap profesional.
Ia sedang berusaha memadamkan perasaan yang terlanjur tumbuh.
Perasaan yang bahkan tidak pernah diminta oleh Alya.
Dan justru karena itu, Raka tahu…
Alya tidak pantas disalahkan.
Dirinya sendirilah yang harus belajar mundur.
Bukan karena ia tidak menyukai Alya.
Tetapi karena ia menyukainya terlalu jauh untuk berani menghancurkan batas yang seharusnya dijaga.
Menjadi Terlalu Profesional.
Menjelang siang, suasana kantor mulai lebih sibuk.
Rapat pagi sudah selesai, tetapi beberapa pekerjaan masih harus diselesaikan sebelum jam makan siang. Orang-orang berlalu-lalang membawa dokumen, beberapa telepon berdering dari ruang kerja masing-masing, sementara suara ketikan terdengar hampir dari setiap sudut ruangan.
Alya kembali ke mejanya.
Namun pikirannya masih tertinggal pada sikap Raka sejak pagi.
Ia membuka dokumen di layar komputer, mencoba memusatkan perhatian.
Pagi.
Hanya satu kata.
Padahal biasanya Raka memang tidak banyak bicara kepadanya.
Tetapi entah mengapa pagi ini terasa berbeda.
Alya menggeleng kecil.
“Sudahlah.”
Ia mencoba kembali bekerja.
Tidak lama kemudian, Dito datang membawa beberapa berkas.
“Bu Alya, ini data yang tadi diminta Pak Raka.”
“Oh, sini.”
Alya menerima berkas itu.