Narasi Senja

Alima Rose
Chapter #3

Senyum Bunga Matahari

Dini hari yang sunyi seperti menabuhkan genderang perang. Bukan dengan siapa-siapa, tapi dengan dirinya sendiri. Chana yang saat itu mengenakan blus tipis dengan celana linen hitam, membuat dingin merasuki tulangnya. Perjalanan ini terlalu impulsif, bukan seperti dirinya yang selalu penuh rencana. Tak ada waktu sekedar mengambil jaket apalagi membelinya. Jadi ketika tangan pria itu merangkul punggung tangannya, ia seperti dihinggapi matahari.

"A-a-ku su-sudah menduga kamu akan kembali. Aku mencarimu ke mana-mana." Pria itu mengawali pembicaraan dengan terbata-bata. Dari balik bola matanya terlihat bulir-bulir air berdesakan ingin jatuh di pipi. Pria itu tak berusaha menahannya, aliran itu semakin deras hingga ia berjongkok, menutupi matanya dengan lengan tangan hingga basah kuyup. Matahari itu perlahan menumpahkan hujan deras. Dari ekspresinya saja ia menemukan sosok yang sangat berbeda dengan Ara. Seratus delapan puluh derajat berbeda.

Dahi Chana mengernyit. Ia diam saja sambil mengamati pria yang tingginya lebih dari 180 senti. Tidak satu pun wajahnya ada di memorinya. Tapi tubuhnya kembali bereaksi aneh sekali. Perasaan ingin memeluknya bermunculan. Segera ia cegah tangannya menghampiri tubuh pria itu dengan banyak pertanyaan ada apa dengannya hari ini.

"Ras, kukira kamu sudah tidak ada di dunia ini. Kukira kamu...," ucapnya di tengah sesenggukan serambi menyeka air mata lalu kembali berdiri.. Chana segera menyetopnya dengan mendekap mulut pria itu, menggeretnya masuk ke dalam rumah pria itu. Menutup pagar, baru melepaskan tangan. Chana segera menyadari Ara berada tepat di seberang rumah itu. Ia tentu tak ingin Ara tahu.

"Ras? Siapa Ras?" Pertanyaan Chana menghentikan tangisnya.

"Rasi, jangan bercanda dong! Kamu tujuh tahun entah di mana. Setiap akhir pekan aku selalu ke tempat-tempat yang mungkin kamu ada, tapi nihil. Lalu tiba-tiba datang hari ini, kamu ternyata datang ke sini. Aku dengar suara pintu gembok yang dibuka, langsung keluar," katanya seperti melemparkan lantunan rapping. Memang ketika ia sudah nyaris terlelap, matanya langsung menyala begitu mendengar suara gerbang dibuka.

"Aku boleh masuk?" Tanya Chana memberanikan diri. Asumsinya Rasi itu perempuan mirip dirinya yang juga ada di dalam foto bersama pria di depannya. Mau tak mau ia harus mencari tahu lebih lanjut. Baginya, ia seperti sedang penelitian dengan dirinya sendiri sebagai subjek, ya autoetnografi, satu-satunya metode penelitian yang hanya ia dengar di mata kuliah metode penelitian saja tanpa mencoba mempraktikkan.

Chana melangkah mengikuti pria itu. Kepalanya menatap tubuh pria yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Pria itu berhenti sebentar lalu menghalanginya masuk. Ia disuruh menunggu sejenak, selang lima menit kemudian pria itu muncul dengan senyum matahari lagi. Sungguh pria yang aneh, pikirnya. Memasuki rumahnya, Rasi bisa tahu kalau pria itu tak seperti stereotip di pikirannya dengan barang-barang tak beraturan di dalam rumahnya. Rumahnya rapi, bersih, dengan sentuhan japandi. Kontras sekali dengan rumahnya. Di kabinet televisi tampak beberapa frame foto terpajang.

"Rumah di depanmu itu rumah siapa?" Tanya Chana sambil melihat-lihat frame foto, mengangkatnya bergantian seperti mencari sesuatu.

"Gimana sih, rumah kamu. Aku nggak ngeliat tulisan dijual."

Pernyataannya yang tegas tanpa keraguan membuatnya jadi ragu dengan dirinya sendiri. Frame foto yang ia pegang pun sampai tak sengaja jatuh. Tapi, apa mungkin pria itu jauh lebih mengenal dirinya dibandingkan dirinya sendiri? Dalam konsep diri yang dikenal dengan Johari Window memang ada blind area, satu sisi manusia yang dia sendiri tidak tahu, tapi orang lain tahu. Tapi apakah sampai perkara identitas?

"Eh, kamu nggak apa-apa kan?" Pria itu menghalanginya membersihkan frame foto yang pecah. Setelah ia amati, isinya foto pria itu dengan dirinya. Kali ini mereka seperti di sebuah cafe, keduanya juga memakai warna senada, kemeja warna bata dengan celana jeans hitam.

"Itu waktu kita semester dua. Aku masih simpen foto-foto kita yang lain juga. Pria di depan rumah tadi itu juga ada."

Lihat selengkapnya