Naraya And The Dream Who Save Her Life

Fauziyah Nur Aulia
Chapter #15

Empat Belas

"Mai apa kau yakin tidak apa-apa mengantarkanku pulang?" Mai menoleh ke arahku lalu terkekeh. "Tentu saja tidak apa-apa, kita kan teman, kau tidak perlu merasa sungkan." jawabnya. Mai mengayuh sepedanya dengan cepat dan meninggalkanku di belakang.

"Naraya kau payah sekali. Bahkan mengayuh sepeda saja kau kalah denganku!" Mendengarnya aku menjadi tertantang dan lebih bersemangat mengayuh sepeda milik Mai yang aku pinjam. Aku terus mengayuh sekuat mungkin dan membuktikan pada Mai jika aku tidak payah.

Tubuhku membeku saat kami sudah berada di depan rumah. Mai tampak bingung dengan perubahan reaksiku sekarang. Aku hanya menatapnya dan berusaha menyampaikan padanya jika aku tidak ingin ke sana. Namun, dengan cepat Mai merangkulku dan menggiringku sampai ke depan pintu. "Ketuklah Naraya. Tidak apa-apa, ada aku." Mai terus menerus berusaha meyakinkanku agar aku menggerakkan tangan dan mengetuk pintu tua itu.

"Ah kau lama sekali." Mai tanpa ragu mengetuk pintu tua rumahku beberapa kali, sampai akhirnya terdengar sebuah suara sahutan dari dalam. Mendengar derap langkah yang mendekat aku langsung berlari ke belakang punggung Mai seakan seorang mangsa bersembunyi dari pemburu. 

"Naraya ke mana saja kau? Apa kau tidak tahu Ibu sangat mengkhawatirkanmu. Lain kali bawalah ponselmu agar Ibu bisa menghubungimu. Ah apa kau teman Naraya?" Ibu beralih menatap Mai lekat dan tersenyum menyambut kedatangan kami berdua. "Ya, namaku Mai. Teman sekelas Naraya." Rasanya sangatlah aneh Ibu bereaksi seperti itu, wajah yang biasanya cemberut setiap harinya kini tersenyum begitu lebar. Kurasa aku benar-benar sudah berada di surga.

"Ini adalah makanan kesukaanmu, makanlah yang banyak, Mai juga ya?" Ibu memberikan beberapa macam hidangan kesukaanku di meja persegi yang biasanya terlihat sepi. "Ah, Ibumu kurasa sudah berubah dari ceritamu. Bersyukurlah ada keajaiban yang membuka hatinya." Mai berbisik pelan sambil menepuk pelan pundakku, seolah menyadari aku sedang terheran-heran dengan Ibu yang tiba-tiba seperti ini. 

"Bagaimana sekolah kalian? Apa menyenangkan? Besok adalah hari pertama masuk pada musim semi bukan?" Ibu bertanya sambil menatap kami berdua bergantian. Aku menunduk sedikit takut, bahkan tubuhku sampai bergetar karena mengingat kejadian penyiksaan dan pembulian di sekolah. "Tentu saja, semuanya sangat menyenangkan." Sebuah senyuman tercetak di wajah Ibu saat Mai menceritakan bagaimana keadaan sekolah walau apa yang dia katakan itu kebohongan. Tapi Mai bercerita seakan benar-benar terjadi. Bukankah itu menganggumkan?

Kami menghabiskan waktu bersama untuk saling bercerita satu sama lain. Dan lebih mengenal masing-masing. Sampai akhirnya suara Ibu menghentikan tawaanku. "Hari sudah malam, apa Mai menginap di sini?" Aku melirik Mai yang terlihat begitu senang. Bahkan sisa tawanya masih menghias wajah manisnya. "Aku akan pulang Bu." Mai bangkit dan melangkahkan kakinya keluar.

"Apa itu sepeda milikmu Mai? Apa Naraya meminjamnya?" Ibu menatap dua sepeda yang berada di depan rumah. Ya, aku tidak memiliki sepeda, karena itu aku harus naik bus untuk ke sekolah. Aku masih menunduk karena ada rasa takut di dalam hati. Namun suara Mai benar-benar membuatku tenang. "Anggap saja itu adalah hadiah ulang tahun untuk Naraya tahun ini." Mai melambaikan tangannya dan mengayuh sepeda dengan cepat sampai tak terasa sudah menghilang di persimpangan.

"Kenapa kamu tidak pernah membawa Mai ke rumah? Ibu khawatir jika kau tidak memiliki teman waktu itu." Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Tanganku sudah bergerak membersihkan sisa makanan yang ada di meja, tetapi tangan Ibu sudah menepisku dengan cepat. "Tidurlah, besok kau sekolah bukan? Biarkan saja ibu yang membersihkannya oke?" Ibu mengusap rambutku lembut dan mencium keningku, tanda ucapan selamat tidur. Aku merekahkan senyuman sangat lebar dan berlari senang masuk ke dalam ruang tidurku.

Aku menjatuhkan tubuhku pada kasur empuk berwarna biru dan menatap langit-langit kamar dengan senyuman yang belum pudar. Bukankan sangat menyenangkan jika setiap hari Ibu seperti itu? Aku benar-benar sangat bersyukur, karena Tuhan memberikan sebuah kebahagiaan yang benar-benar di luar dugaanku. Tanpa sadar aku tertidur dengan rasa kebahagiaan.

***

Aku keluar dari kamarku dengan seragam sekolahku dan jaket merah milik Yondra. Seketika aku sangat merindukannya, apa aku bisa bertemu dengannya lagi? Jika ya, aku akan menceritakan semua kebahagiaan ini padanya. Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa Mai dan Ibu kemarin itu hanyalah sebuah mimpi? Kuharap bukanlah sebuah mimpi.

Lihat selengkapnya