Tidak ada yang ia takuti selain tibanya hari ini. Hari yang bagi Ara mengubah tatanan hidupnya dengan sempurna. Ketika ia terbangun di atas sofa tua di rumah ini, kepalanya penuh sesak amarah dan tanda tanya. Baru tujuh tahun setelahnya ia berani kembali menginjakkan kaki di rumah ini. Saat Chana sibuk dengan penelitian-penelitiannya, Ara putuskan untuk mampir, menghadapi dirinya sendiri yang hampir lebur. Ia selalu memikul beban memberitahu arah mata angin yang tepat untuk Chana, tentu tanpa permintaan dari kekasihnya itu. Namun, lambat laun lama-lama jiwanya kelelahan juga. Apalagi harus diam-diam merahasiakan semuanya.
"Aku izin ya, Pak. Sudah saya lampirkan," kata Ara ketika menghadap atasannya yang seorang Komisaris Besar kemarin sore.
"Besok ya?" Tanya atasannya itu seakan sudah tahu apa yang dimaksud Ara.
Ara mengangguk. Setelah berbincang sebentar soal progres kasus yang ia tangani, Ara segera beranjak pergi menghampiri Chana. Karena Chana ternyata membatalkan janji, ia bisa berangkat lebih awal. Dalam benak Ara, ia sebenarnya khawatir beberapa hari ini kekasihnya sulit ditemui. Tapi ia juga lega, Ara bisa memutuskan sesuatu. Sebelumnya, tepatnya setelah kecelakaan tujuh tahun lalu, Chana seperti hilang arah. Matanya selalu memperlihatkan ada yang mencuri diri kekasihnya. Setiap kali ditanya mengenai apa yang akan ia lakukan di masa mendatang, gadis itu mengubah topik terkadang jujur kalau tak tahu harus berbuat apa. Daripada melihat Chana yang seringnya tergeletak di kasur tanpa mau melakukan apa-apa, Ara mengirimkan surat lamaran kerja atas nama Chana ke beberapa pusat studi. Begitulah awalnya Chana berkutat dengan riset-riset soal Artificial Intelligence.
Memang, bagi Chana membaca arah mata angin bukan perkara kecil. Arah mata angin seperti berjalan bersama hidupnya, ia hanya bisa mengira-ngira tanpa tahu kebenarannya. Tapi satu yang pasti, Hujan membawanya semakin ke utara, jauh dari titik semula yang antah berantah. Pria yang wajahnya selalu pagi hari itu memang tampak familiar, termasuk lingkungan rumah ini. Atau mungkin memori tentangnya benar ada, hanya saja terlalu samar karena hampir tujuh tahun tidak menginjakkan kaki di Jogja. Ia memang begitu, suka mengaburkan banyak hal. Termasuk hari lahirnya sendiri.
Dengan serangkaian bangun-tidur-bangun Chana menghabiskan dini hari kelabu, tanpa ada keputusan hitam atau putih. Sampai pukul tujuh pagi, Chana juga tak melihat Ara pergi dari rumah itu. Sedangkan Hujan tampak menghilang dari rumahnya sendiri. Tak ada jejak Hujan di lantai satu atau dua. Tak ada posisi benda-benda yang berubah juga dari kemarin. Selang setengah jam, Hujan muncul dari pintu depan. Tangannya menenteng goodie bag, yang ketika dibuka isinya dua bungkus makanan dan beragam jajan pasar.
"Makan dulu ya! Aku habis ini ada meeting di kampus, kamu mau di sini saja atau ikut?" Kemarin, Hujan sempat bercerita soal pekerjaannya yang ternyata tak jauh beda. Hanya saja, Hujan dosen di salah satu kampus di Jogja. Sedangkan dirinya murni senior researcher yang belum tahu kapan mau lanjut sekolah lagi. Ia masih was-was dengan setumpuk administrasi yang harus diselesaikan saat menjadi dosen, belum lagi bersosialisasi dengan mahasiswa yang dibimbing.
Chana merespon makanan yang tersaji terlebih dahulu, ia membuka satu bungkus makanan yang dibungkus daun jati. Ia tak tahu apa namanya. Di kepalanya hanya tersirat nasi campur dengan komposisi yang berbeda. Ia juga baru ingat, perutnya memainkan musik remix sejak semalam karena tak sempat makan di malam hari. Hanya beberapa camilan aneka ragam kerupuk di meja Hujan.
"Ini sego berkat," ucap Hujan seperti tahu isi kepala Chana. "Jadi ikut nggak?"
Chana mengangguk. Ia mengajukan syarat agar Hujan mengecek rumah seberang terlebih dahulu sebelum berangkat karena ia tak ingin ketahuan. "Aku baru kenal kamu dini hari tadi, tapi kenapa seperti kita sudah kenal lama ya?"