Nanti, Kalau Kita

Pitri Yanti
Chapter #11

Seratus Juta dan Rencana yang Tertunda

Malam itu, Alya baru saja selesai membereskan meja makan ketika Dimas masuk ke rumah.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh.

Rasyid sudah tidur sejak setengah jam lalu. Besok pagi ia masih harus sekolah, sementara Alya sendiri harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja.

Alya mengambilkan segelas air untuk Dimas.

“Mas mau makan? Aku masih bisa panasin.”

Dimas meletakkan kunci mobil di atas meja.

“Nggak usah.”

Alya mengangguk.

Ia tidak bertanya dari mana Dimas pulang. Akhir-akhir ini pertanyaan seperti itu sering hanya berakhir dengan jawaban pendek.

Dimas duduk di sofa sambil membuka ponselnya.

Beberapa detik kemudian, ia menghela napas.

“Lya.”

“Hm?”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Nada suara Dimas membuat Alya menghentikan langkahnya.

Ia menoleh.

“Ada apa?”

Dimas diam sebentar sebelum berkata,

“Tadi Ibu telepon.”

Alya hanya mengangguk.

“Ibu minta bantuan.”

“Bantuan apa?”

“Adikku mau buka bisnis baru.”

Alya berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sofa.

“Bisnis apa?”

“Katanya usaha kuliner. Sudah ada tempatnya. Tinggal modal tambahan.”

Alya mengangguk pelan.

“Terus?”

Dimas menatapnya.

“Ibu minta kita pinjamkan seratus juta.”

Alya terdiam.

Untuk beberapa detik, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

“Seratus juta?”

“Iya.”

“Dari tabungan kita?”

Dimas mengangguk.

Alya menunduk.

Seratus juta.

Jumlah yang bagi orang lain mungkin hanya angka di rekening.

Tetapi bagi Alya, angka itu adalah hasil dari bertahun-tahun menahan keinginan.

Sedikit demi sedikit.

Setiap bulan.

Ada uang yang sengaja tidak mereka sentuh.

Ada bonus yang tidak digunakan untuk membeli sesuatu.

Ada uang lembur yang Alya sisihkan diam-diam.

Mereka menabung bukan karena hidup mereka berlebihan.

Mereka menabung karena tahu suatu hari Rasyid akan kuliah.

Dan biaya kuliah anak mereka tidak akan sedikit.

Selain itu, ada satu rencana lain yang selama ini Alya simpan rapat-rapat.

Ia ingin suatu hari berhenti bekerja di kantor.

Bukan karena ia tidak menyukai pekerjaannya.

Justru sebaliknya.

Tetapi Alya ingin memiliki usaha sendiri.

Sesuatu yang bisa ia jalankan dari rumah.

Sesuatu yang bisa membuatnya tetap menghasilkan tanpa harus terus pulang malam dan meninggalkan Rasyid.

Ia sudah beberapa kali melihat-lihat peluang usaha.

Sudah mencatat perkiraan modal.

Sudah menghitung keuntungan.

Belum besar.

Tetapi cukup untuk menjadi awal.

Dan uang yang mereka tabung itu adalah bagian dari rencananya.

“Mas…” suara Alya terdengar pelan.

“Aku rasa kita jangan dulu.”

Dimas langsung mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena uang itu sudah kita punya rencana.”

“Rencana apa?”

“Untuk Rasyid.”

Dimas menghela napas.

“Rasyid masih tiga belas tahun.”

“Justru karena masih tiga belas, kita harus mulai menyiapkan dari sekarang.”

“Masih lama, Lya.”

“Waktu cepat sekali.”

Dimas terdiam.

Alya melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.

“Kita tahu biaya kuliah nanti nggak sedikit. Aku cuma nggak mau ketika waktunya tiba, kita malah bingung harus mencari dari mana.”

Dimas menyandarkan tubuhnya.

“Adikku juga sedang butuh.”

“Aku tahu.”

“Dia cuma pinjam.”

“Kalau memang cuma pinjam, kapan dikembalikan?”

Dimas diam.

Alya menatapnya.

“Sudah ada perjanjiannya?”

“Nanti dibicarakan.”

“Berapa lama?”

Lihat selengkapnya